IHSG Memerah 1,37 Persen di Sesi I, Sentimen Risk Off Dominasi Pasar Jelang Libur Panjang Idulfitri 1447 H

AKURAT.CO Menjelang libur panjang Idulfitri 1447 Hijriah yang tinggal dua hari lagi, pasar saham Indonesia mengalami koreksi dan berada di zona merah sejak pembukaan perdagangan hingga penutupan sesi pertama.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah -1,37% atau -97,81 poin ke level 7.039,41. Beberapa saham yang menjadi penekan terbesar adalah DSSA (-7,40%), BRMS (-10,76%), AMMN (-5,86%), BREN (-3,17%), dan BBCA (-1,09%).
Menurut riset Eastpring Investment, seiring meningkatnya kehati-hatian investor pasar obligasi domestik turut mengalami tekanan, dengan imbal hasil SBN tenor 5 tahun naik ke level 6,55% dari 6,33% dan tenor 10 tahun meningkat 11 bps ke 6,91%.
Baca Juga: Hari ke-16 Perang AS-Iran, Berikut Update Kondisi Pasar Keuangan RI dan Global
Secara keseluruhan, sentimen domestik cenderung risk-off di tengah meningkatnya volatilitas global, khususnya terkait pergerakan harga minyak.
Pada saat yang sama, pemerintah Indonesia sempat membahas opsi untuk sementara memperluas defisit fiskal, namun hingga kini belum mendapatkan persetujuan dari Presiden Prabowo.
"Pemerintah sedang mempersiapkan rencana respons jika harga energi yang tinggi bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama," tulis riset tersebut, Senin (16/3/2026).
Kenaikan harga minyak menekan pasar saham Indonesia, karena kekhawatiran tentang inflasi dan kondisi fiskal kembali muncul. Hal ini, pada gilirannya, telah menurunkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek dan mendorong penyesuaian valuasi di pasar saham.
Namun, pelemahan sejauh ini lebih mencerminkan penyesuaian makro (macro-driven reset) ketimbang indikasi pelemahan fundamental dalam kinerja pendapatan perusahaan.
Dari perspektif regional, tekanan di pasar finansial Indonesia juga sejalan dengan dinamika yang dialami sebagian besar pasar Asia.
Secara umum, negara-negara Asia adalah konsumen bahan bakar fosil dari Timur Tengah dan secara historis kinerja pasar di kawasan ini cenderung tertekan selama periode kenaikan harga minyak yang dipicu oleh gangguan pasokan.
Ke depan, pemulihan pasar yang lebih berkelanjutan membutuhkan penurunan harga energi dan sinyal kebijakan guna memulihkan kepercayaan terhadap prospek pertumbuhan dan valuasi pasar.
Kejelasan arah kebijakan dan meredanya volatilitas eksternal diharapkan secara bertahap meningkatkan sentimen investor setelah libur Idulfitri.
Dengan prospek yang diperkirakan akan semakin jelas dalam periode mendatang, tingkat kepercayaan terhadap pasar domestik diharapkan meningkat sehingga membuka ruang bagi stabilisasi maupun perbaikan kinerja aset finansial.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 8Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








