Akurat Logo

AI Jadi Ancaman terhadap Lapangan Kerja, Pengusaha Harus Manfaatkan Bonus Demografi

Ayu Rachmaningtyas | 31 Oktober 2026, 21:07 WIB
AI Jadi Ancaman terhadap Lapangan Kerja, Pengusaha Harus Manfaatkan Bonus Demografi
Ketua Dewan Pembina Rembuk Pemuda, Rahayu Saraswati.

AKURAT.CO Kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) harus dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan membuka peluang ekonomi, bukan justru menghilangkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Ketua Dewan Pembina Rembuk Pemuda, Rahayu Saraswati, mengatakan generasi muda Indonesia telah menunjukkan kontribusi dalam berbagai sektor, mulai dari kewirausahaan, penelitian, pendidikan hingga bidang lainnya.

"Banyak yang sudah menjadi pengusaha membuka lapangan pekerjaan, banyak yang sudah menjadi researcher, apa periset, banyak yang sudah menjadi akademisi, banyak yang masuk dalam bidang mereka masing-masing berkontribusi. Sudah berkontribusi," kata Rahayu dalam Rembuk Nasional Pemuda Indonesia ke-3 di THE TRIBRATA, Hotel & Convention Center, Jakarta Selatan, Sabtu (31/10/2026).

Baca Juga: 5,48 Juta Pekerja Terserap di Kuartal III-2026, Menteri Rosan Soroti Kualitas SDM

Dia pun mengingatkan adanya tantangan dalam memanfaatkan bonus demografi, terutama ketika teknologi dari negara yang kekurangan tenaga kerja diterapkan di Indonesia yang memiliki jumlah penduduk usia produktif besar. Penggunaan teknologi tanpa mempertimbangkan kondisi ketenagakerjaan berpotensi menimbulkan persoalan baru.

"Mereka datang dari negara-negara yang memiliki lebih banyak lapangan pekerjaan daripada manusianya. Kalau kita menggunakan teknologi itu di Indonesia, yang di mana kita punya memiliki lebih banyak manusia daripada lapangan pekerjaan, akan terjadi permasalahan yang besar," ujarnya.

Oleh karena itu, dia mengajak kalangan pengusaha untuk mempertimbangkan dampak penerapan teknologi terhadap keberlangsungan lapangan pekerjaan. Pemanfaatan bonus demografi tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, diperlukan kolaborasi lintas sektor, termasuk dunia usaha, akademisi, dan organisasi kepemudaan.

"Kita harus berkolaborasi, harus bekerja sama, tidak bisa pemerintah sendiri, tidak bisa private sector sendiri. Ini semuanya dari lintas sektor, bahkan bisa dikatakan heksaheliks, itu harus bekerja sama," ucapnya.

Baca Juga: Pertamina Perkuat Kerja Sama Hulu Migas di Algeria, Bidik Peluang Bisnis Baru

Rembuk Pemuda menjadi salah satu wadah untuk mempertemukan generasi muda dari berbagai latar belakang, guna merumuskan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

Dengan memiliki perwakilan di 29 provinsi, dia meyakini organisasi tersebut akan menghimpun aspirasi dan masukan dari daerah untuk disampaikan kepada pihak terkait, baik pemda maupun pusat.

Masukan tersebut mencakup berbagai persoalan, seperti penciptaan lapangan pekerjaan, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hilirisasi, industri, kebijakan fiskal, pertanian, hingga perkebunan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.