Moody’s Tahan Rating RI Baa2, Outlook Negatif Jadi Alarm Fiskal

AKURAT.CO Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service kembali mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2, satu tingkat di atas batas investment grade.
Namun, lembaga tersebut menyesuaikan outlook dari stabil menjadi negatif, menandakan meningkatnya tantangan yang harus dikelola pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal dan kredibilitas kebijakan ekonomi.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Deni Surjantoro menyampaikan keputusan tersebut merupakan hasil akhir asesmen komprehensif yang melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga, termasuk Kemenko Perekonomian, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, BP BUMN, Danantara Indonesia, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.
"Tentunya afirmasi peringkat ini menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia masih dinilai kuat di tengah dinamika global yang menantang," ucapnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Diketahui, dalam laporannya, Moody’s memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil Indonesia akan tetap stabil dalam jangka menengah. Faktor pendukungnya antara lain struktur demografi yang produktif serta kekayaan sumber daya alam yang menopang aktivitas ekonomi.
Baca Juga: Purbaya: Tanpa Wamenkeu Baru, Koordinasi Kemenkeu Tetap Jalan
Meski demikian, perubahan outlook menjadi negatif merefleksikan perhatian lembaga tersebut terhadap sejumlah risiko, terutama terkait ruang fiskal pemerintah dan kebutuhan menjaga kualitas koordinasi kebijakan di tengah percepatan reformasi ekonomi.
Moody’s menilai beban utang pemerintah sejauh ini masih terkendali berkat kebijakan fiskal dan moneter yang relatif hati-hati serta inflasi yang berada dalam sasaran.
Namun, lembaga pemeringkat itu menekankan pentingnya memperkuat basis penerimaan negara guna memastikan pembiayaan belanja prioritas tetap berkelanjutan.
Tanpa peningkatan penerimaan yang memadai, tekanan terhadap defisit dan kebutuhan pembiayaan dapat mempersempit fleksibilitas fiskal di masa depan.
Selain aspek fiskal, Moody’s juga menyoroti urgensi menjaga prediktabilitas kebijakan dan komunikasi publik.
Di tengah berbagai inisiatif percepatan pertumbuhan dan penataan kelembagaan ekonomi, konsistensi arah kebijakan dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan pasar dan meminimalkan volatilitas.
Oleh karena itu, koordinasi antar kementerian dan lembaga disebut menjadi kunci agar reformasi yang berjalan tidak menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha dan investor.
Baca Juga: DHE SDA Wajib Masuk Himbara Mulai 2026, Kemenkeu Siap Jaga Rupiah
"Pemerintah memahami catatan tersebut dan menegaskan komitmen untuk terus melakukan transformasi ekonomi serta mengelola risiko secara hati-hati. Sinergi dengan Bank Indonesia terus diperkuat guna menjaga stabilitas harga, nilai tukar, dan pasar keuangan. Di sisi lain, langkah debottlenecking terhadap hambatan dunia usaha disebut terus digenjot agar aktivitas investasi dan produksi dapat meningkat," paparnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6Saran Meningkatkan Kualitas dan Pemanfaatan Buku Teks dalam Pembelajaran
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon







