Bahaya Telur Mentah untuk Bayi, Ini Panduan Parenting Islam dalam Memberi Makan Anak

AKURAT.CO Telur dikenal sebagai salah satu sumber protein yang mudah ditemukan dan relatif terjangkau. Kandungan gizinya juga bermanfaat untuk mendukung pertumbuhan anak. Namun, memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi bukanlah pilihan yang aman.
Di balik kandungan gizinya, telur yang tidak dimasak hingga matang berisiko membawa bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan keracunan makanan.
Anak-anak berusia di bawah lima tahun lebih rentan mengalami penyakit akibat makanan yang terkontaminasi. Infeksi tersebut dapat memicu diare, muntah, demam, hingga dehidrasi yang berbahaya bagi tubuh anak. Karena itu, orang tua perlu memahami cara mengolah makanan dengan benar sebelum menyajikannya kepada bayi.
Baca Juga: Cara Mengajarkan 'Fiqih Perlindungan Diri' pada Anak Sejak Dini Menurut Islam
Lantas, bagaimana Islam memandang tanggung jawab orang tua dalam memberikan makanan kepada anak?
Pertama, utamakan makanan yang halal dan baik. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 168, Allah memerintahkan manusia untuk mengonsumsi makanan yang halal dan baik. Konsep halalan tayyiban tidak hanya berkaitan dengan status halal suatu bahan, tetapi juga mengingatkan pentingnya memperhatikan kualitas dan keamanan makanan.
Telur yang halal tetap perlu diolah secara higienis dan dimasak hingga matang. Orang tua sebaiknya tidak memberikan telur mentah, kuning telur yang masih cair, atau makanan yang mengandung telur mentah kepada bayi. Memilih bahan makanan yang baik perlu disertai cara pengolahan yang aman.
Kedua, sesuaikan makanan dengan usia bayi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) mulai sekitar usia enam bulan, sambil tetap melanjutkan pemberian ASI. Pada usia ini, telur dapat menjadi salah satu sumber protein hewani, asalkan dimasak matang dan teksturnya disesuaikan dengan kemampuan makan bayi.
Bayi di bawah enam bulan umumnya cukup mendapatkan ASI eksklusif, kecuali terdapat kondisi medis tertentu yang memerlukan arahan tenaga kesehatan. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru memperkenalkan makanan padat sebelum waktunya.
Ketiga, perhatikan kebersihan dan cara pengolahan. Sebelum menyiapkan makanan bayi, cuci tangan dan gunakan peralatan yang bersih. Pastikan putih dan kuning telur matang sempurna. Hindari pula kontaminasi silang antara telur mentah dan makanan yang sudah siap dikonsumsi. Setelah matang, sajikan dengan tekstur lembut sesuai usia bayi agar lebih mudah ditelan.
Keempat, kenalkan makanan secara bertahap dan amati respons anak. Telur dapat diperkenalkan dalam porsi kecil sebagai bagian dari menu yang beragam. Perhatikan kemungkinan munculnya reaksi alergi, seperti biduran, muntah, atau pembengkakan. Jika bayi mengalami kesulitan bernapas atau pembengkakan pada lidah dan tenggorokan, segera cari pertolongan medis darurat.
Kelima, jadikan waktu makan sebagai bagian dari pengasuhan yang penuh kasih sayang. Islam mengajarkan bahwa anak merupakan amanah yang harus dijaga. Memberikan makanan bukan sekadar memenuhi kebutuhan perut, melainkan juga memastikan anak memperoleh nutrisi yang cukup, aman, dan sesuai tahap perkembangannya.
Baca Juga: Belajar dari Kasus Bekasi: 5 Panduan Islami Memilih Pondok Pesantren yang Aman dan Amanah untuk Anak
Orang tua sebaiknya mengenali tanda lapar dan kenyang anak, menyuapi dengan sabar, serta tidak memaksa bayi menghabiskan makanan. Kebiasaan makan yang sehat dibangun melalui perhatian dan keteladanan, bukan tekanan.
Pada akhirnya, telur tidak perlu dihindari hanya karena bayi masih kecil. Bahan makanan ini dapat menjadi bagian dari MPASI yang bergizi apabila diberikan pada usia yang tepat dan dimasak hingga matang. Dengan memadukan prinsip halalan tayyiban, pengetahuan gizi, dan kasih sayang, orang tua dapat menjalankan tanggung jawab pengasuhan dengan lebih bijaksana. Sebab, menjaga kesehatan anak juga merupakan bagian penting dari ikhtiar merawat amanah yang diberikan Allah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 7Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 8Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi





