Akurat Logo

Gairah Tiga Pembatik Muda di Pekalongan, Berdikari dari Goresan Malam

Moehamad Dheny Permana | 27 Oktober 2026, 17:40 WIB
Gairah Tiga Pembatik Muda di Pekalongan, Berdikari dari Goresan Malam
Muchammad Iqbal Musyafak (kiri), Muhammad Furqan dan Dzaky Hammam Arofi berfose menggunakan pakaian batik hasil karya pribadi. (Akurat.co/Moehamad Dheny Permana)

AKURAT.CO Aroma khas malam yang dipanaskan menguar lembut, menyeruak di antara keheningan ruangan produksi Rumah Batik TBIG di kawasan Wiradesa, Pekalongan, Jawa Tengah.

Di sana, jemari kokoh Muhammad Furqan (25) tampak anggun menggenggam canting dengan presisi tinggi.

Aroma khas malam yang dipanaskan menguar lembut, menyeruak di antara keheningan ruangan produksi Rumah Batik TBIG di kawasan Wiradesa, Pekalongan, Jawa Tengah.

Ia tengah sibuk melakukan panembokan pada selembar kain katun berukuran 1 x 2,5 meter yang terbentang di atas sebilah kayu.

Bagi pemuda yang sempat mengarungi bangku kuliah Hukum Ekonomi Syariah ini, kain setengah jadi itu bukan sekadar lembaran benang, melainkan kanvas kehidupan yang sedang ia lukis dengan penuh kesabaran dan ketelitian.

Furqan tidak merajut mimpi ini sendirian. Di sudut lain tempat tersebut, dua karibnya—Dzaky Hammam Arofi dan Muchammad Iqbal Musyafak—turut membasahi hari dengan semangat yang sama.

Rumah Batik TBIG hadir sebagai kawah candradimuka yang menyemai bakat ketiganya.

Kehadiran program corporate social responsibility (CSR) dari PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menjadi bukti betapa krusialnya peran korporasi dalam melestarikan warisan leluhur.

Program CSR ini tidak sekadar menjadi seremoni belaka, melainkan pilar penting yang memberi wadah, ilmu, dan pijakan awal bagi generasi muda untuk melompati benteng keraguan dan berdikari dari warisan budaya bangsa.

Baca Juga: Harmonisasi Pendidikan dan Industri, Cara Cermat TBIG Merawat Jaringan Telekomunikasi dan Asa Anak Bangsa

Menjemput Pasar di Era Digital

Bagi generasi yang tumbuh di tengah bisingnya jagat maya, melakoni profesi pembatik sering kali dipandang sebelah mata—sebuah pekerjaan masa lalu yang dianggap usang dan berdebu.

Namun, di mata tiga pemuda Pekalongan ini, kesunyian peminat dari kalangan sebaya justru menjelma menjadi tantangan yang harus ditaklukkan.

Muhammad Furqan melakukan panembokan pada selembar kain katun. (Akurat.co/Moehamad Dheny Permana)

Iqbal, lulusan Kriya Seni Universitas Sebelas Maret, mengenang bagaimana Rumah Batik TBIG membentuk wawasannya.

Di sana, tempaan tidak hanya sebatas keterampilan menggoreskan canting, tetapi juga mempertajam kemampuan menganalisis serta menggambar motif batik yang selaras dengan denyut kebutuhan pasar.

"Jadi kita juga perlu belajar cari pasar, cari market. Tinggal gimana cara kita mau memposisikan diri," tutur Iqbal saat ditemui Akurat.co di Pekalongan, Jawa Tengah, dikutip Selasa (27/10/2026).

Sebagai jebolan Rumah Batik TBIG yang memiliki keterampilan unggul, ketiga pemuda ini berhasil melewati fase inkubasi hingga memperoleh bantuan permodalan dari Koperasi Bangun Bersama.

Berbekal perpaduan ilmu dan permodalan tersebut, mereka mantap melangkah menjalin kolaborasi untuk mendirikan sebuah UMKM batik.

Bagi Iqbal dan kawan-kawannya, menyelamatkan batik tak lagi sebatas meniup canting agar lelehan malam tetap cair.

Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mengemas sepotong kain tradisi menjadi narasi yang hidup di layar ponsel pintar generasi Z.

Baca Juga: Usai Penantian 13 Tahun, SMK HS Agung Temukan Industri Sesuai Jurusan TKJ di TBIG

"Kita bikin edukasi tentang batik, storytelling tentang batik, membatik, terutama pembatik Gen Z. Zaman sekarang kan udah sangat jarang pembatik-pembatik itu diminati anak-anak muda, nah kita coba bangkitin lagi era-era batik,” ucapnya.

Lewat akun-akun media sosial yang dikelola secara mandiri, ditopang jejaring yang diulurkan Rumah Batik TBIG dan Koperasi Bangun Bersama, lembar demi lembar kain batik karya mereka sukses menemui takdir baru.

Kerumitan proses yang selama ini ditakuti anak muda justru dipoles oleh Iqbal, Dzaky, dan Furqan menjadi sebuah kemewahan identitas.

"Jangan jadiin alasan susah bikin batik. Justru itu peluang besar buat kita para anak muda yang memang saingannya itu justru orang-orang dulu," tegas Iqbal.

Berdikari dari Goresan Malam

Bagi Dzaky, batik bukan sekadar benteng pertahanan budaya yang abstrak, melainkan realitas bernapas yang memberi penghidupan.

Di tengah rimba pencarian kerja pascak uliah yang kian curam dan membingungkan, selembar kain putih dan lelehan malam hadir menjadi ruang lapang untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Dzaky, lulusan Pendidikan Fisika Universitas Negeri Semarang tahun 2023, merasakan betul betapa besar manfaat pendidikan yang ia timba di Rumah Batik TBIG sejak 2017.

“Ini bisa jadi salah satu harapan saya buat jadi tempat saya menghidupi saya sendiri. Sangat bermanfaat sekali. Saya bisa mengembangkan diri untuk membikin bisnis batik," urai Dzaky.

Baca Juga: Sentuhan TBIG untuk Indonesia: Merajut Jaringan Komunikasi, Menghadirkan Sehat hingga Ujung Jayapura

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.