Akurat Logo

Biaya Marketplace Makin Tinggi, Brand Lokal Mulai Mengandalkan Website Sendiri

Idham Nur Indrajaya | 27 Oktober 2026, 18:21 WIB
Biaya Marketplace Makin Tinggi, Brand Lokal Mulai Mengandalkan Website Sendiri
Biaya marketplace menekan margin brand lokal. Simak alasan website sendiri menguatkan kendali penjualan dan hubungan pelanggan. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Biaya marketplace yang semakin besar membuat brand lokal perlu menghitung ulang strategi penjualan digital mereka. Di tengah persaingan dan promosi yang terus berlangsung, sebagian merek mulai memperkuat website sendiri untuk menjaga margin, mengelola pengalaman belanja, dan membangun hubungan langsung dengan pelanggan. Langkah ini bukan berarti meninggalkan marketplace, melainkan mengurangi ketergantungan pada satu kanal penjualan.

Selama ini, marketplace menjadi pintu masuk penting bagi brand untuk menjangkau konsumen. Penjual dapat memanfaatkan trafik yang sudah tersedia, sistem pembayaran, fitur promosi, hingga layanan pengiriman yang terintegrasi. Namun, kemudahan tersebut juga disertai sejumlah biaya yang perlu diperhitungkan agar penjualan tetap menghasilkan keuntungan.

Persoalannya bukan sekadar besarnya potongan dari setiap transaksi. Brand juga harus mempertimbangkan biaya iklan agar produk ditemukan konsumen, diskon untuk bersaing, biaya pemenuhan pesanan, serta risiko pembatalan dan retur. Ketika komponen tersebut terakumulasi, omzet yang terlihat besar belum tentu mencerminkan kondisi keuangan bisnis yang sehat.

Dalam The Mega-Sale Playbook, Fynd menyoroti pentingnya bagi pelaku ritel untuk melihat lebih jauh dari angka penjualan selama periode promosi. Perusahaan teknologi perdagangan tersebut menekankan bahwa tingginya nilai transaksi perlu diimbangi pengelolaan stok, biaya operasional, dan hubungan pelanggan agar lonjakan permintaan tidak justru menggerus margin. Panduan tersebut dapat dibaca melalui situs resmi Fynd.

Biaya Marketplace dan Potongan yang Menggerus Margin Brand

Biaya marketplace tidak hanya terdiri atas komisi dari setiap produk yang terjual. Bergantung pada platform, kategori produk, dan program yang diikuti, penjual dapat menghadapi biaya administrasi, layanan aplikasi, logistik, iklan berbayar, serta pengeluaran promosi lainnya. Karena skema setiap platform berbeda, brand perlu memeriksa rincian biaya yang benar-benar berlaku bagi tokonya.

Dalam materi yang dikutip dari Fynd, total potongan platform dan logistik disebut dapat mencapai 10–20 persen dari harga jual setelah penyesuaian biaya platform pada Mei 2026. Angka tersebut perlu dipahami sebagai gambaran yang disampaikan sumber, bukan tarif universal untuk seluruh marketplace, kategori produk, atau jenis penjual.

Perbedaan ini penting karena biaya layanan tidak selalu sama dengan seluruh pengeluaran penjualan daring. Komisi marketplace, misalnya, merupakan salah satu komponen potongan transaksi. Biaya iklan, subsidi diskon, pengemasan, biaya barang, dan layanan purnajual dapat menambah beban yang harus ditanggung brand. Ada pula biaya tertentu yang hanya berlaku ketika penjual mengikuti program khusus.

Bagi pemilik usaha, menghitung total biaya lebih berguna daripada hanya melihat persentase komisi. Brand perlu mengetahui berapa uang yang diterima setelah potongan, berapa biaya untuk menghasilkan dan mengirimkan produk, serta berapa sisa margin kontribusi dari setiap pesanan. Perhitungan ini membantu penjual menilai apakah program promosi benar-benar mendatangkan keuntungan atau hanya meningkatkan volume transaksi.

Mengapa Penjualan Tinggi Belum Tentu Menghasilkan Keuntungan?

Tekanan biaya dapat terasa semakin kuat ketika brand mengandalkan promosi untuk meningkatkan peringkat produk dan menarik pembeli. Diskon yang besar memang dapat mempercepat penjualan, tetapi keuntungan per pesanan bisa menipis jika harga jual turun sementara biaya barang, iklan, dan pemenuhan pesanan tetap tinggi. Jika situasi ini berlangsung terus-menerus, pertumbuhan omzet berisiko tidak sejalan dengan pertumbuhan laba.

Dalam konteks tersebut, Ronak Modi, Chief Business Officer - Global, Fynd, menekankan bahwa momen promosi juga berkaitan erat dengan kesiapan operasional dan pengelolaan pelanggan. Ia menyampaikan:

“Harbolnas selalu dipandang sebagai persoalan isu permintaan, padahal bagi brand momen ini sebenarnya berkaitan erat dengan operasional mereka. Promo bisa mendatangkan volume, tetapi yang menentukan apakah volume tersebut menjadi nilai jangka panjang adalah bagaimana brand mengelola stok, pengiriman, dan hubungan dengan pelanggan,” ujar Ronak Modi melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Selasa, 27 Oktober 2026.

Website Sendiri Menjadi Aset Strategis Brand Lokal

Website sendiri menawarkan ruang yang lebih besar bagi brand untuk mengatur pengalaman belanja sesuai identitas merek. Penjual dapat menentukan tampilan katalog, menyusun informasi produk, menyediakan panduan penggunaan, mengelola halaman promosi, hingga merancang program loyalitas tanpa sepenuhnya bergantung pada fitur yang disediakan marketplace.

Kanal mandiri juga memberi peluang bagi brand untuk membangun hubungan pelanggan yang lebih terarah. Dengan persetujuan yang sesuai dan pengelolaan data yang bertanggung jawab, perusahaan dapat memahami preferensi konsumen, mengirimkan informasi yang relevan, serta menyusun penawaran berdasarkan riwayat pembelian yang dimiliki secara sah. Hubungan tersebut berpotensi mendorong pembelian ulang.

Dari sisi strategi harga, website sendiri memungkinkan brand merancang paket produk, bundling, atau penawaran khusus untuk pelanggan. Namun, fleksibilitas itu tidak otomatis membuat penjualan lebih menguntungkan. Jika website sulit digunakan, pilihan pembayaran terbatas, atau biaya mendatangkan pengunjung terlalu tinggi, tingkat konversinya bisa rendah dan biaya per pelanggan justru membesar.

Fynd menyebut sejumlah brand lokal, termasuk True to Skin, Raecca, Noera Beauty Care, Iumi, dan Watch Story, sebagai contoh merek yang mulai memberikan perhatian lebih besar kepada website sendiri setelah perubahan biaya marketplace pada Mei 2026. Contoh tersebut menggambarkan adanya evaluasi terhadap strategi kanal penjualan di tengah perubahan struktur biaya.

Penguatan website tidak serta-merta berarti merek-merek tersebut meninggalkan marketplace sepenuhnya. Tanpa informasi yang lebih terperinci, langkah mereka lebih tepat dipahami sebagai upaya memperbesar peran kanal milik sendiri. Marketplace tetap dapat digunakan untuk menjangkau konsumen baru, sedangkan website menjadi salah satu jalur untuk menjaga hubungan dengan pembeli yang sudah mengenal merek.

Marketplace dan Website Sendiri Tidak Harus Bersaing

Marketplace masih memiliki daya tarik besar karena konsumen sudah terbiasa bertransaksi di dalam ekosistemnya. Pembeli dapat membandingkan banyak produk, membaca ulasan, menggunakan metode pembayaran yang tersedia, dan mengakses berbagai pilihan pengiriman. Bagi brand baru, ekosistem tersebut dapat membantu produk ditemukan tanpa harus membangun seluruh basis pengunjung dari nol.

Fynd menyebut lebih dari 85 persen transaksi e-commerce Indonesia diproses oleh kelompok marketplace besar dalam materi yang menjadi dasar pembahasan ini. Angka tersebut merupakan klaim dari sumber industri yang perlu dipahami sesuai cakupannya. Meski demikian, besarnya peran marketplace menjelaskan mengapa keluar sepenuhnya dari kanal tersebut bukan keputusan sederhana bagi banyak merek.

Contoh lain adalah Sociolla yang mengembangkan ekosistem SOCO untuk menghubungkan transaksi dengan komunitas dan ulasan konsumen. Dalam materi sumber, Sociolla disebut memiliki sekitar 7,6 juta anggota SOCO, 3,5 juta ulasan, serta lebih dari 125 gerai fisik di lebih dari 55 kota. Contoh ini menunjukkan bahwa hubungan pelanggan dapat menjadi aset lintas kanal, bukan sekadar hasil dari satu kali transaksi.

Bagi brand lokal, pendekatan yang lebih realistis adalah membagi fungsi setiap kanal. Marketplace dapat berperan sebagai sarana penemuan produk dan akuisisi pelanggan, sedangkan website digunakan untuk menyajikan informasi lebih lengkap, menawarkan pengalaman belanja yang khas, dan mendukung pembelian ulang. Pembagian ini tetap perlu disesuaikan dengan perilaku konsumen, karakter produk, serta kemampuan operasional perusahaan.

Namun, website sendiri bukan kanal yang otomatis lebih murah. Pemilik brand tetap perlu membayar pembuatan dan pemeliharaan situs, hosting, keamanan, integrasi pembayaran, serta pengembangan fitur. Biaya tersebut harus dibandingkan dengan biaya marketplace berdasarkan seluruh pengeluaran yang relevan, bukan sekadar membandingkan komisi transaksi dengan biaya pembuatan website.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.