HUT ke-81 RI, Pengasuh PPTQ Hidayatul Mubtadiin Tekankan Tiga Dimensi Kemerdekaan

AKURAT.CO Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an (PPTQ) Hidayatul Mubtadiin Cimande, Bogor, menggelar upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).
Upacara yang berlangsung pukul 09.00–10.00 WIB tersebut diikuti seluruh santriwati dan civitas pesantren. Kegiatan berlangsung tertib dan khidmat.
Dalam amanatnya sebagai pembina upacara, Pengasuh PPTQ Hidayatul Mubtadiin Dr. K. Iqbal Subhan Nugraha, Lc., M.A., mengajak para santriwati memaknai kemerdekaan tidak sebatas terbebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai nilai yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyampaikan tiga dimensi kemerdekaan yang penting bagi para santriwati, yakni kemerdekaan secara fisik, finansial, dan dalam beribadah.
Pada dimensi pertama, Iqbal menekankan pentingnya kemerdekaan dari segala bentuk kezaliman terhadap sesama. Menurutnya, kemerdekaan harus diwujudkan dengan menciptakan lingkungan pesantren yang aman dan bebas dari kekerasan maupun perundungan.
Ia mengingatkan para santriwati agar tidak menjadi pelaku bullying, penghinaan, ejekan, maupun tindakan lain yang dapat merampas hak dan kehormatan orang lain.
Baca Juga: Megawati Ungkit Lagi Penahanan Bung Karno di Momen HUT RI: Tanpa Sebuah Proses Pengadilan
Pesan tersebut dikaitkan dengan firman Allah dalam QS. Al-Hajj ayat 39 yang menjelaskan tentang orang-orang yang diperangi karena mengalami kezaliman.
“Seorang santriwati tidak boleh menjadi sumber penderitaan bagi santriwati lainnya, baik melalui kekerasan fisik maupun kekerasan verbal,” pesan Iqbal dalam amanatnya.
Dimensi kedua yang disampaikan adalah kemerdekaan finansial. Iqbal menjelaskan bahwa kemerdekaan finansial bagi santriwati bukan berarti memiliki banyak uang, melainkan mampu mengelola keuangan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memiliki sikap qana’ah.
Ia mendorong para santriwati untuk membiasakan hidup sederhana, tidak boros, dan mampu mengelola uang yang dimiliki.
Dalam amanatnya, Iqbal mengutip hadis Nabi Muhammad SAW tentang keberuntungan orang yang memperoleh rezeki yang mencukupi dan merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah.
Menurutnya, sikap qana’ah tidak berarti berhenti berusaha. Sebaliknya, qana’ah merupakan kemampuan untuk bersyukur dan merasa cukup tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.
“Santriwati yang qana’ah tidak akan merasa harus selalu membeli sesuatu hanya karena melihat temannya membeli,” ujarnya.
Sementara dimensi ketiga adalah kemerdekaan dalam beribadah. Iqbal mengajak para santriwati meningkatkan kualitas ibadah dari sekadar menjalankan kewajiban karena takut hukuman atau mengharapkan pahala menuju ibadah yang dilandasi kecintaan dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Ia mengutip ungkapan yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib tentang tiga orientasi dalam beribadah, yakni ibadah karena mengharapkan pahala, karena takut, dan karena bersyukur.
Menurut Iqbal, kemerdekaan sejati dalam perspektif pendidikan pesantren bukan berarti bebas dari kewajiban, melainkan terbebas dari penghambaan kepada selain Allah.
“Seorang Muslim seharusnya tidak hanya beribadah karena takut kepada hukuman atau semata-mata mengharapkan pahala, tetapi meningkat kepada tingkatan ibadah yang dilandasi cinta, penghambaan, dan rasa syukur kepada Allah SWT,” katanya.
Ia menegaskan, santriwati yang merdeka adalah mereka yang mampu menjalankan ibadah dengan kesadaran, menjaga salat, membaca dan mengajarkan Al-Qur’an, serta melakukan kebaikan karena kesadaran untuk mensyukuri nikmat Allah.
Peringatan HUT ke-81 RI di PPTQ Hidayatul Mubtadiin pun diarahkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter bagi para santriwati.
Baca Juga: Bagaimana Rakyat Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia?
Kemerdekaan secara fisik diarahkan untuk membangun sikap saling menghormati dan tidak menzalimi. Kemerdekaan finansial ditanamkan melalui kecakapan mengelola keuangan dan sikap qana’ah. Sementara kemerdekaan dalam ibadah diarahkan pada ketulusan dalam menghambakan diri kepada Allah SWT.
“Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga mampu membebaskan diri dari kezaliman terhadap sesama, dari belenggu hawa nafsu dan sikap boros, serta dari ketergantungan kepada selain Allah,” tegas Iqbal.
Melalui momentum tersebut, para santriwati diharapkan tumbuh sebagai generasi Qur’ani yang berilmu, berakhlak, mandiri, serta memiliki kemerdekaan lahir dan batin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit




