Akurat Logo

Sejumlah Cabor Dicoret di SEA Games Malaysia, Sudah Waktunya Indonesia Boikot?

Dian Eko Prasetio | 6 November 2026, 20:53 WIB
Sejumlah Cabor Dicoret di SEA Games Malaysia, Sudah Waktunya Indonesia Boikot?
Tim dayung Indonesia saat tampil di Olimpiade Paris 2024. ANTARA.

AKURAT.CO, Anggota Komite Eksekutif NOC Indonesia sekaligus Ketua Umum PP Persambi, Krisna Bayu, mengkritik keras penetapan cabang olahraga (cabor) pada SEA Games Malaysia 2027 yang mencoret sejumlah nomor unggulan Indonesia.

Kebijakan tuan rumah dan Federasi Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEAGF) tersebut dinilai mengabaikan prinsip keadilan dan mencederai semangat olahraga kawasan.

Penetapan daftar pertandingan oleh SEAGF pada rapat Executive Committee, 30 Oktober 2026, memangkas jumlah kompetisi menjadi 473 nomor dari 43 cabor. Jumlah ini menyusut dari edisi Thailand 2025 yang menggelar 50 cabor dan 573 nomor.

Akibat perampingan tersebut, cabor lumbung medali Merah Putih seperti panjat tebing, dayung, dan voli pantai resmi tak dipertandingkan. Sektor beregu putra dan putri bulutangkis juga dipastikan absen, disusul cabor potensial lain seperti gulat, catur, jujitsu, kickboxing, bola tangan, hingga triathlon.

Baca Juga: KOI: Pencoretan Cabor di SEA Games Malaysia Tak Hanya Rugikan Indonesia, tapi Asia Tenggara

Krisna menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar mengenai kehilangan potensi medali, melainkan menyangkut martabat persaingan antarnegara serta nasib pembinaan atlet di Asia Tenggara.

"SEA Games dibangun untuk persahabatan, solidaritas, persaingan sehat, dan semangat fair play. Bukan untuk menjadi panggung yang lebih menguntungkan kepentingan tuan rumah," kata Krisna, Jumat (6/11/2026).

Dorong Sikap Tegas Hingga Reformasi SEAGF

Mantan pejudo nasional itu mempertanyakan komitmen penyelenggara yang kerap mengubah daftar cabor demi menguntungkan negara tuan rumah setiap kali edisi berganti.

Krisna menilai Indonesia perlu mengambil langkah konkret untuk merespons ketidakadilan tersebut, termasuk memikirkan opsi penolakan hingga perbaikan sistem di tingkat regional.

"Apakah Indonesia perlu mengambil sikap tegas? Apakah boikot menjadi pilihan? Ataukah sudah waktunya SEAGF melakukan reformasi besar-besaran?" tegas Krisna.

Ia pun meminta seluruh pihak tidak memandang polemik ini secara sempit hanya pada hitung-hitungan angka di klasemen akhir, melainkan pada keberlanjutan karier para atlet yang telah berlatih panjang.

"Jangan hanya melihat persoalan ini dari jumlah medali. Mari bicara tentang keadilan bagi atlet dan masa depan olahraga Asia Tenggara," katanya.


Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.