Kemendag Andalkan 46 Perwakilan di 33 Negara untuk Kejar Target Ekspor 2026

AKURAT.CO Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengandalkan jaringan perwakilan perdagangan di luar negeri untuk membantu eksportir Indonesia memperluas pasar internasional. Langkah ini ditempuh untuk mengejar target pertumbuhan ekspor sebesar 5,5-6,5% sepanjang 2026.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengatakan, pemerintah memiliki 46 perwakilan perdagangan yang tersebar di 33 negara.
Jaringan tersebut terdiri atas atase perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) yang bertugas membantu mempertemukan eksportir Indonesia dengan calon pembeli atau buyer di pasar global.
Baca Juga: Wamendag Gandeng HIPMI, Optimalkan Atase dan ITPC Dongkrak Ekspor
Menurut Budi, perwakilan perdagangan di luar negeri harus berperan aktif dalam mencari peluang pasar dan mempertemukan produk Indonesia dengan pembeli potensial.
"Saya sering menyampaikan kepada perwakilan kita, ITPC atase perdagangan, saya sampaikan bahwa ITPC itu pegawainya para eksportir, sales eksportir. Saya Mendag ini hanya sebagai koordinator. Jadi tugas ITPC adalah bagaimana mencarikan buyer buat para eksportir," kata Budi Santoso dikutip dari YouTube Kadin, Sabtu (31/10/2026).
Optimalisasi jaringan perdagangan tersebut menjadi salah satu strategi pemerintah untuk menjaga momentum ekspor. Pasalnya, meskipun kinerja ekspor Indonesia masih tumbuh, pemerintah perlu mendorong peningkatan pertumbuhan agar target yang telah ditetapkan dapat tercapai hingga akhir tahun.
Budi mengatakan, ekspor Indonesia pada periode Januari-Agustus 2026 tumbuh 4,7%. Angka tersebut menjadi salah satu dasar optimisme pemerintah untuk mengejar target pertumbuhan ekspor sebesar 5,5-6,5% sepanjang tahun ini.
"Meskipun kemarin Mei-Juni sempat turun atau defisit, tetapi saat itu memang harga minyak lagi tinggi-tingginya pada bulan Maret-nya, sehingga berimbas pada bulan Mei-Juni. Sekarang mudah-mudahan sampai dengan Desember target kita adalah 5,5 sampai 6,5 persen," ujarnya.
Berdasarkan catatan Kemendag, nilai ekspor Indonesia mencapai USD193,64 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026. Industri pengolahan masih menjadi penopang utama dengan kontribusi 82,40% atau setara USD159,55 miliar dari total ekspor.
Besarnya kontribusi industri pengolahan menunjukkan peran produk manufaktur dalam menopang perdagangan luar negeri Indonesia. Karena itu, perluasan akses pasar menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kinerja ekspor sekaligus membuka peluang bagi lebih banyak pelaku usaha domestik.
Kemendag Dorong Produk Lokal Tembus Pasar Global
Selain mengoptimalkan perwakilan perdagangan, Kemendag menjalankan tiga program prioritas untuk memperkuat kinerja perdagangan nasional. Ketiganya meliputi Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Pasar Ekspor, serta Dari Lokal untuk Global.
Melalui program Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Kemendag bersinergi dengan asosiasi ritel untuk meningkatkan penetrasi produk lokal melalui program belanja nasional.
Pada Januari-Oktober 2026, nilai penetrasi produk dalam negeri tercatat mencapai Rp259,3 triliun. Dalam periode yang sama, sebanyak 6.383 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mendapatkan pendampingan serta fasilitasi kerja sama dengan ritel modern.
Sementara itu, melalui program Perluasan Pasar Ekspor, Kemendag menggelar Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada 14-18 Oktober 2026. Pameran perdagangan tersebut mencatat potensi transaksi sebesar USD22,94 miliar.
Potensi transaksi dari sektor UMKM juga meningkat menjadi USD510,79 juta, dibandingkan USD474,7 juta pada penyelenggaraan tahun sebelumnya.
Adapun program Dari Lokal untuk Global dijalankan melalui empat klaster, salah satunya UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor. Program ini memfasilitasi 797 penjajakan bisnis atau business matching dengan potensi transaksi USD361,55 juta sepanjang Januari-September 2026.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 2025, ketika sebanyak 662 penjajakan bisnis mencatatkan potensi transaksi USD134,87 juta.
Kemendag juga mengembangkan program Desa BISA Ekspor. Hingga September 2026, sebanyak 787 desa telah dibina menjadi desa eksportir. Selain itu, pemerintah memetakan 121 sentra industri kecil dan menengah (IKM) untuk mendorong produk lokal masuk ke pasar internasional.
Pada klaster kemitraan UMKM, sebanyak 1.203 UMKM difasilitasi untuk menembus jaringan ritel modern, termasuk badan usaha milik negara (BUMN), sepanjang Januari-Oktober 2026.
Kemendag turut mengembangkan klaster Campuspreneur dengan menjalin 27 kemitraan bersama perguruan tinggi. Program ini diarahkan untuk mengembangkan usaha di lingkungan civitas academica dan mahasiswa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








