5,48 Juta Pekerja Terserap di Kuartal III-2026, Menteri Rosan Soroti Kualitas SDM

AKURAT.CO Pemerintah mulai menekankan kualitas investasi sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan penanaman modal di Indonesia.
Investasi tidak lagi hanya diukur dari besarnya modal yang masuk, tetapi juga kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), hingga transfer teknologi.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani mengatakan, investasi yang masuk ke Indonesia diharapkan mampu memberikan manfaat lebih luas bagi perekonomian nasional.
Baca Juga: Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen pada 2027, Investasi Dunia Usaha Harus Naik 7 Persen
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi sejak kuartal IV-2024 hingga kuartal III-2026 mencapai Rp3.923,2 triliun. Angka tersebut setara 30,1% dari target investasi sebesar Rp13.032,8 triliun hingga 2029.
Realisasi tersebut terdiri atas penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp1.998,7 triliun dan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp1.924,5 triliun. Investasi yang masuk juga telah menyerap sekitar 5,48 juta tenaga kerja.
Meski demikian, Rosan menilai besarnya investasi perlu diikuti dengan peningkatan kualitas manfaat ekonomi yang dihasilkan. Menurutnya, investasi harus mampu meningkatkan kemampuan tenaga kerja lokal sekaligus memperkuat penguasaan teknologi di dalam negeri.
"Tetapi memang, kalau kita lihat, investasi yang masuk ini tentunya kita harapkan adalah investasi yang berkualitas. Investasi yang berkualitas, kami melihatnya adalah investasi yang bisa meningkatkan sumber daya manusia kita, ada transfer knowledge dan teknologi, dan tentunya adalah penciptaan lapangan kerja yang berkualitas," kata Rosan dikutip dari YouTube Kadin, Sabtu (31/10/2026).
Salah satu contoh yang disoroti Rosan adalah pengembangan industri hilirisasi nikel. Kebijakan tersebut dinilai mampu meningkatkan nilai tambah komoditas melalui pembangunan industri pengolahan di dalam negeri.
Rosan menyebut Indonesia memiliki sekitar 46% cadangan nikel dunia. Sebelum kebijakan hilirisasi diterapkan, nilai ekspor nikel Indonesia tercatat sekitar US3,3 miliar.
Namun, setelah pengembangan industri pengolahan dan produk turunannya, nilai ekspor komoditas tersebut meningkat signifikan. Pada 2025, ekspor nikel dan produk turunannya tercatat mencapai US30 miliar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








