B50 Butuh 17 Juta Ton CPO, DEN Dorong Produktivitas Sawit Rakyat

AKURAT.CO Ketersediaan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) nasional dinilai masih memadai untuk mendukung implementasi mandatori biodiesel B50.
Dengan produksi sekitar 50 juta ton per tahun, Indonesia memiliki basis pasokan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan baku biodiesel yang diperkirakan mencapai 16 juta–17 juta ton.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Fadhil Hasan mengatakan, dari sisi ketersediaan bahan baku, produksi CPO nasional saat ini masih dapat menopang kebutuhan program biodiesel.
Baca Juga: KAI Andalkan B50 untuk Pangkas Emisi 133.676 Ton CO₂e
“Ya, kalau kita lihat produksi CPO-nya, ya kan, itu cukup, ya kan, produksi CPO-nya kan sekitar 50 juta, ya kan. Karena kebutuhan untuk biodiesel itu kan sebenarnya 16 jutaan lah, 16-17 juta gitu,” kata Fadhil kepada Akurat.co, Jumat (30/10/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keseimbangan pasokan perlu diperhatikan apabila produksi CPO tidak mengalami peningkatan, sementara kebutuhan dalam negeri terus bertambah seiring penerapan B50 secara penuh selama setahun.
Tantangan pasokan juga perlu dicermati karena produksi CPO pada 2027 diperkirakan berpotensi mengalami penurunan sekitar 2 juta–3 juta ton dibandingkan 2026.
Penurunan, kata Fadhil dapat dipengaruhi dampak El Niño yang berpotensi mengganggu produktivitas perkebunan sawit. "Kalau penurunannya itu sebesar itu, dari tahun 2026 ini, ya, kemudian kita juga melaksanakan program B50 dalam satu tahun full gitu, nah pasti ekspor kita akan turun,” ujarnya.
Fadhil menambahkan, penurunan ekspor berpotensi berdampak pada penerimaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), yang salah satunya bersumber dari pungutan ekspor produk sawit.
Namun, dari sisi pembiayaan program biodiesel, ia menilai kondisi tersebut belum tentu langsung menimbulkan persoalan. Hal itu bergantung pada selisih harga FAME dan CPO serta perkembangan harga minyak diesel di pasar internasional.
Untuk menjaga kecukupan pasokan CPO ke depan, Fadhil menekankan pentingnya meningkatkan produktivitas perkebunan, terutama pada tingkat petani rakyat. “Program PSR misalnya, ya kan, program sawit rakyat, ini juga program perbaikan dari pemeliharaan, kemudian, apa namanya, pemupukan yang lebih baik, perbaikan infrastruktur itu mungkin itu akan membantu itu meningkatkan produktivitas (sawit),” tutur Fahdil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 24 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 4Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 5Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 6Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 7Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai
- 10Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Pungli Dokumen Imigrasi








