Kadin Ingatkan Risiko Bottleneck Regulasi di Reformasi Ekspor SDA

AKURAT.CO Rencana reformasi tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA) strategis Indonesia tidak hanya membawa peluang peningkatan penerimaan negara, tetapi juga memunculkan sejumlah risiko sistemik yang perlu diantisipasi sejak tahap awal implementasi.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pertahanan, Andi Rahmat, menilai bahwa salah satu tantangan terbesar dalam kebijakan ini adalah potensi munculnya bottleneck regulasi akibat kompleksitas kelembagaan yang terlibat.
“Kebijakan ini tidak boleh menjadi bottlenecking baru yang justru akan menggerus manfaat ekonominya,” kata Andi melalui keterangan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Minggu (24/5/2026).
Baca Juga: Pemerintah Matangkan Kebijakan DHE dan Ekspor SDA via BUMN
Ia menjelaskan bahwa dalam implementasinya, sedikitnya empat kementerian dan tiga lembaga otoritas akan terlibat langsung dalam pengaturan sektor ini.
Di antaranya Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, Kementerian ESDM, Bank Indonesia, serta OJK.
Menurut dia, tanpa adanya sistem regulasi tunggal, koordinasi lintas lembaga berpotensi menimbulkan tumpang tindih kewenangan yang dapat memperlambat proses perdagangan.
“Dibutuhkan perangkat regulasi tunggal antar kementerian yang simpel untuk mensinkronkan ragam pengaturan,” ujarnya.
Selain risiko koordinasi, aspek hukum juga menjadi perhatian penting dalam reformasi ini. Perubahan sistem ekspor berpotensi mempengaruhi kontrak dagang yang sudah berjalan antara pelaku usaha Indonesia dan mitra internasional.
Dalam konteks perdagangan global, kepastian hukum menjadi faktor kunci yang menentukan stabilitas investasi dan keberlanjutan kerja sama ekonomi lintas negara.
Isu lain yang turut menjadi sorotan adalah transfer pricing, yang dinilai lebih kompleks dibandingkan isu under-invoice karena melibatkan yurisdiksi lintas negara serta struktur perusahaan yang berlapis.
Baca Juga: DHE SDA Berlaku 1 Juni 2026, AS Dapat Pengecualian Rentensi Devisa
Dalam sistem perdagangan komoditas yang sudah matang secara global, perubahan mekanisme ekspor dapat berdampak pada persepsi pasar internasional jika tidak dikomunikasikan dengan baik.
Selain itu, reformasi ini juga membutuhkan kesiapan sistem teknis seperti digitalisasi perdagangan, integrasi data lintas lembaga, serta transparansi dalam proses penetapan nilai komoditas.
"Sebab tanpa adanya mitigasi yang kuat, kebijakan yang bertujuan meningkatkan efisiensi justru dapat menimbulkan ketidakpastian baru di sektor yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor nasional," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









