Kenapa Indonesia Mulai Kemarau? Kenali Angin Monsun Australia dan Dampaknya

AKURAT.CO Pernah bertanya-tanya kenapa hujan mulai jarang turun dan cuaca terasa semakin panas saat memasuki pertengahan tahun? Kondisi ini bukan sekadar perubahan cuaca biasa, tetapi juga berkaitan dengan pergerakan angin musiman yang memengaruhi iklim di Indonesia, salah satunya angin monsun Australia.
Angin monsun Australia merupakan angin yang bergerak dari Benua Australia menuju wilayah Indonesia dan umumnya berembus saat Australia mengalami musim dingin. Angin ini membawa massa udara yang relatif kering sehingga turut memengaruhi datangnya musim kemarau di sejumlah wilayah Tanah Air.
Baca Juga: BMKG Prediksi Hujan Lebat dan Angin Kencang hingga 15 Oktober 2026, Cek Daftar Wilayahnya
Dikutip dari berbagai sumber, perubahan arah angin monsun Asia-Australia terjadi secara berkala dan berpengaruh terhadap pola curah hujan di Indonesia. Lantas, apa sebenarnya angin monsun Australia dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari?
Apa Itu Angin Monsun Australia?
Angin monsun Australia adalah angin musiman yang bertiup dari wilayah Australia menuju Asia, termasuk Indonesia. Angin ini merupakan bagian dari sistem angin monsun Asia-Australia yang mengalami perubahan arah secara berkala.
Mengutip penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), angin monsun merupakan angin berskala regional atau benua yang berubah arah azimut minimal 120 derajat dan terjadi secara periodik, umumnya setiap enam bulan.
Perubahan arah angin ini dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara antara daratan Asia dan Australia. Ketika Australia mengalami musim dingin, wilayah tersebut cenderung memiliki tekanan udara lebih tinggi sehingga angin bergerak menuju wilayah bertekanan lebih rendah.
Kapan Angin Monsun Australia Terjadi?
Angin monsun Australia umumnya berembus di Indonesia sekitar Mei hingga September, ketika kawasan Australia memasuki musim dingin dan wilayah Indonesia mulai mengalami musim kemarau.
Pada periode tersebut, angin yang bergerak dari Australia cenderung membawa massa udara yang relatif kering. Kondisi ini membuat sebagian besar wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan.
Sebaliknya, sekitar November hingga Maret, angin monsun Asia umumnya membawa massa udara yang lebih lembap dari kawasan Asia menuju Indonesia. Kondisi tersebut turut mendukung peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah.
Meski demikian, waktu peralihan dan dampak kedua angin monsun dapat berbeda di setiap wilayah, bergantung pada kondisi atmosfer dan faktor cuaca lainnya.
Baca Juga: Australia Izinkan Pekerja Usia 55 Tahun ke Atas WFH karena Kelelahan Perjalanan
Apa Saja Dampak Angin Monsun Australia bagi Indonesia?
Angin monsun Australia memiliki pengaruh terhadap kondisi cuaca dan aktivitas masyarakat di Indonesia. Berikut beberapa dampaknya.
Memicu musim kemarau
Massa udara yang relatif kering dari Australia dapat mengurangi pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Akibatnya, curah hujan cenderung menurun dan musim kemarau berlangsung.
Meningkatkan risiko kekeringan
Ketika curah hujan berkurang dalam waktu lama, beberapa daerah berisiko mengalami kekeringan. Kondisi ini dapat memengaruhi ketersediaan air bersih, pertanian, serta kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan
Cuaca kering yang berlangsung cukup lama dapat membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar. Risiko kebakaran hutan dan lahan pun meningkat, terutama jika terjadi aktivitas pembakaran yang tidak terkendali.
Memengaruhi aktivitas masyarakat
Perubahan cuaca selama musim kemarau dapat memengaruhi jadwal tanam petani, pengelolaan sumber air, hingga aktivitas masyarakat di luar ruangan.
Angin monsun Australia merupakan angin musiman yang bergerak dari Australia menuju Indonesia dan umumnya berembus pada periode Mei hingga September. Angin ini membawa massa udara yang relatif kering sehingga berperan dalam terjadinya musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengikuti informasi cuaca dari BMKG agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi lingkungan selama musim kemarau.
Primandha Rachma Auzia (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







