Akurat Logo

Terlalu Sering Lari Marathon? Ini 5 Dampak Buruk bagi Kesehatan

Redaksi Akurat | 5 November 2026, 16:02 WIB
Terlalu Sering Lari Marathon? Ini 5 Dampak Buruk bagi Kesehatan
Ilustrasi orang yang kesakitan setelah marathon - Gemini

AKURAT.CO Lari menjadi salah satu olahraga yang cukup digemari karena mudah dilakukan dan memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Belakangan ini, kegiatan lari marathon juga semakin populer. Banyak orang mengikutinya untuk menjaga kebugaran, mencoba tantangan baru, hingga mengukur kemampuan fisik.

Meski terlihat menyehatkan, bukan berarti lari maraton bisa dilakukan sesering mungkin tanpa memperhatikan kondisi tubuh. Pasalnya, marathon membutuhkan daya tahan fisik yang tinggi karena pelari harus menempuh jarak hingga 42,195 kilometer.

Baca Juga: Program Latihan Marathon untuk Pemula, Ini Jadwal 16 Minggu agar Siap 42K

Dikutip dari berbagai sumber, ada sejumlah dampak negatif yang bisa muncul akibat terlalu sering lari marathon. Mulai dari gangguan jantung hingga masalah hormon. Lantas, apa saja dampaknya?

1. Meningkatkan Risiko Gangguan Jantung

Salah satu risiko yang perlu diperhatikan ketika terlalu sering lari maraton adalah gangguan pada jantung. Saat berlari dalam jarak jauh, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah dan mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh.

Pada orang yang sudah terbiasa berolahraga, aktivitas ini umumnya dapat dilakukan dengan aman selama latihan disesuaikan dengan kemampuan tubuh.

Namun, jika maraton dilakukan terus-menerus tanpa pemulihan yang cukup, beban kerja jantung bisa menjadi berlebihan. Kondisi ini perlu lebih diperhatikan oleh orang yang memiliki riwayat penyakit jantung, hipertensi, diabetes, atau obesitas.

Karena itu, pelari sebaiknya tidak hanya mengejar jarak dan kecepatan, tetapi juga memperhatikan kondisi kesehatan sebelum mengikuti perlombaan.

2. Berisiko Mengalami Gangguan Pembuluh Darah

Selain jantung, pembuluh darah juga perlu diperhatikan ketika seseorang melakukan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi.

Lari maraton membuat tubuh bekerja keras dalam waktu lama. Pada kondisi tertentu, tekanan fisik yang berlebihan dapat memberikan beban tambahan pada sistem peredaran darah.

Salah satu risiko serius yang perlu diwaspadai adalah aneurisma aorta, yaitu kondisi ketika dinding pembuluh darah aorta melemah dan mengalami pelebaran. Jika kondisinya semakin parah, pembuluh darah tersebut dapat mengalami robekan.

Meski tidak berarti setiap pelari maraton berisiko mengalami kondisi ini, orang dengan faktor risiko tertentu perlu lebih berhati-hati. Pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti olahraga berat juga penting dilakukan.

3. Mengalami Tendonitis atau Radang Tendon

Terlalu sering berlari juga bisa membuat otot, sendi, dan tendon bekerja secara berlebihan. Bagian tubuh yang cukup sering menerima tekanan ketika berlari adalah pergelangan kaki, lutut, dan pinggul.

Jika aktivitas tersebut dilakukan berulang kali tanpa waktu pemulihan, tendon dapat mengalami iritasi akibat tekanan yang terus-menerus.

Kondisi ini dikenal sebagai tendonitis atau peradangan pada tendon. Gejalanya dapat berupa rasa nyeri, pembengkakan, hingga kesulitan menggerakkan bagian tubuh tertentu.

Jika terus dipaksakan untuk berlari, cedera tersebut bisa semakin parah dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena itu, jangan mengabaikan rasa sakit yang muncul setelah berolahraga.

4. Daya Tahan Tubuh Bisa Menurun

Olahraga secara teratur memang dapat membantu menjaga kebugaran dan mendukung sistem kekebalan tubuh. Namun, aktivitas fisik yang terlalu berat tanpa istirahat cukup justru bisa memberikan efek sebaliknya.

Setelah menyelesaikan maraton, tubuh membutuhkan waktu untuk memperbaiki jaringan otot dan memulihkan energi yang terkuras selama berlari.

Jika seseorang terus melakukan latihan berat sebelum tubuh benar-benar pulih, risiko mengalami kelelahan berkepanjangan dapat meningkat. Kondisi ini juga bisa memengaruhi respons sistem kekebalan tubuh.

Akibatnya, tubuh terasa lebih mudah lelah dan seseorang bisa lebih rentan mengalami gangguan kesehatan.

Baca Juga: Mengenal Jenis-Jenis Marathon: Perbedaan 5K, 10K, Half Marathon hingga Ultramarathon

5. Menyebabkan Gangguan Hormon

Dampak lain yang mungkin muncul akibat terlalu sering lari marathon adalah gangguan keseimbangan hormon.

Aktivitas fisik yang berlebihan dapat memengaruhi hormon yang berkaitan dengan stres, metabolisme, reproduksi, dan nafsu makan.

Pada pria, latihan yang terlalu berat disertai kekurangan asupan energi dapat mengganggu produksi hormon testosteron. Sementara itu, pada wanita, kondisi tersebut dapat memengaruhi siklus menstruasi dan proses ovulasi.

Gangguan hormon ini tidak selalu terjadi pada setiap pelari. Namun, risiko dapat meningkat ketika seseorang terus memaksakan latihan tanpa memperhatikan kebutuhan energi dan waktu pemulihan tubuh.

Bagaimana Cara Mencegah Dampak Buruk Lari Marathon?

Pertama, sesuaikan jarak dan intensitas latihan dengan kemampuan fisik. Jika masih pemula, jangan langsung memaksakan diri untuk berlari jarak jauh. Tingkatkan kemampuan secara bertahap agar tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi.

Kedua, berikan waktu istirahat yang cukup setelah melakukan latihan berat atau mengikuti perlombaan. Jangan memaksakan diri untuk terus berlari ketika otot masih terasa sakit atau tubuh belum kembali bugar.

Ketiga, perhatikan asupan makanan dan cairan. Tubuh membutuhkan energi, protein, vitamin, mineral, dan cairan yang cukup untuk membantu proses pemulihan.

Terakhir, kenali tanda-tanda ketika tubuh mulai kelelahan, seperti stamina menurun, nyeri otot berkepanjangan, dan kecepatan lari yang semakin berkurang. Jika muncul nyeri dada, sesak napas, atau pingsan, segera cari pertolongan medis.

Lari marathon memang menjadi salah satu cara untuk menjaga kebugaran sekaligus melatih daya tahan tubuh. Namun, jika dilakukan terlalu sering tanpa memperhatikan kemampuan fisik dan waktu pemulihan, aktivitas ini bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan.

Beberapa dampak yang perlu diwaspadai antara lain gangguan jantung, masalah pembuluh darah, tendonitis, penurunan daya tahan tubuh, hingga gangguan hormon.

Karena itu, jangan hanya berfokus pada target jarak atau jumlah medali yang ingin didapatkan. Pastikan tubuh mendapatkan istirahat, nutrisi, dan persiapan yang cukup agar manfaat olahraga tetap bisa dirasakan tanpa mengabaikan kesehatan.

Primandha Rachma Auzia (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R