Akurat Logo

IQ Orang Indonesia Rendah? Ini Faktor yang Memengaruhinya

Redaksi Akurat | 4 November 2026, 07:44 WIB
IQ Orang Indonesia Rendah? Ini Faktor yang Memengaruhinya
IQ Orang Indonesia Disebut Rendah Ini Faktor yang Memengaruhinya

AKURAT.CO Angka rata-rata IQ orang Indonesia pernah menjadi perbincangan karena disebut berada di angka 78,49. Angka tersebut banyak beredar di internet dan membuat sebagian orang bertanya-tanya, apakah benar masyarakat Indonesia memiliki tingkat kecerdasan yang rendah?

Angka tersebut berasal dari buku The Intelligence of Nations karya Richard Lynn dan David Becker yang diterbitkan pada 2019. Namun, hasil penelitian itu mendapat banyak kritik karena jumlah peserta dan cara pengambilan datanya dinilai belum cukup untuk menggambarkan seluruh masyarakat Indonesia.

Sebenarnya, kemampuan seseorang dalam berpikir dan belajar tidak hanya dipengaruhi oleh satu hal. Pendidikan, kebiasaan membaca, makanan bergizi, dan lingkungan keluarga juga memiliki peran dalam perkembangan seseorang.

Baca Juga: Sebut IQ Orang Kulit Hitam Lebih Rendah, Anak Buah Boris Johnson Panen Hujatan

Lalu, benarkah IQ orang Indonesia rendah dan apa saja hal yang dapat memengaruhi kemampuan berpikir?

Benarkah Rata-Rata IQ Orang Indonesia Hanya 78,49?

Angka 78,49 yang sering disebut sebagai rata-rata IQ orang Indonesia bukan berasal dari tes terhadap seluruh penduduk. Angka tersebut dikumpulkan dari beberapa penelitian dengan jumlah peserta dan cara tes yang berbeda.

Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa angka tersebut perlu dipertanyakan. Jumlah peserta penelitian dinilai belum cukup untuk mewakili masyarakat Indonesia yang jumlah penduduknya sangat besar. Selain itu, sebagian peserta yang diuji merupakan anak-anak.

European Human Behaviour and Evolution Association (EHBEA), sebuah organisasi yang beranggotakan para peneliti perilaku manusia, juga pernah mengkritik data IQ antarnegara yang dibuat Richard Lynn dan rekan-rekannya. Kritik tersebut berkaitan dengan jumlah peserta yang terlalu sedikit dan data yang belum tentu mewakili seluruh penduduk suatu negara.

Karena itu, angka 78,49 belum bisa dijadikan bukti bahwa seluruh masyarakat Indonesia memiliki kecerdasan rendah. Kita perlu melihat informasi lain untuk memahami bagaimana kemampuan belajar masyarakat Indonesia saat ini.

Pendidikan dan Kebiasaan Membaca Ikut Memengaruhi

Pendidikan menjadi salah satu hal yang berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam memahami sesuatu. Anak tidak hanya perlu belajar menghafal pelajaran, tetapi juga perlu dibiasakan untuk bertanya, memahami bacaan, dan mencari jawaban ketika menghadapi masalah.

Gambaran mengenai kemampuan belajar siswa Indonesia dapat dilihat dari hasil tes PISA 2022 yang dilakukan oleh OECD. Tes ini diikuti siswa berusia 15 tahun dari berbagai negara untuk melihat kemampuan mereka dalam membaca, matematika, dan sains.

Hasilnya menunjukkan bahwa nilai siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara yang mengikuti tes tersebut. Dalam kemampuan membaca, hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai tingkat dasar.

Artinya, masih banyak siswa yang mengalami kesulitan memahami isi bacaan dan menemukan informasi penting dari sebuah tulisan.

Kebiasaan membaca juga perlu diperhatikan. Membaca dapat membantu seseorang mengenal hal baru, memahami informasi, dan melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang.

Namun, kebiasaan membaca tidak hanya bergantung pada kemauan seseorang. Ketersediaan buku, fasilitas sekolah, dan dukungan keluarga juga ikut menentukan.

Gizi dan Lingkungan Keluarga Berpengaruh Sejak Kecil

Selain pendidikan, makanan bergizi juga penting untuk perkembangan anak. Sejak kecil, tubuh dan otak membutuhkan asupan makanan yang cukup agar dapat berkembang dengan baik.

Jika kebutuhan gizi tidak terpenuhi dalam waktu lama, pertumbuhan anak bisa terganggu. Salah satu masalah yang berkaitan dengan kekurangan gizi adalah stunting, yaitu kondisi ketika tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya akibat kekurangan gizi dalam waktu lama.

Stunting tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan tubuh, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan otak dan kemampuan anak dalam belajar.

Lingkungan keluarga juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Anak yang terbiasa diajak berbicara, diberi kesempatan bertanya, dan mendapatkan jawaban dari orang tua memiliki kesempatan untuk belajar memahami banyak hal.

Kebiasaan sederhana seperti membaca bersama, berdiskusi, atau mengenalkan hal baru dapat membantu anak mengembangkan rasa ingin tahu. Dengan begitu, proses belajar tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di rumah.

Apakah Kondisi Ekonomi Menjadi Salah Satu Penyebab?

Kondisi ekonomi keluarga juga bisa memengaruhi kesempatan seseorang untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Keluarga dengan penghasilan terbatas mungkin mengalami kesulitan dalam membeli buku, menyediakan akses internet, atau memenuhi kebutuhan belajar anak.

Hubungan antara kondisi ekonomi dan hasil belajar terlihat dalam data PISA 2022. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa Indonesia dari keluarga yang lebih mampu cenderung mendapatkan nilai matematika lebih tinggi dibandingkan siswa dari keluarga kurang mampu.

Meski begitu, bukan berarti anak dari keluarga kurang mampu tidak bisa memiliki prestasi yang baik. OECD mencatat bahwa sekitar 15 persen siswa Indonesia dari kelompok ekonomi kurang mampu mampu mendapatkan hasil matematika yang termasuk paling tinggi di tingkat nasional.

Hal ini menunjukkan bahwa keadaan ekonomi bukan satu-satunya penentu keberhasilan seseorang dalam belajar. Kesempatan dan dukungan yang tepat juga dapat membantu anak mengembangkan kemampuannya.

Baca Juga: UAS Raih Gelar Doktor dengan Predikat Cum Laude di Sudan, Faizal: Bukti IQ Orang Indonesia Jauh Lebih Cerdas

Jadi Apakah Benar IQ Orang Indonesia Rendah?

Anggapan bahwa rata-rata IQ orang Indonesia rendah tidak bisa langsung dipercaya hanya berdasarkan angka 78,49. Angka tersebut masih memiliki kelemahan dalam cara pengambilan data sehingga belum cukup untuk menggambarkan kecerdasan seluruh masyarakat Indonesia.

Di sisi lain, hasil PISA menunjukkan bahwa kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia masih perlu ditingkatkan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan, kebiasaan membaca, makanan bergizi, dan lingkungan keluarga merupakan hal yang perlu mendapat perhatian.

Pada akhirnya, kemampuan seseorang dalam berpikir dan belajar tidak ditentukan oleh satu hal saja. Setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang, tetapi kesempatan tersebut perlu didukung oleh pendidikan yang baik, kesehatan yang terjaga, dan lingkungan yang mendukung proses belajar.

Muhammad Dafa Afrizal (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R