Akurat Logo

Agentic AI dan Produksi Pengetahuan: Quo Vadis Jurnal Ilmiah?

Redaksi Akurat | 2 November 2026, 15:54 WIB
Agentic AI dan Produksi Pengetahuan: Quo Vadis Jurnal Ilmiah?
Ilustrasi robot AI.

DALAM beberapa pekan terakhir, empat kabar mengejutkan dari dunia riset dan penerbitan ilmiah datang beruntun.

Masing-masing belum tentu mengubah segalanya, tetapi bersama-sama menunjuk satu arah: manuskrip kini tidak hanya ditulis oleh manusia, dan tidak hanya disaring oleh manusia.

Penerbit jurnal ilmiah besar juga sudah mulai melakukan reposisi model bisnisnya. Saya akan mencoba menulis isu ini dalam kacamata bioinformatika. Apa yang terjadi? Semua karena agentic AI!

Empat sinyal penting

Empat sinyal dari vendor AI berikut ini memberikan arahan akan apa yang akan terjadi pada dunia penerbitan jurnal ilmiah, sekarang dan ke depannya.

Walau untuk saat ini belum terlalu jelas, tetapi ke depannya saya prediksi ini akan mengubah landscape jurnal ilmiah untuk seterusnya.

Pada 6 Oktober 2026, OpenAI merilis lebih dari 700 preprint matematika yang seluruhnya dihasilkan AI ke repositori GitHub.

Rinciannya: 722 manuskrip, 372 hasil, dan hanya 162 manuskrip yang hasil utamanya sudah diformalkan dengan Lean.

Sehari kemudian, tiga manuskrip ditarik karena kesalahan tanda yang membatalkan satu argumen dan konstruksi pada dua makalah turunannya.

Seorang matematikawan Oxford menilai langkah ini seperti melempar draf kasar ke komunitas dan berharap komunitas yang membersihkannya.

Pada 20 Oktober 2026, Anthropic melaporkan pada preprint bahwa model riset internal Claude, yang bekerja sebagian besar secara mandiri selama 64 jam dan hanya diarahkan lewat empat instruksi lanjutan, merancang minibinder (protein kecil pengikat target) terhadap neurotoksin kalajengking, lalu menganalisis datanya dan menyusun laporan akhirnya di bawah pengawasan peneliti.

Dari 211 desain yang diuji di dua laboratorium kontrak, 17 memenuhi kriteria ketat sebagai pengikat, semuanya untuk satu toksin.

Kemampuan netralisasinya belum diuji sehingga hasil ini belum berupa antivenom, tetapi seluruh desain dan datanya dirilis terbuka. Menariknya, di paper ini, agen AI Claude menjadi penulis utama.

Pada 27 Oktober 2026, Anthropic menerbitkan makalah tentang algoritma subeksponensial untuk 3-SAT. Makalah itu hanya mencantumkan "Claude, Anthropic" sebagai penulis, dan Anthropic menyatakan peneliti manusia hanya membantu menyempurnakan penyajiannya.

Jika terbukti benar, algoritma ini membantah Exponential Time Hypothesis, dugaan yang menjadi landasan ratusan makalah. OpenAI mengklaim hasil serupa, sehingga verifikasi oleh komunitas menjadi penentu.

Pada hari yang hampir bersamaan, Springer Nature dan Google DeepMind mengumumkan kemitraan untuk mengembangkan asisten peer review berbasis Gemini.

Alat ini masih berupa prototipe yang sedang diuji, dirancang membantu reviewer menelaah manuskrip, sementara penilaian pakar manusia tetap menjadi pusat proses.

Kebutuhannya jelas nyata, karena jumlah manuskrip yang harus dikelola jauh lebih banyak daripada kapasitas SDM editorial jurnal.

Menyikapi perkembangan itu, seorang pejabat Research Ireland mengaku mulai menerima ulasan yang jelas buatan AI dan kesulitan menindaknya.

Di seluruh dunia, mulai banyak sponsor hibah riset dan pengelola jurnal yang kewalahan menghadapi proposal dan manuskrip "AI slop".

Itu adalah naskah ilmiah, artikel, atau tulisan akademis berkualitas rendah yang dihasilkan secara massal menggunakan kecerdasan buatan (generative AI) tanpa adanya proses penyuntingan, pemeriksaan fakta, atau keterlibatan berpikir dari penulisnya.

Disonansi pengelolaan produksi pengetahuan ini makin tajam, karena penyusunan manuskrip preprint dari Anthropic dan OpenAI sudah bergeser dari pedoman COPE (Committee on Publication Ethics) jurnal ilmiah yang melarang agen AI menjadi autor.

Mereka sendiri nampaknya memang tidak menjadikan publikasi ilmiah sebagai metrik utama, sehingga tidak merasa perlu terlalu kaku mengikuti standar COPE.

Namun, lebih menunjukkan pada investor akan kedigjayaan teknologi mereka, pitching ke publik secara luas akan potensi hilirisasi AI, dan demonstrasi menjelang IPO (Initial Public Offering) untuk gaet investor baru. Tapi, apakah ini berarti jurnal ilmiah menjadi tidak relevan lagi?

Apa fungsi jurnal ketika menulis dan menelaah menjadi semakin masif?

Selama ini jurnal menjalankan tiga fungsi sekaligus: diseminasi hasil penelitian, mensertifikasi lewat peer review, dan memberi kredit karier lewat sitasi bibliografis.

Yang terjadi sekarang, Agentic AI menekan ketiganya pada saat yang sama dan menunjukkan praktik yang berbeda secara fundamental terhadap pedoman COPE. Produksi manuskrip melonjak, sedangkan kapasitas verifikasi manusia tetap terbatas.

Sebagai editor jurnal ilmiah, saya sendiri semakin kesulitan mencari reviewer, di mana terjadi "banjir" manuskrip yang AI-generated. Banyak reviewer yang tidak mau pusing, dan juga menggunakan AI saat menelaah manuskrip.

Bahkan secara terang-terangan ada yang mendeklarasikan pemakaian AI ke editor, walaupun pedoman COPE sangat menjaga jarak dengan praktik penelaahan seperti ini.

Kasus OpenAI menunjukkan masalahnya. Di matematika, sudah tersedia verifikasi formal, dan itu pun baru mencakup sebagian kecil manuskrip preprint yang disebut sebelumnya.

Bidang ilmu hayati tidak punya padanan semacam itu. Verifikasi di bioinformatika bergantung pada reproduksibilitas kode dan data serta validasi eksperimental, sehingga verifikasi menjadi sumber daya yang langka.

Soal akuntabilitas, AI tidak bisa dimintai tanggung jawab atas klaimnya. Sesuai pedoman COPE, banyak penerbit besar tidak mengakui AI sebagai penulis, dan penanggung jawab akhir tetap manusia.

Model bisnis jurnal ilmiah mendapat tekanan serius dari semakin masifnya produksi manuskrip AI-assisted (AI slop), dan semakin lelahnya editor/reviewer dalam menghadapi tsunami volume berkas jumlah masif.

Negosiasi dan membuat kesepahaman dengan vendor AI menjadi opsi yang paling logis dan pragmatis, jika sebagai bisnis, jurnal ilmiah ingin bertahan.

Mengapa opsi manuver bisnis bagi penerbit terbatas?

Sebab fakta sudah menunjukkan bahwa 10 besar korporasi terbesar di dunia didominasi oleh vendor AI, sesuai dengan data kapitalisasi pasar (market capitalization) bursa saham dan Forbes Global 2000. Saya yakin sekali, bahwa hanya AI yang dapat membantu kita menghadapi tsunami produk AI. Menghadapi mereka tanpa bantuan AI, hanya menyebabkan kita tertinggal dan kalah.

Reposisi keilmuan: jurnal sebagai narator prototipe

Menurut saya, jawabannya adalah reposisi. Dalam bioinformatika, terutama dalam perspektif ilmu komputer dan informatika, artefak ilmiahnya sendiri adalah pipeline, perangkat lunak, model prediksi, basis data, atau alur kerja yang bisa dijalankan ulang oleh orang lain.

Di sini jurnal lebih tepat berperan sebagai narator bagi prototipe: menjelaskan konteks, metode, dan batas validitasnya. Artikel tidak lagi menjadi satu-satunya indikator dampak ilmiah. Dampak diukur dari apakah prototipe itu dipakai, diuji ulang, dan bertahan di tangan pihak lain.

Hal ini jelas menjadi suatu indikator yang berbeda dengan sistem penilaian kinerja dosen/peneliti yang sangat bertumpu pada jumlah publikasi, termasuk di Indonesia.

Pergeseran ini membawa risiko tersendiri. Vibe coding membuat siapa pun bisa menghasilkan skrip analisis dalam hitungan menit. Namun, skrip yang berjalan tanpa galat belum tentu benar.

Kesalahan normalisasi, kebocoran data pada model prediktif, atau parameter bawaan yang tidak sesuai bisa menghasilkan angka meyakinkan yang keliru, dan itu setara dengan kesalahan notasi matematika di manuskrip OpenAI.

Hanya peneliti dengan fondasi computational thinkingyang kuat, yaitu dekomposisi masalah, abstraksi, pengenalan pola, dan perancangan algoritma, yang mampu mengaudit keluaran AI dengan optimal.

Tanpa fondasi manusiawi itu, AI mempercepat produksi kekeliruan (refracting mistakes). Ironisnya, computational thinking ini yang terkadang sulit terlihat ketika menelaah makalah bioinformatika.

Oleh karena itu, sudah jadi praktik standar editorial bahwa pengungkapan data dan reproduksi workflow pada repository codebaseseperti GitHub dan GitLab adalah mutlak pada paper riset bioinformatika.

Baca Juga: Wannan Inti Kenalkan Teknologi yang Bisa Pangkas Massa Sampah Organik hingga 80 Persen dalam Sehari

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.