Akurat Logo

Melalui Semangat Assisi, Menag Nasaruddin Umar Dorong Bahasa Agama Jadi Instrumen Utama Diplomasi Global

Wahyu SK | 1 November 2026, 21:55 WIB
Melalui Semangat Assisi, Menag Nasaruddin Umar Dorong Bahasa Agama Jadi Instrumen Utama Diplomasi Global
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, berbicara dalam Forum 16-Prayer, Dialogue and Peace: The Legacy of Assisi di Assisi, Italia. - Foto: Bakom RI

AKURAT.CO Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, menerima apresiasi luar biasa dari para tokoh lintas iman dunia dalam rangkaian Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Sant'Egidio bertajuk "Unarmed and Disarming Peace" di Assisi, Italia.

Tampil sebagai pembicara kunci dalam forum khusus tingkat tinggi "Forum 16-Prayer, Dialogue and Peace: The Legacy of Assisi" di Casa, Assisi, Nasaruddin secara berani menantang pola diplomasi konvensional.

Lewat makalah ilmiah strategis bertajuk "Beyond Tolerance, Beyond Domination: Progressive Pluralism and Ecotheology in the Indonesian Archipelago", Nasaruddin menegaskan bahwa Indonesia kini menjadi episentrum baru peradaban Islam modern yang ramah, progresif, dan inklusif.

Dalam orasi utamanya, Nasaruddin mengkritik tajam keterbatasan KTT lintas agama internasional tradisional yang kerap berakhir sebagai seremonial belaka.

Ia menegaskan bahwa krisis dunia saat ini memerlukan aksi nyata. Bukan sekadar simbol di atas meja perundingan.

"Dialog lintas agama tidak boleh berhenti hanya sebagai dokumen kesepakatan di atas kertas, melainkan harus ditransformasikan menjadi aksi kemanusiaan yang nyata," ujar Nasaruddin, disambut gemuruh tepuk tangan apresiatif dari ratusan hadirin.

Ia menekankan bahwa perdamaian sejati menuntut aksi kemanusiaan dan gerakan perlindungan lingkungan yang langsung meringankan beban masyarakat di akar rumput.

Dua Pilar Utama: Pluralisme Progresif dan Ekoteologi Nusantara

Nasaruddin memaparkan secara mendalam dua pilar utama pemikirannya yang menjadi peta jalan baru bagi harmoni global:

Pluralisme Progresif (Beyond Tolerance): Nasaruddin menegaskan bahwa kerukunan sejati di Kepulauan Nusantara tidak dibangun di atas ego mayoritas-minoritas atau sekadar toleransi pasif. Pluralisme progresif menuntut penghormatan tulus atas perbedaan nilai universal tanpa memaksa penyeragaman. "Yang sama jangan dipaksa berbeda, yang berbeda jangan dipaksa sama," katanya.

Ekoteologi Nusantara (Beyond Domination): Nasaruddin mengidentifikasi bahwa krisis iklim global berakar dari cara pandang teologi yang terlalu maskulin, yang condong pada dominasi dan eksploitasi alam sebagai objek.

Baca Juga: Kemenag Siapkan Rp600 Miliar untuk Guru Madrasah yang Belum Tersertifikasi

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

W
Reporter
Wahyu SK
W
Editor
Wahyu SK