Ada Swasembada Pangan dan Transisi Energi, Indonesia Siap Hadapi Ancaman Penutupan Selat Hormuz

AKURAT.CO Kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional mendapat dukungan dari sektor industri, termasuk dari PT Pupuk Indonesia (Persero).
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa arah kebijakan Presiden Prabowo yang mendorong integrasi sektor pangan dan energi menjadi langkah strategis di tengah ketidakpastian global, khususnya terkait ancaman gangguan rantai pasok dunia.
Menurutnya, dinamika geopolitik seperti potensi gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 30 persen perdagangan pupuk dunia, dapat berdampak serius terhadap ketersediaan pangan global. Namun, Indonesia dinilai lebih siap menghadapi situasi tersebut.
Baca Juga: Krisis Global dan El Nino Uji Ketahanan Pangan, Pemerintah Harus Ambil Langkah Antisipasi
"Di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo, yang dieksekusi dengan baik oleh Kementerian Pertanian dan didukung DPR, kita bisa memastikan ekosistem pangan nasional tetap aman," ujar Rahmad dalam rapat bersama Komisi IV DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Dia menyebut, langkah pemerintah yang fokus pada swasembada pangan dan penguatan industri pendukung seperti pupuk, telah membuat Indonesia berada dalam posisi relatif aman dibanding sejumlah negara lain yang mulai terdampak krisis.
Selain sektor pangan, dia menyoroti kebijakan Presiden Prabowo dalam mendorong transisi energi melalui pengembangan bahan bakar nabati B50. Program ini dinilai tidak hanya mengurangi ketergantungan impor energi, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
"Kami mendapat penugasan untuk mendukung implementasi B50, yang membutuhkan pembangunan dua pabrik metanol untuk mengonversi CPO menjadi biofuel," jelasnya.
Saat ini, kebutuhan metanol nasional masih bergantung pada impor sekitar 1,5 juta ton per tahun dan berpotensi meningkat hingga 2,5 juta ton jika tidak diantisipasi. Untuk itu, pembangunan pabrik metanol menjadi bagian penting dari strategi besar pemerintah.
Baca Juga: Mentan: WFH ASN Tak Berdampak pada Produksi Pangan Nasional
Dua fasilitas tersebut direncanakan dibangun di Lhokseumawe dan Bontang, dengan kesiapan proyek yang disebut telah memasuki tahap lanjutan, termasuk studi kelayakan dan kerja sama pasokan energi.
Rahmad menilai, kombinasi kebijakan pangan dan energi yang dijalankan pemerintah saat ini menunjukkan arah kepemimpinan yang responsif terhadap tantangan global. "Dengan kebijakan ini, Indonesia tidak hanya menjaga ketahanan pangan, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional," katanya.
Dia pun optimistis, di tengah tekanan global yang meningkat, langkah strategis Presiden Prabowo akan membuat Indonesia tetap stabil, sekaligus berdaya saing dalam menjaga ketersediaan pangan dan energi di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 2Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 3Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 4Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 5Pindar UKU Salurkan Rp687,18 Miliar dengan Pinjaman Macet Hanya 2,48 Persen, Jaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Risiko
- 6Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 7Blue Bird Cetak Laba Rp474 Miliar, Salah Satunya Ditopang oleh Keuntungan Penjualan Armada yang Melonjak
- 8Jadwal Siaran Langsung Liga Champions Malam Ini: Barcelona vs Aston Villa, MU vs AS Roma
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar









