Pengawasan Lemah, Kasus Pagar Laut Ilegal Ancam Ekosistem dan Mata Pencaharian Nelayan

AKURAT.CO Kasus pemasangan pagar laut ilegal yang terjadi di Kabupaten Tangerang dan Bekasi bukan sekadar pelanggaran administratif biasa, tetapi mencerminkan lemahnya pengawasan terhadap pemanfaatan ruang laut di Indonesia.
Anggota Komisi IV DPR RI, Saadiah Uluputty, menilai, peraturan yang ada masih belum cukup untuk menegakkan keadilan dan menjaga kelestarian ekosistem laut.
Jika tidak ada tindakan tegas, pelanggaran serupa bisa terus berulang di berbagai daerah pesisir lainnya.
Menurutnya, penyelesaian kasus ini tidak cukup hanya dengan sanksi administratif tanpa langkah hukum yang lebih tegas.
“Praktik ilegal seperti ini tidak hanya merugikan lingkungan tetapi juga mengancam mata pencaharian nelayan yang menggantungkan hidupnya pada akses ke laut,” ujar Saadiah dalam keterangannya, Rabu (5/3/2025).
Baca Juga: Ahok Senang Jika Diperiksa Soal Kasus Korupsi Pertamina, Ini Kata Jampidsus
Ia menambahkan bahwa pemasangan pagar laut ilegal bukan hanya soal izin, tetapi juga memiliki dampak luas terhadap lingkungan dan sosial-ekonomi masyarakat pesisir.
Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), eksploitasi ruang laut tanpa izin berpotensi menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, terganggunya jalur migrasi ikan, serta menurunnya populasi biota laut akibat kerusakan ekosistem pesisir.
Di sisi lain, nelayan yang bergantung pada perairan sekitar menghadapi kesulitan karena akses mereka terhadap sumber daya laut semakin terbatas.
Situasi ini diperburuk dengan belum adanya kebijakan yang memberikan perlindungan yang cukup bagi mereka.
Data KKP menunjukkan lebih dari 60 persen nelayan di wilayah pesisir mengalami penurunan hasil tangkapan akibat berbagai faktor, termasuk pembatasan akses oleh pembangunan ilegal.
Selain dampak ekonomi, dampak sosial dari kasus ini juga tak bisa diabaikan.
Ketidaktegasan KKP dalam menyikapi pelanggaran ini menjadi perhatian serius. Sanksi administratif, meskipun penting, tidak cukup untuk memberikan efek jera.
Baca Juga: DEPINAS SOKSI Gelar Santunan Anak Yatim dan Buka Puasa Bersama di Bulan Ramadhan
Dalam beberapa kasus, pelaku pelanggaran hanya menganggap denda sebagai "biaya operasional" untuk tetap menjalankan bisnis ilegal mereka.
Jika hal ini terus dibiarkan, perbaikan dalam tata kelola ruang laut akan sulit tercapai.
KKP seharusnya tidak hanya bertindak setelah pelanggaran terjadi, tetapi juga mengambil langkah preventif agar kejadian serupa tidak terulang.
Penguatan mekanisme pengawasan melalui teknologi satelit dan patroli laut yang lebih intensif harus menjadi prioritas.
Selain itu, keterlibatan aparat penegak hukum sangat penting untuk memastikan bahwa pelanggar tidak hanya dikenakan denda, tetapi juga dituntut secara hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku.
UU No. 32 Tahun 2014 tentang Kelautan dan Permen KP No. 30 Tahun 2021 tentang Pengawasan Ruang Laut seharusnya menjadi dasar hukum yang kuat dalam menindak pelanggaran ini.
Saadiah Uluputty menegaskan perlunya revisi regulasi agar sanksi lebih kuat dengan memperbarui aturan yang ada sehingga memberikan hukuman lebih tegas bagi pelaku pelanggaran, termasuk pidana bagi perusahaan atau individu yang sengaja merusak ekosistem laut.
Baca Juga: PIK 2 dan Kontribusi Swasta: Peluang Ekonomi di Tengah Tantangan Regulasi
Pemerintah juga harus lebih aktif dalam melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat pesisir serta aparat desa mengenai aturan pemanfaatan ruang laut.
Selain itu, penguatan teknologi pengawasan sangat diperlukan.
Sistem pemantauan satelit dan drone dapat membantu mendeteksi pelanggaran sejak dini serta mempercepat respons pemerintah dalam menangani kasus-kasus semacam ini.
Kasus pagar laut di Tangerang dan Bekasi adalah contoh nyata bagaimana eksploitasi ruang laut dapat terjadi dengan mudah jika tidak ada penegakan hukum yang kuat.
Jika KKP terus bersikap setengah hati dalam menangani kasus ini, maka bukan tidak mungkin wilayah pesisir lainnya akan mengalami nasib serupa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon









