Akurat Logo

Bagaimana Cara Menguatkan Mata Uang yang Melemah? Ini 7 Strateginya

Redaksi Akurat | 28 Oktober 2026, 17:10 WIB
Bagaimana Cara Menguatkan Mata Uang yang Melemah? Ini 7 Strateginya
Rupiah tembus Rp18.000. Simak skenario BI, IHSG, foreign flow, dan SBN menurut analisis Mirae Asset. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu perhatian dalam perekonomian Indonesia. Ketika rupiah melemah, dampaknya tidak hanya terlihat pada nilai tukar, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga barang impor, biaya produksi, hingga daya beli masyarakat.

Pelemahan rupiah dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, perubahan suku bunga AS, arus modal asing, hingga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Lantas, bagaimana cara menguatkan mata uang yang melemah? Upaya tersebut tidak hanya dilakukan melalui intervensi pasar, tetapi juga dengan memperkuat ekonomi dalam negeri.

Baca Juga: Kurs Dolar ke Rupiah Hari Ini 9 Juli 2026: Rupiah Melemah Terobos Level Rp18 Ribu

Dikutip dari berbagai sumber, berikut tujuh strategi yang dapat dilakukan untuk membantu menguatkan mata uang.

1. Bank Sentral Melakukan Intervensi Nilai Tukar

Salah satu cara menguatkan mata uang yang melemah adalah melalui intervensi bank sentral di pasar valuta asing atau valas.

Ketika nilai mata uang domestik mengalami tekanan, bank sentral dapat menjual cadangan devisa dan membeli mata uang domestik untuk membantu menstabilkan nilai tukar. Langkah ini dapat digunakan ketika pergerakan pasar terlalu bergejolak.

Di Indonesia, Bank Indonesia memiliki berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah, termasuk intervensi di pasar valas melalui transaksi spot dan instrumen derivatif tertentu.

Namun, intervensi tidak bisa menjadi solusi untuk semua masalah. Jika tekanan terhadap mata uang berlangsung lama akibat kondisi ekonomi yang kurang baik, diperlukan perbaikan ekonomi yang lebih mendasar.

2. Mengatur Suku Bunga untuk Menarik Investor

Kebijakan suku bunga juga dapat memengaruhi nilai mata uang. Ketika suku bunga meningkat, aset keuangan dalam mata uang domestik berpotensi menjadi lebih menarik bagi investor.

Jika permintaan terhadap aset tersebut meningkat, permintaan terhadap mata uang domestik juga bisa bertambah sehingga nilai tukarnya berpeluang menguat.

Meski begitu, menaikkan suku bunga bukan keputusan yang bisa diambil sembarangan. Suku bunga yang terlalu tinggi dapat membuat cicilan dan pinjaman usaha lebih mahal, sehingga konsumsi serta investasi berpotensi melambat.

Karena itu, bank sentral perlu mempertimbangkan inflasi, stabilitas nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi sebelum mengubah suku bunga.

3. Meningkatkan Ekspor agar Devisa Bertambah

Ekspor merupakan salah satu sumber devisa bagi suatu negara. Ketika produk dalam negeri dijual ke pasar internasional, transaksi tersebut dapat menghasilkan penerimaan mata uang asing.

Untuk meningkatkan ekspor, pemerintah dapat mendukung industri lokal, memperbaiki kualitas produk, memperluas pasar perdagangan, dan mendorong pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai tambah.

Sebagai contoh, Indonesia bisa meningkatkan daya saing produk pertanian olahan, tekstil, hasil perikanan, dan produk manufaktur agar mampu bersaing di pasar global.

Jika penerimaan ekspor meningkat dan faktor lainnya mendukung, pasokan devisa dapat menjadi lebih kuat. Meski demikian, dampaknya terhadap nilai tukar juga bergantung pada kebutuhan impor dan arus modal.

Baca Juga: IHSG Dibuka Memerah 0,13 Persen di Tengah Sentimen Harga Minyak Global dan Suku Bunga AS

4. Mengurangi Ketergantungan pada Barang Impor

Ketika suatu negara terlalu bergantung pada impor, kebutuhan mata uang asing untuk membayar barang dari luar negeri juga dapat meningkat.

Salah satu cara mengurangi tekanan tersebut adalah memperkuat industri dalam negeri agar mampu memproduksi barang yang sebelumnya banyak didatangkan dari luar negeri.

Pemerintah dapat membantu melalui pengembangan teknologi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, perbaikan infrastruktur, dan kemudahan bagi pelaku usaha.

Namun, mengurangi impor bukan berarti menghentikan seluruh perdagangan dengan negara lain. Bahan baku, mesin, dan teknologi dari luar negeri tetap dibutuhkan untuk mendukung produksi.

Karena itu, strategi yang lebih tepat adalah mengurangi ketergantungan pada impor yang dapat diproduksi secara efisien di dalam negeri sekaligus meningkatkan kemampuan ekspor.

5. Mengendalikan Inflasi agar Daya Beli Terjaga

Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu. Jika harga terus naik, daya beli masyarakat akan menurun karena uang yang dimiliki hanya mampu membeli lebih sedikit barang.

Inflasi yang tinggi dan berlangsung lama juga dapat memengaruhi daya saing ekonomi, terutama jika kenaikan harga di dalam negeri lebih cepat dibandingkan negara mitra dagang.

Untuk mengatasinya, pemerintah dapat menjaga kelancaran distribusi pangan, memastikan pasokan kebutuhan pokok mencukupi, dan memperbaiki sistem logistik.

Sementara itu, bank sentral berperan menjaga kestabilan moneter dan mengendalikan tekanan inflasi melalui kebijakan yang sesuai.

Inflasi yang terkendali membantu menjaga daya beli sekaligus mendukung kestabilan ekonomi dalam jangka panjang.

6. Menarik Investasi Asing yang Produktif

Investasi asing juga dapat membantu memperkuat perekonomian dan mendukung stabilitas mata uang. Ketika investor menanamkan modal untuk membangun pabrik, mengembangkan usaha, atau memperluas produksi, kegiatan ekonomi dan lapangan kerja berpotensi meningkat.

Agar investor tertarik, pemerintah perlu memberikan kepastian hukum, menyederhanakan birokrasi, memperbaiki infrastruktur, dan menjaga konsistensi kebijakan.

Investasi yang masuk ke sektor produktif dapat membantu meningkatkan kapasitas industri dan mendorong ekspor.

Namun, investasi asing tidak selalu membuat mata uang menguat. Arus modal bisa berubah ketika kondisi global memburuk atau investor menilai risiko suatu negara meningkat. Oleh sebab itu, kualitas investasi dan ketahanan ekonomi tetap penting.

7. Menjaga Kepercayaan Investor terhadap Ekonomi Negara

Kepercayaan investor menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan nilai tukar. Investor biasanya memperhatikan kondisi politik, kepastian hukum, kebijakan pemerintah, dan prospek pertumbuhan ekonomi sebelum menanamkan modal.

Jika suatu negara memiliki kebijakan yang konsisten dan kondisi ekonomi yang relatif stabil, investor berpotensi lebih percaya untuk menanamkan modal dalam jangka panjang.

Sebaliknya, ketidakpastian kebijakan atau kekhawatiran terhadap kondisi keuangan negara dapat membuat investor mengurangi investasinya.

Karena itu, pemerintah perlu menjaga pengelolaan anggaran, memastikan belanja negara digunakan secara produktif, serta menciptakan iklim usaha yang mendukung pertumbuhan ekonomi.

Cara menguatkan mata uang yang melemah membutuhkan kerja sama antara pemerintah dan bank sentral. Intervensi pasar dan kebijakan suku bunga dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar, sedangkan peningkatan ekspor, pengendalian inflasi, penguatan industri lokal, dan investasi produktif dapat memperkuat fondasi ekonomi.

Tidak ada satu kebijakan yang selalu berhasil dalam semua kondisi. Nilai mata uang juga dipengaruhi situasi ekonomi global dan pergerakan pasar keuangan internasional.

Pada akhirnya, mata uang yang kuat dan stabil perlu didukung ekonomi yang produktif, daya saing yang baik, dan kepercayaan investor. Dengan begitu, penguatan nilai tukar dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Primandha Rachma Auzia (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R