Nasdaq Turun, Risiko Hormuz Hantam Saham Teknologi

AKURAT.CO Lonjakan harga minyak dan potensi gangguan di Selat Hormuz menjadi risiko baru bagi saham teknologi Amerika Serikat, yang sebelumnya dianggap sebagai aset defensif.
Harga minyak Brent naik ke USD106 per barel di tengah meningkatnya ketegangan Iran. Bahkan, skenario ekstrem menunjukkan harga minyak bisa mencapai USD150 hingga USD200 per barel, menurut analisis pelaku pasar global.
Baca Juga: Harga Minyak Bisa Tembus USD200, AS Mulai Kaji Beberapa Skenario
Indeks Nasdaq 100 turun 2,4%, sementara saham teknologi besar seperti Meta Platforms Inc. dan Nvidia Corp. mencatat penurunan signifikan.
Melissa Brown dari Simcorp menilai bahwa teknologi tidak lagi menjadi “safe haven” dalam kondisi saat ini.
“Penutupan Selat Hormuz bukan hanya soal minyak, tetapi juga sumber daya lain yang penting bagi industri teknologi,” ujarnya dikutip dari laman reuters.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global, dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan di jalur ini secara historis memicu lonjakan harga energi dan tekanan inflasi global.
Di sisi lain, Iran dilaporkan tengah menyusun kebijakan baru terkait biaya pelayaran di kawasan tersebut, yang berpotensi memperburuk gangguan logistik.
Baca Juga: Imbas Harga Minyak Memanas, INACA Ajukan Kenaikan TBA dan Fuel Surcharge
Tekanan tambahan juga datang dari inovasi teknologi, seperti pengumuman teknik kompresi baru oleh Google yang dapat mengurangi kebutuhan memori AI, sehingga menekan prospek permintaan chip global.
Kenaikan harga energi meningkatkan biaya operasional perusahaan teknologi, terutama dalam rantai pasok dan produksi semikonduktor.
Saham chip global seperti Micron dan Sandisk ikut terkoreksi, diikuti produsen Asia seperti SK Hynix dan Kioxia. Hal ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap permintaan jangka menengah sektor teknologi.
Selain itu, kenaikan yield obligasi memperburuk tekanan terhadap valuasi saham teknologi yang bergantung pada ekspektasi pertumbuhan jangka panjang.
Investor saat ini menunggu kepastian terkait stabilitas Selat Hormuz dan arah konflik Iran. Selama risiko geopolitik tinggi dan harga minyak bertahan, volatilitas saham teknologi diperkirakan masih berlanjut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon









