Kredit Perbankan Juni 2026 Tumbuh 12 Persen, Destry Damayanti: Masih Ada Ruang, Dana Perbankan Belum Tersalurkan Secara Optimal

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) menilai fungsi intermediasi perbankan masih belum berjalan optimal meski pertumbuhan kredit nasional tetap berada pada level dua digit.
Otoritas moneter melihat masih besarnya dana yang belum disalurkan menjadi kredit, sehingga ruang pembiayaan bagi sektor riil sebenarnya masih terbuka.
BI mencatat pada Juni 2026, kredit perbankan tercatat tumbuh lebih dari 12% secara tahunan, sehingga kenaikan suku bunga acuan belum menekan penyaluran pembiayaan secara signifikan.
Pelaksana Tugas (Pjs) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan, kondisi tersebut tercermin dari besarnya nilai undisbursed loan atau kredit yang telah disetujui tetapi belum dicairkan.
"Kalau kita gampang saja ya, kita lihat undisbursed loan itu masih Rp2.500-an triliun. Artinya memang masih ada ruang sebenarnya bagi bank untuk menyalurkan dananya. Tapi ini belum digunakan secara optimal," kata Destry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) III Tahun 2026 di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, sebagian dana perbankan justru masih ditempatkan pada instrumen moneter Bank Indonesia, khususnya Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Yang terjadi kita melihat bank memiliki outstanding SRBI yang begitu tinggi. Padahal SRBI itu sebenarnya untuk liquidity management, bukan untuk dipupuk sebagai instrumen investasi," ujarnya.
Destry mengungkapkan sekitar 63% kepemilikan SRBI saat ini berada di tangan perbankan, sementara kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) oleh bank relatif lebih terkendali di kisaran 19-20%.
Karena itu, BI mulai mengubah strategi pengelolaan SRBI agar lebih terarah untuk menarik aliran modal asing sekaligus mendorong bank kembali menjalankan fungsi intermediasi.
"Ke depan kebijakan SRBI kami memang lebih targeted. Kita ingin mendorong inflow, sehingga suku bunga SRBI juga sudah mulai turun," katanya.
Dirinya menyebut outstanding SRBI mulai mengalami penurunan. Hingga akhir Juli, nilainya turun menjadi sekitar Rp1.050 triliun, dari posisi tertinggi sekitar Rp1.097 triliun pada 16 Juli. Dalam waktu sekitar dua pekan, outstanding SRBI telah berkurang sekitar Rp40 triliun.
"Kita ingin bank juga memang bisa lebih aktif memainkan perannya sebagai lembaga intermediasi untuk kredit," ujar Destry.
Menurut Destry, kredit perbankan yang masih ekspansif menjadi salah satu alasan BI berani menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin pada Mei dan Juni lalu. Kebijakan tersebut diambil ketika tekanan terhadap rupiah meningkat akibat gejolak global, ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat, serta lonjakan harga minyak dunia.
"Pada saat itu kondisi global sangat volatile. Tekanan kepada rupiah juga sedang tinggi sehingga stance Bank Indonesia terhadap stabilitas memang kita perkuat, salah satunya dengan menaikkan suku bunga 100 basis poin," jelasnya.
Destry mengatakan kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil. Arus modal asing kembali masuk ke pasar keuangan domestik, terutama ke instrumen SBN dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI).
"Secara total sudah terjadi inflow sekitar USD8,5 miliar sampai USD9 miliar. Ini tentunya akan menambah cadangan devisa kita," kata Destry.
Selain itu, inflasi juga menunjukkan perbaikan. Inflasi pangan bergejolak (volatile food) turun dari di atas 5% menjadi sekitar 2,5%, sementara inflasi inti tetap stabil di kisaran 2,76%. Adapun inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat turun menjadi 2,88%.
"Artinya aktivitas ekonomi tidak mengalami overheating dan stabilitas ekonomi tetap terjaga. Pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir juga relatif lebih terkendali," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Destry juga memastikan kondisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang aman meski mengalami penurunan sejak awal tahun.
Ia menjelaskan posisi cadangan devisa sempat mencapai sekitar USD156 miliar pada awal 2026, sebelum turun menjadi sekitar USD145 miliar. Penurunan tersebut antara lain digunakan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah serta pembayaran kewajiban luar negeri pemerintah.
"Posisi cadangan kita tertinggi di 2026 itu sekitar USD156 miliar. Sekarang posisinya USD145 miliar. Itu termasuk digunakan untuk stabilisasi rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah," ujar Destry.
Meski menurun, BI menegaskan cadangan devisa tersebut masih jauh di atas standar kecukupan internasional. Posisinya setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, lebih tinggi dibandingkan standar internasional sekitar tiga bulan.
"Angka USD145 miliar itu masih sangat kuat karena setara sekitar 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, sementara benchmark internasional hanya sekitar tiga bulan," kata Destry.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Unggah Video Veda Ega Pratama Salip David Munoz, Akun Resmi MotoGP 'Diserbu' Netizen
- 2Kalender Jawa 19 September 2026: Watak Weton Sabtu Wage, Setia dan Berpendirian Kuat
- 3Soal Dualitas Alumni Universitas Trisakti, Menteri Maman: Hanya Ada Satu Ikatan yakni IKA Trisakti
- 4Komposisi Pemain Asing Persija Belum Penuh, Manajer Minta Soal Skuad Percayakan ke Shin Tae-yong
- 5Kalender Jawa 21 September 2026: Watak Weton Senin Legi, Sopan dan Mudah Bergaul
- 6Cuaca Hari Ini 19 September 2026: BMKG Peringatkan Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah
- 7Asian Games: Pebulutangkis Juara Dunia Junior Thailand Dinyatakan Positif Doping
- 8Jose Mourinho Tunjukkan Gambar Pelanggaran, Babak Baru Perang Real Madrid dan Wasit?
- 9OTT Lagi, KPK Amankan Bupati Bolaang Mongondow Utara Bersama 13 Orang Lainnya
- 10Sidang Sudewo Ricuh, KPK Tegaskan Tuntutan Disusun Berdasarkan Fakta










