Ilmuwan Ungkap 2 Usia dalam Hidup Ini Alami Lonjakan Penuaan

AKURAT.CO Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa proses penuaan manusia mungkin tidak terjadi secara bertahap, melainkan dalam dua lonjakan besar.
Studi ini melibatkan analisis molekul dalam darah, kotoran, serta penyeka kulit, mulut dan hidung dari individu berusia 25 hingga 75 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa lonjakan penuaan terjadi pada sekitar usia 44 dan 60 tahun.
Penemuan ini dapat menjelaskan mengapa masalah kesehatan tertentu, seperti penyakit kardiovaskular dan gangguan muskuloskeletal, cenderung muncul pada usia tersebut.
Temuan ini juga sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa risiko penyakit terkait usia seperti Alzheimer dan penyakit jantung meningkat tajam setelah usia 60 tahun.
Baca Juga: Lolos Tes Anti Penuaan dan Goresan, OPPO Reno12 F Series Meluncur Agustus di Indonesia
Profesor Michael Snyder, ahli genetika dan direktur Pusat Genomik dan Pengobatan yang Dipersonalisasi di Universitas Stanford, mengungkapkan bahwa perubahan dalam tubuh tidak terjadi secara bertahap.
"Ternyata pertengahan 40-an adalah waktu perubahan dramatis, seperti awal 60-an, dan itu benar tidak peduli kelas molekul apa yang Anda lihat," ujar Michael, dikutip dari Metro.co.uk, Minggu (25/8/2024).
Studi ini melibatkan 108 sukarelawan yang memberikan sampel secara berkala selama satu hingga enam tahun. Para peneliti menemukan bahwa kebanyakan molekul dan mikroba mengalami perubahan signifikan pada usia pertengahan 40-an dan awal 60-an.
Gelombang perubahan pertama pada usia 40-an melibatkan molekul yang terkait dengan penyakit kardiovaskular dan metabolisme zat seperti kafein dan alkohol.
Gelombang kedua pada awal 60-an melibatkan perubahan molekul yang berkaitan dengan regulasi kekebalan tubuh, metabolisme karbohidrat dan fungsi ginjal.
Awalnya, para peneliti mengira lonjakan perubahan pada usia 40-an disebabkan oleh menopause pada wanita. Namun, perubahan serupa juga ditemukan pada pria, menunjukkan adanya faktor lain yang mempengaruhi perubahan tersebut pada kedua jenis kelamin.
Temuan ini diharapkan dapat membantu mengarahkan intervensi yang lebih tepat, seperti meningkatkan aktivitas fisik pada usia tertentu untuk mencegah penurunan massa otot yang lebih cepat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Unggah Video Veda Ega Pratama Salip David Munoz, Akun Resmi MotoGP 'Diserbu' Netizen
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Komposisi Pemain Asing Persija Belum Penuh, Manajer Minta Soal Skuad Percayakan ke Shin Tae-yong
- 4Kalender Jawa 23 September 2026: Watak Weton Rabu Pon Dikenal Cerdas dan Mudah Bergaul
- 5Diduga Singgung Status Pendatang Shin Tae-yong, Direktur Teknik Java United Lakukan Rasisme?
- 6Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 7Kalender Jawa 21 September 2026: Watak Weton Senin Legi, Sopan dan Mudah Bergaul
- 8Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 9BGN Hentikan Permanen Operasional Empat Dapur MBG
- 10KPK Buka Peluang Penyidikan Baru Usut Dugaan Aliran Uang ke Pimpinan dan Anggota Komisi VIII DPR





