Akurat Logo

Sering Kena Mental Health Break? Ini Cara Rasulullah Mengatasi Burnout dan Tekanan Hidup yang Bisa Ditiru Gen Z

Lufaefi | 27 Oktober 2026, 08:00 WIB
Sering Kena Mental Health Break? Ini Cara Rasulullah Mengatasi Burnout dan Tekanan Hidup yang Bisa Ditiru Gen Z
Ilustrasi. Gen Z menutupi masalah mental hingga berpura-pura paham demi bertahan di kantor. - Magnific

AKURAT.CO Kehidupan generasi muda saat ini bergerak dengan ritme yang serba cepat. Kuliah, pekerjaan, target karier, tuntutan keluarga, persoalan finansial, hingga tekanan dari media sosial dapat datang bersamaan. Tidak mengherankan jika istilah burnout, mental health break, dan healing semakin sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa lelah secara fisik maupun emosional.

Dalam perspektif Islam, menghadapi tekanan hidup bukan berarti seseorang harus selalu terlihat kuat. Rasulullah SAW juga pernah menghadapi masa-masa berat dalam kehidupan. Bedanya, beliau menunjukkan bagaimana tekanan dan kesedihan dihadapi dengan kesabaran, doa, ibadah, ikhtiar, serta dukungan dari orang-orang terdekat.

Salah satu prinsip penting yang dapat diteladani adalah memberikan ruang bagi diri untuk beristirahat tanpa kehilangan arah. Istirahat bukan berarti menyerah. Tubuh memiliki hak untuk mendapatkan waktu pemulihan setelah menjalani aktivitas yang melelahkan.

Baca Juga: 5 Panduan Islam Menumbuhkan Rasa Empati pada Remaja Zaman Sekarang

Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa tubuh memiliki hak yang harus dipenuhi.

إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak yang harus kamu penuhi.” (HR. Bukhari).

Pesan tersebut relevan bagi generasi yang sering merasa harus terus produktif. Mengejar prestasi memang penting, tetapi memaksakan diri tanpa batas justru dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk bekerja secara sehat. Karena itu, tidur yang cukup, makan dengan baik, berolahraga, dan mengambil jeda dari aktivitas yang menguras energi dapat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga amanah tubuh.

Ketika menghadapi tekanan, Rasulullah SAW juga menjadikan salat sebagai salah satu sumber ketenangan. Salat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi juga ruang bagi seorang Muslim untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan dan mengembalikan orientasi hidup kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45).

Bagi Gen Z yang terbiasa menghadapi notifikasi tanpa henti, mengambil jeda dari gawai juga dapat menjadi bentuk ikhtiar. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dalam satu malam. Ada kalanya seseorang perlu mengurangi paparan media sosial, berhenti membandingkan kehidupannya dengan orang lain, kemudian kembali menyusun prioritas.

Rasulullah SAW juga tidak mengajarkan manusia untuk memendam seluruh persoalan sendirian. Dalam kehidupan beliau, hubungan dengan keluarga, sahabat, dan para pengikut menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai situasi sulit.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi