Akurat Logo

Etika Berkomentar dan Menjaga Jempol di Sosmed Menurut Al-Qur'an

Lufaefi | 27 Oktober 2026, 08:40 WIB
Etika Berkomentar dan Menjaga Jempol di Sosmed Menurut Al-Qur'an
Media Sosial - Istimewa

AKURAT.CO Media sosial telah menjadi ruang publik baru bagi masyarakat modern. Seseorang bisa menyampaikan pendapat hanya dalam hitungan detik, membagikan informasi kepada ribuan orang, bahkan ikut memengaruhi opini publik melalui satu unggahan.

Namun, kemudahan tersebut juga membawa persoalan baru. Tidak sedikit perdebatan di media sosial berubah menjadi saling menghina, menyebarkan tuduhan, membuka aib, hingga menyampaikan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Dalam situasi seperti ini, umat Islam memiliki prinsip etika yang dapat dijadikan pedoman sebelum menekan tombol kirim. Al-Qur'an tidak berbicara tentang media sosial secara langsung karena teknologi tersebut belum ada pada masa turunnya wahyu. Namun, nilai-nilai Al-Qur'an mengenai perkataan, informasi, kehormatan manusia, dan tanggung jawab moral sangat relevan untuk diterapkan dalam aktivitas digital.

Salah satu prinsip paling penting adalah memastikan kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Baca Juga: 5 Panduan Islam Menumbuhkan Rasa Empati pada Remaja Zaman Sekarang

Ayat ini menjadi sangat relevan di era ketika informasi dapat menyebar jauh lebih cepat daripada proses verifikasi. Sebelum meneruskan sebuah berita, pengguna media sosial perlu bertanya: apakah informasi ini benar, dari mana sumbernya, dan apakah penyebarannya membawa manfaat atau justru menimbulkan kerugian?

Al-Qur'an juga memberikan perhatian serius terhadap cara manusia berbicara. Allah SWT berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83).

Di media sosial, “berkata” tidak hanya berarti berbicara menggunakan suara. Menulis komentar, membuat unggahan, mengunggah video, memberikan caption, hingga membalas komentar juga merupakan bentuk komunikasi. Karena itu, jempol yang mengetik sebenarnya memiliki konsekuensi etis sebagaimana lisan yang berbicara.

Persoalan lain yang sering muncul adalah kebiasaan mengolok-olok orang lain. Perbedaan pendapat mengenai politik, agama, gaya hidup, pendidikan, maupun persoalan sosial tidak seharusnya berubah menjadi penghinaan terhadap pribadi seseorang.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok.” (QS. Al-Hujurat: 11).

Prinsip tersebut mengajarkan bahwa kritik dan perbedaan pendapat tetap membutuhkan adab. Kritik terhadap gagasan boleh dilakukan, tetapi merendahkan martabat manusia bukanlah ukuran kecerdasan dalam berdiskusi.

Al-Qur'an juga mengingatkan bahaya membicarakan keburukan orang lain tanpa alasan yang dibenarkan. Allah SWT berfirman:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Di media sosial, ghibah dapat muncul dalam bentuk komentar, unggahan sindiran, tangkapan layar percakapan pribadi, atau konten yang membicarakan keburukan seseorang kepada publik. Karena itu, menjaga jempol berarti belajar menahan dorongan untuk selalu merespons segala sesuatu.

Menariknya, etika digital dalam perspektif Al-Qur'an tidak berarti umat Islam harus diam terhadap semua persoalan. Islam tetap membuka ruang untuk menyampaikan kritik, mengingatkan kesalahan, dan membela kebenaran. Yang menjadi persoalan adalah cara, tujuan, dan dampak komunikasi tersebut.

Baca Juga: MUI Minta Umat Islam Tak Lagi Undang Habib Alwi, Soroti Ceramah yang Viral

Sebelum menulis komentar, seseorang dapat membiasakan diri dengan tiga pertanyaan sederhana: apakah yang saya tulis benar, apakah cara menyampaikannya baik, dan apakah komentar ini memberikan manfaat? Jika jawabannya tidak, mungkin tombol “kirim” memang tidak perlu ditekan.

Pada akhirnya, menjaga jempol di media sosial adalah bagian dari menjaga akhlak. Dunia digital mungkin membuat seseorang merasa berada di balik layar, tetapi setiap kata tetap memiliki dampak. Bagi seorang Muslim, aktivitas digital bukan ruang bebas nilai. Apa yang ditulis, dibagikan, dan dikomentari tetap menjadi bagian dari tanggung jawab moral di hadapan manusia sekaligus di hadapan Allah SWT.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi