Akurat Logo

5 Panduan Islam Menumbuhkan Rasa Empati pada Remaja Zaman Sekarang

Lufaefi | 26 Oktober 2026, 07:30 WIB
5 Panduan Islam Menumbuhkan Rasa Empati pada Remaja Zaman Sekarang
Panduan Empati kepada Generasi Muda dalam Islam - Istimewa

AKURAT.CO Di tengah kehidupan yang semakin terkoneksi melalui media sosial, kemampuan untuk memahami perasaan orang lain justru menjadi tantangan tersendiri bagi remaja. Seseorang bisa memiliki ratusan teman di media sosial, tetapi belum tentu mampu memahami ketika orang di sekitarnya sedang menghadapi masalah.

Budaya digital juga membuat interaksi berlangsung serba cepat. Komentar dapat ditulis dalam hitungan detik, sementara dampaknya terhadap perasaan orang lain bisa berlangsung jauh lebih lama. Candaan yang dianggap biasa oleh seseorang, misalnya, bisa menjadi sesuatu yang menyakitkan bagi orang lain.

Dalam Islam, kepedulian terhadap sesama bukan sekadar persoalan kepribadian. Empati berkaitan dengan akhlak dan tanggung jawab sosial seorang Muslim.

Allah SWT berfirman:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

“Dan mereka mengutamakan orang lain atas dirinya sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan.” (QS. Al-Hasyr: 9).

Ayat tersebut menggambarkan salah satu bentuk empati yang tinggi, yaitu kemampuan melihat kebutuhan orang lain dan tidak selalu menempatkan kepentingan diri sebagai prioritas utama.

Lantas, bagaimana cara menumbuhkan empati pada remaja di tengah kehidupan modern?

  1. Belajar memahami perasaan sebelum memberikan penilaian

Empati dimulai dari kemampuan mendengarkan. Remaja perlu dibiasakan untuk tidak terburu-buru menyimpulkan keadaan orang lain hanya berdasarkan apa yang terlihat.

Seseorang yang terlihat diam belum tentu sombong. Teman yang tiba-tiba tidak aktif di media sosial belum tentu sedang menghindari pertemanan. Bahkan seseorang yang terlihat baik-baik saja bisa saja sedang menghadapi persoalan yang tidak diketahui orang lain.

Baca Juga: Dua Kunci Kebahagiaan Menurut Islam yang Jarang Diketahui Banyak Umat Islam

Islam mengajarkan pentingnya menghindari prasangka buruk. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Ayat ini relevan dengan kehidupan remaja di era digital. Jangan sampai seseorang menilai orang lain hanya berdasarkan unggahan, komentar, atau potongan informasi yang belum tentu menggambarkan keadaan sebenarnya.

  1. Membiasakan diri menolong meski dari hal kecil

Empati tidak cukup hanya dengan merasa kasihan. Ia perlu diwujudkan dalam tindakan.

Menanyakan keadaan teman, membantu ketika ada kesulitan, berbagi makanan, menemani orang yang sedang menghadapi masalah, atau sekadar memberikan dukungan dapat menjadi latihan empati yang sederhana.

Rasulullah SAW bersabda:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

Pesan tersebut mengajarkan bahwa kepedulian kepada sesama memiliki dimensi spiritual. Membantu orang lain bukan hanya memberikan manfaat kepada mereka, tetapi juga menjadi bagian dari amal seorang Muslim.

  1. Jangan menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan candaan

Salah satu ujian empati remaja zaman sekarang adalah budaya bercanda yang terkadang melewati batas.

Fisik, kondisi ekonomi, keluarga, kemampuan akademik, cara berbicara, hingga kekurangan seseorang dapat berubah menjadi bahan lelucon. Di media sosial, hal tersebut bahkan bisa menyebar kepada banyak orang hanya dalam hitungan menit.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi