Akurat Logo

Panduan Islam Menghadapi Berita Viral Agar Tidak Menjadi Dosa Jariah

Lufaefi | 15 Oktober 2026, 09:30 WIB
Panduan Islam Menghadapi Berita Viral Agar Tidak Menjadi Dosa Jariah
panduan Islam menghadapi berita viral - Istimewa

AKURAT.CO Di era media sosial, sebuah berita bisa menyebar hanya dalam hitungan detik. Satu kali menekan tombol “bagikan”, sebuah foto, video, potongan percakapan, atau kabar yang belum jelas kebenarannya dapat menjangkau ribuan orang. Masalahnya, tidak semua yang viral benar-benar layak dipercaya, apalagi disebarkan.

Di sinilah seorang Muslim perlu berhenti sejenak sebelum ikut menyebarkan sesuatu. Sebab, apa yang terlihat menarik belum tentu benar, dan apa yang benar belum tentu pantas disebarluaskan.

Al-Qur’an memberikan panduan yang sangat jelas mengenai pentingnya memeriksa informasi. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat tersebut relevan dengan kebiasaan masyarakat digital hari ini. Ketika sebuah berita viral muncul, langkah pertama bukan langsung percaya, melainkan tabayyun atau memeriksa kebenarannya.

Baca Juga: Puluhan Ribu Warga Korea Selatan Disebut Memeluk Islam di Tengah Tekanan Kehidupan Modern

Bayangkan seseorang menerima video yang memperlihatkan seorang tokoh melakukan sesuatu yang dianggap buruk. Tanpa membaca konteks, ia langsung mengunggah ulang dengan komentar negatif. Beberapa jam kemudian ternyata video tersebut merupakan potongan dari kejadian yang berbeda.

Unggahan pertama mungkin sudah terhapus. Namun, tangkapan layar telah beredar, video telah diunduh, dan narasinya telah menyebar ke berbagai grup. Kesalahan digital seperti ini sulit ditarik kembali.

Karena itu, sebelum membagikan berita viral, seorang Muslim setidaknya dapat mengajukan beberapa pertanyaan sederhana: Apakah sumbernya jelas? Apakah informasi tersebut sudah dikonfirmasi? Apakah videonya utuh atau hanya potongan? Siapa yang dirugikan jika berita itu ternyata salah? Dan yang tidak kalah penting, apakah informasi tersebut memang perlu diketahui orang lain?

Islam juga mengingatkan agar seseorang tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahui kebenarannya. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra: 36).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa aktivitas sederhana di media sosial pun memiliki konsekuensi moral. Menekan tombol “share” bukan sekadar aktivitas teknis. Di baliknya terdapat tanggung jawab atas informasi yang ikut kita sebarkan.

Lebih jauh, berita viral sering kali bersinggungan dengan kehormatan seseorang. Ketika informasi berisi aib, tuduhan, atau kehidupan pribadi seseorang, persoalannya tidak lagi sekadar benar atau salah. Ada hak manusia yang harus dijaga.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim).

Prinsip ini bukan berarti kesalahan yang membahayakan masyarakat harus selalu ditutup. Ada situasi ketika informasi perlu disampaikan kepada pihak berwenang demi mencegah mudarat. Namun, menyebarkan aib sekadar untuk hiburan, sensasi, atau mendapatkan perhatian tentu merupakan persoalan berbeda.

Di sinilah muncul istilah “dosa jariah” dalam konteks digital. Sebuah unggahan yang mengandung kebohongan, fitnah, penghinaan, atau penyebaran aib dapat terus disalin dan disebarkan orang lain. Jejak digitalnya mungkin bertahan jauh lebih lama daripada ingatan orang yang pertama kali membuatnya.

Baca Juga: Yuk Cek Lagi! Ini Cara Mudah Dapat Sertifikat Halal Gratis Sebelum Batas Waktu 2026

Maka, ketika berhadapan dengan berita viral, sikap terbaik seorang Muslim bukan menjadi orang pertama yang menyebarkan, tetapi menjadi orang yang paling bertanggung jawab dalam menyikapinya.

Jika benar dan bermanfaat, sebarkan dengan bijak. Jika belum jelas, tahan. Jika berpotensi merusak kehormatan orang lain, pikirkan kembali. Sebab dalam Islam, tidak semua yang bisa dibagikan harus dibagikan.

Di tengah banjir informasi, kemampuan untuk diam, memeriksa, dan menahan jari sebelum menekan tombol “bagikan” justru bisa menjadi bentuk ketakwaan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi