Kenapa Ibu Harus Melahirkan Caesar? Ini Penyebab yang Perlu Diketahui

AKURAT.CO Persalinan secara sesar atau caesar menjadi salah satu metode melahirkan yang dapat dipilih atau direkomendasikan dalam kondisi tertentu. Prosedur ini dilakukan dengan membuat sayatan pada dinding perut dan rahim untuk mengeluarkan bayi.
Pada dasarnya, persalinan sesar dilakukan ketika persalinan melalui vagina dinilai berisiko bagi ibu, bayi, atau keduanya. Tindakan ini dapat direncanakan sejak masa kehamilan maupun dilakukan sebagai tindakan darurat ketika muncul komplikasi saat persalinan.
Baca Juga: Kenapa Bayi Sering Terbangun di Malam Hari? Ini Penyebabnya
Lantas, apa saja faktor yang menyebabkan ibu harus melahirkan secara sesar? Berikut penjelasannya.
1. Posisi Bayi Tidak Normal
Salah satu alasan persalinan sesar dilakukan adalah posisi bayi yang tidak memungkinkan untuk dilahirkan dengan aman melalui vagina.
Contohnya, bayi berada dalam posisi sungsang, yaitu bokong atau kaki berada di bawah, atau posisi melintang ketika tubuh bayi melintang di dalam rahim.
Dalam kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan pilihan lain sesuai posisi bayi, usia kehamilan, dan kondisi ibu. Namun, jika persalinan normal dinilai terlalu berisiko, operasi sesar bisa menjadi pilihan yang lebih aman.
2. Ukuran Bayi Terlalu Besar
Ukuran bayi yang diperkirakan terlalu besar dibandingkan dengan panggul ibu juga dapat menjadi pertimbangan untuk melakukan persalinan sesar.
Kondisi ini berpotensi menyebabkan bayi sulit melewati jalan lahir. Risiko yang dapat muncul antara lain persalinan macet dan cedera saat proses kelahiran.
Meski begitu, perkiraan berat bayi bukan satu-satunya dasar untuk menentukan metode persalinan. Dokter akan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi kesehatan ibu dan riwayat kehamilan.
3. Plasenta Menutupi Jalan Lahir
Plasenta previa merupakan kondisi ketika plasenta berada di bagian bawah rahim dan menutupi sebagian atau seluruh pembukaan leher rahim.
Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan selama kehamilan maupun persalinan. Jika plasenta menutupi jalan lahir, persalinan melalui vagina umumnya tidak aman sehingga dokter dapat merekomendasikan operasi sesar.
Penanganannya bergantung pada posisi plasenta, usia kehamilan, serta kondisi ibu dan bayi.
Baca Juga: Menkes: Dokter Umum Akan Dilatih Tangani Operasi Caesar di Daerah Terpencil
4. Persalinan Berlangsung Terlalu Lama
Persalinan yang tidak mengalami kemajuan meskipun kontraksi sudah berlangsung dapat menjadi alasan dilakukannya operasi sesar.
Hal ini bisa terjadi ketika pembukaan leher rahim tidak bertambah atau bayi tidak bergerak turun melalui jalan lahir sebagaimana mestinya.
Sebelum mengambil keputusan, dokter akan menilai kekuatan kontraksi, kemajuan pembukaan, posisi bayi, dan kondisi ibu. Operasi sesar dapat dilakukan jika persalinan yang berlarut-larut menimbulkan risiko bagi ibu atau bayi.
5. Kondisi Bayi Mengalami Gangguan
Selama persalinan, tenaga medis akan memantau detak jantung bayi untuk mengetahui apakah bayi mendapatkan oksigen yang cukup.
Jika hasil pemantauan menunjukkan tanda-tanda bahwa bayi mengalami gangguan dan persalinan perlu segera diselesaikan, operasi sesar mungkin diperlukan.
Keputusan ini bergantung pada tingkat kegawatan dan seberapa cepat bayi perlu dilahirkan. Dalam keadaan darurat, tindakan sesar dapat membantu mengurangi risiko komplikasi serius.
6. Ibu Memiliki Kondisi Medis Tertentu
Beberapa kondisi kesehatan ibu dapat memengaruhi keamanan proses persalinan. Misalnya, penyakit tertentu yang berat, komplikasi kehamilan, atau kondisi medis yang membuat persalinan melalui vagina berisiko lebih tinggi.
Namun, tidak semua ibu yang memiliki penyakit harus melahirkan secara sesar. Metode persalinan tetap ditentukan berdasarkan jenis penyakit, tingkat keparahan, kondisi ibu dan bayi, serta hasil pemeriksaan dokter.
Karena itu, pemeriksaan kehamilan secara rutin penting untuk membantu tenaga medis merencanakan persalinan yang sesuai.
7. Pernah Menjalani Operasi Sesar Sebelumnya
Ibu yang pernah menjalani operasi sesar juga mungkin disarankan untuk kembali melahirkan melalui metode yang sama.
Pertimbangannya mencakup jenis sayatan pada rahim sebelumnya, jumlah operasi sesar yang pernah dilakukan, jarak kehamilan, serta kondisi kehamilan saat ini.
Meski demikian, riwayat sesar tidak selalu berarti ibu harus menjalani operasi sesar kembali. Pada sebagian kasus, persalinan melalui vagina setelah operasi sesar dapat dipertimbangkan dengan penilaian dan pemantauan medis yang sesuai.
Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan ibu perlu melahirkan secara sesar, mulai dari posisi bayi yang tidak normal, ukuran bayi, plasenta previa, persalinan macet, gangguan pada bayi, kondisi medis ibu, hingga riwayat operasi sesar.
Operasi sesar bukan berarti persalinan yang gagal atau lebih buruk daripada persalinan normal. Keduanya memiliki manfaat dan risiko masing-masing. Metode persalinan sebaiknya ditentukan bersama dokter berdasarkan kondisi ibu dan bayi agar keselamatan keduanya tetap menjadi prioritas.
Primandha Rachma Auzia (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prancis Terbuka: Ganda Putra Indonesia Menggila, Leo/Daniel dan Raymond/Joaquin Melesat ke Perempat Final
- 2Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 3Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 4UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 5Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 6Pemecatan Michael Carrick Mulai Disuarakan, Ada 'Monster' Sulit Dijinakkan di Tubuh MU?
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Megawati Hangestri Dapat Julukan Baru dari Media Korea, Apa Artinya?
- 9Desak Nusron Wahid Dijemput Paksa, MAKI Adukan Pimpinan KPK ke Dewas
- 10KPK Sita BMW Milik Richard Erlangga dalam Korupsi BNPB, Total Ada Empat Mobil








