Akurat Logo

Belajar dari Tragedi Bayi Surabaya: Pentingnya Menuntut Ilmu Kesehatan Menurut Sunnah Nabi

Lufaefi | 14 Oktober 2026, 05:18 WIB
Belajar dari Tragedi Bayi Surabaya: Pentingnya Menuntut Ilmu Kesehatan Menurut Sunnah Nabi
Ilustrasi bayi makan. - Magnific

AKURAT.CO Kabar meninggalnya bayi berusia 24 hari di Surabaya setelah diduga diberi telur mentah menjadi pengingat penting bagi orang tua dan pengasuh tentang pentingnya memahami kesehatan bayi.

Kasus yang ramai diperbincangkan pada Oktober 2026 tersebut menyita perhatian publik karena bayi itu sebelumnya dilaporkan mengalami kondisi kritis dan menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo. Meski demikian, hubungan langsung antara pemberian telur mentah dan kematian bayi belum dapat dipastikan tanpa hasil pemeriksaan medis.

Peristiwa ini mengajarkan bahwa niat baik dalam merawat anak perlu disertai pengetahuan yang benar. Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian orang tua mungkin masih mengikuti kebiasaan turun-temurun atau saran dari orang sekitar ketika bayi mengalami demam, rewel, atau kesulitan menyusu. Padahal, tidak semua kebiasaan yang diwariskan terbukti aman secara medis.

Dalam Islam, mencari ilmu merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Pengetahuan tidak hanya diperlukan untuk memahami persoalan ibadah, tetapi juga untuk menjaga kesehatan dan keselamatan diri serta keluarga.

Baca Juga: Mengapa KPK Sangat Diperlukan dalam Pandangan Islam?

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

Wa lā taqfu mā laisa laka bihī ‘ilm.

Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui.” (QS. Al-Isra [17]: 36).

Ayat ini mengingatkan agar seseorang tidak mengambil keputusan tanpa dasar pengetahuan. Dalam konteks kesehatan bayi, orang tua sebaiknya tidak sembarangan memberikan makanan, minuman, atau ramuan tertentu hanya berdasarkan cerita yang belum terbukti. Ketika menghadapi masalah kesehatan, langkah yang lebih bijaksana adalah mencari informasi dari tenaga medis yang kompeten.

Prinsip tersebut juga sejalan dengan perintah bertanya kepada orang yang memiliki pengetahuan. Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 43:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Fas’alū ahlaż-żikri in kuntum lā ta‘lamūn.

Artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

Ayat ini memberikan pelajaran bahwa tidak mengetahui sesuatu bukanlah kesalahan. Yang perlu dihindari adalah bertindak seolah-olah mengetahui, padahal keputusan yang diambil dapat membahayakan orang lain. Orang tua yang ragu tentang kondisi bayi sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga kesehatan, bukan mengandalkan spekulasi maupun informasi yang beredar di media sosial.

Dalam hal pemberian makanan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Makanan pendamping ASI atau MPASI mulai diperkenalkan sekitar usia enam bulan, disertai pemberian ASI. Bayi yang baru berusia 24 hari belum waktunya menerima makanan padat, termasuk telur mentah.

Selain itu, Islam mengajarkan prinsip untuk tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Prinsip ini dikenal melalui hadis:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Lā ḍarara wa lā ḍirāra.

Artinya: “Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain.”

Hadis yang diriwayatkan antara lain oleh Ibnu Majah ini menjadi dasar penting dalam pembahasan fikih mengenai pencegahan bahaya. Dalam pengasuhan, prinsip tersebut berarti setiap tindakan perlu mempertimbangkan keselamatan anak, terutama karena bayi belum mampu menyampaikan keluhan atau melindungi dirinya sendiri.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi