Hukum Meyakini Kesaktian Kalender Jawa Weton dalam Perspektif Islam

AKURAT.CO Sebagian masyarakat Jawa masih memegang teguh tradisi perhitungan weton—hari lahir yang dihitung berdasarkan kalender Jawa—untuk menentukan jodoh, waktu pernikahan, rezeki, bahkan nasib seseorang.
Ada yang percaya bahwa seseorang dengan weton tertentu akan membawa keberuntungan, sementara yang lain bisa mendatangkan sial bila dipertemukan. Fenomena ini menarik untuk dikaji: apakah keyakinan terhadap “kesaktian” weton dapat dibenarkan dalam perspektif Islam?
Kalender Jawa sendiri merupakan perpaduan antara sistem penanggalan Hindu, Islam, dan tradisi lokal. Dalam sistem ini, setiap hari memiliki nilai neptu, dan hasil kombinasi hari lahir serta pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) diyakini membentuk karakter dan nasib seseorang.
Baca Juga: Kalender Jawa Weton Bulan November 2025, Lengkap dengan Tanggal Hijriah
Misalnya, orang yang lahir pada Rabu Pahing dianggap berkarakter kuat dan keras kepala, sementara yang lahir pada Jumat Kliwon disebut memiliki energi spiritual yang tinggi. Keyakinan seperti ini sering dikaitkan dengan warisan budaya dan spiritualitas Jawa kuno.
Namun, dalam perspektif Islam, keyakinan terhadap “kesaktian” weton harus dilihat secara hati-hati. Islam menempatkan tauhid sebagai prinsip tertinggi.
Segala bentuk keyakinan terhadap kekuatan selain Allah—termasuk menganggap hari, angka, atau waktu tertentu membawa sial atau berkah dengan sendirinya—termasuk dalam kategori khurafat atau kepercayaan yang tidak berdasar syariat.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada kesialan pada bulan, burung, atau hari tertentu” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa nasib manusia tidak ditentukan oleh waktu atau perhitungan mistik, tetapi oleh takdir dan usaha yang diizinkan Allah.
Artinya, mempercayai weton sebagai alat untuk mengenali karakter seseorang masih bisa dianggap budaya, selama tidak diyakini memiliki kekuatan gaib yang menentukan hidup.
Misalnya, menjadikan weton sekadar alat introspeksi diri, tradisi sosial, atau kearifan lokal untuk memahami kepribadian, bisa ditoleransi selama tidak menafikan peran Allah sebagai penentu segalanya.
Tapi jika seseorang meyakini bahwa weton memiliki pengaruh spiritual yang nyata—misalnya percaya bahwa menikah pada weton tertentu pasti membawa celaka—maka itu sudah melanggar prinsip tauhid dan termasuk dalam bentuk syirik kecil.
Baca Juga: Kalender Jawa Weton Hari Ini dalam Perspektif Islam
Para ulama membedakan antara menghormati budaya dan meyakini kekuatan gaib di balik budaya. Budaya yang sekadar simbol, seperti menentukan waktu hajatan agar tamu banyak datang, masih boleh selama tidak ada keyakinan mistik di dalamnya.
Namun, jika budaya tersebut disakralkan hingga menyaingi ketentuan Allah, maka harus diluruskan. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, segala sesuatu yang mengalihkan hati manusia dari tawakal kepada Allah termasuk bentuk penyakit spiritual, karena menumbuhkan rasa takut atau harap kepada selain-Nya.
Islam justru mengajarkan prinsip ikhtiar dan tawakal: manusia berusaha dengan akal dan perencanaan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Ketika seseorang menggantungkan hidupnya pada hitungan weton, berarti ia menafikan prinsip keimanan bahwa “tidak ada yang bisa memberi manfaat dan mudarat kecuali Allah.” Itulah yang membedakan antara budaya yang diperbolehkan dan keyakinan yang bertentangan dengan aqidah.
Oleh karena itu, hukum meyakini kesaktian kalender Jawa weton dalam Islam adalah haram jika disertai keyakinan bahwa weton memiliki kekuatan gaib yang menentukan nasib, rezeki, atau jodoh seseorang.
Namun jika sekadar dijadikan sebagai bagian dari budaya, identitas, atau tradisi sosial tanpa keyakinan mistik, maka hukumnya mubah (boleh). Prinsipnya sederhana: selama budaya tidak menggoyahkan tauhid, ia masih bisa hidup berdampingan dengan Islam.
Dalam masyarakat yang plural seperti Jawa, tradisi weton sebaiknya tidak dimusuhi, tetapi diluruskan maknanya. Dakwah Islam tidak menuntut penghapusan budaya, melainkan penyucian nilai-nilai di dalamnya agar sejalan dengan ajaran tauhid.
Budaya yang awalnya penuh simbol dan mistik bisa diislamkan maknanya menjadi sarana refleksi diri dan kebersamaan sosial. Inilah esensi Islam Nusantara: memadukan iman dan budaya dengan cara yang bijaksana tanpa menyalahi akidah.
Dengan demikian, memahami weton bukan berarti percaya pada kesaktian hari lahir, melainkan mengenali nilai budaya yang bisa diselaraskan dengan iman. Islam mengajarkan agar manusia tidak tunduk pada hitungan, melainkan berserah diri pada Allah, Sang Pengatur segala waktu dan takdir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Trump Akui AS Kembali Serang Iran, Sistem Pertahanan Udara Dihancurkan dalam Hitungan Menit
- 2Moto3 Qatar, Hiroshi Aoyama Terima Penalti Veda Ega Pratama, Tegaskan 'Feeling' Pembalap Bagus
- 3Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 4Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 5Kalender Jawa 6 November 2026: Weton Jumat Pahing, Wataknya Dikenal Gigih dan Ambisius
- 6KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 7Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar








