Cendekiawan Muslim Sesalkan Sikap Pimpinan Ormas Islam Hari Ini: Tak Berani Menyingkap Sumber Derita

AKURAT.CO Cendekiawan Muslim Nadirsyah Hosen menyesalkan sikap sebagian pimpinan organisasi masyarakat (ormas) Islam yang menurutnya hanya berperan sebagai “pemadam kebakaran” ketika masyarakat turun ke jalan menolak kebijakan pemerintah.
Ia menilai, suara ormas Islam besar kini terdengar lebih sebagai corong kekuasaan ketimbang penyambung keresahan rakyat.
“Pernyataan pimpinan ormas Islam yang dipanggil Prabowo seolah tak memberi efek apa-apa. Publik sudah lama melihat ormas-ormas besar ini bukan sekadar pilar masyarakat, tapi bagian dari pemerintah,” kata Nadirsyah dalam unggahan akun Facebook resminya, Senin (1/9/2025).
Menurutnya, pemerintah juga salah membaca situasi. Demonstrasi, kekerasan, dan penjarahan yang terjadi belakangan ini bukan dilakukan oleh massa ormas Islam. “Mengapa justru ormas Islam yang diminta menenangkan?” ujarnya mempertanyakan.
Baca Juga: Menag Ajak Tokoh Agama Bantu Meredam Demonstrasi
Nadirsyah menekankan bahwa agama semestinya hadir sebagai energi moral yang mampu memberi inspirasi solutif. Namun, realitasnya, pemuka agama lebih sering diposisikan sekadar sebagai alat penenang suasana. “Yang ditunggu rakyat bukan khutbah pereda luka, tapi seruan yang berani menyingkap sumber derita,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, jargon “NKRI Harga Mati” seharusnya tidak berhenti pada seruan kosong. Menurutnya, membela negara berarti membela perut, suara, dan harapan rakyat. “Jika pemerintah tak lagi menjaga amanat, ulama harus berani mengingatkan akar masalah, bukan sekadar jadi alat penenang,” tutur Nadirsyah.
Dalam pandangannya, ulama seharusnya menyuarakan persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi rakyat, seperti pemutusan hubungan kerja (PHK), biaya hidup yang mencekik, praktik korupsi, hingga makin jauhnya rasa keadilan.
Baca Juga: Penjarahan Rumah Sri Mulyani dalam Kacamata Fikih Islam
Ia lalu mengutip peringatan Imam al-Ghazali tentang hubungan erat antara penguasa, ulama, dan rakyat. “Kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan penguasa, dan kerusakan para penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama,” tulisnya, mengutip kitab klasik.
Nadirsyah menegaskan, damai dan sejahtera negeri tidak akan terwujud jika pemuka agama hanya sibuk menenangkan, tetapi tidak menyentuh akar masalah yang menimbulkan keresahan rakyat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 34 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 4Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 5Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 6Asuransi Astra Serahkan Toyota Veloz Hybrid kepada Dommy Eriko, Pemenang Undian GASPOL 2026
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai









