Akurat Logo

Trump Sebut AS Tak Terburu-buru Akhiri Perang, Tetapi Buka Opsi Serangan Baru ke Iran

Fitra Iskandar | 31 Oktober 2026, 08:03 WIB
Trump Sebut AS Tak Terburu-buru Akhiri Perang, Tetapi Buka Opsi Serangan Baru ke Iran
Donald Trump - Indiatoday/Reuters

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan Washington tidak terburu-buru mengakhiri perang dengan Iran. Meski upaya diplomatik terus berjalan, Trump menyebut AS masih memiliki banyak waktu untuk menghadapi konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan tersebut.

Trump juga mengklaim Iran ingin melanjutkan perundingan, tetapi sedang menghadapi masalah internal, termasuk kesulitan membayar gaji tentara dan polisi.

"Ada pembicaraan. Mereka ingin berbicara. Mereka terus melakukan pembicaraan," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Namun, ia menegaskan konflik tersebut bukan perang biasa dan AS tidak berada dalam posisi terdesak untuk segera mencapai kesepakatan.

Trump juga meremehkan beban biaya perang. Ia mengklaim pengeluaran militer AS relatif kecil dan bahkan menyebut Washington telah memperoleh keuntungan jauh lebih besar dari Venezuela. Namun, ia tidak menyertakan angka untuk mendukung klaim tersebut.

Trump Masih Buka Opsi Serangan Baru

Pernyataan Trump muncul di tengah ketidakpastian arah konflik. Meski mengaku Iran ingin berunding, ia beberapa kali mengisyaratkan kemungkinan serangan militer baru terhadap Teheran.

Pekan lalu, Trump bahkan menyebut AS bisa melancarkan operasi militer tambahan yang ia sebut sebagai "another little Epic Fury". Di sisi lain, ia juga mengatakan kesepakatan besar dengan Iran masih mungkin dicapai.

Persoalan utama dalam perundingan mencakup program nuklir Iran, sanksi ekonomi, serta blokade pelabuhan Iran oleh AS. Kedua negara belum sepakat mengenai urutan langkah yang harus dilakukan untuk mengakhiri konflik.

Turki Ikut Dorong Perundingan AS-Iran

Upaya diplomatik terus berlangsung. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan bertemu Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri G20 pada Jumat.

Keduanya membahas perundingan Washington-Teheran, situasi Gaza, perang Rusia-Ukraina, serta perkembangan kawasan lainnya.

Turki juga disebut berkoordinasi dengan Pakistan dan Qatar untuk mencegah konflik kembali meluas. Sebelumnya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah berbicara dengan Trump dan menyampaikan dukungan terhadap penyelesaian krisis melalui jalur diplomasi.

Perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari melalui serangan terhadap infrastruktur militer, rudal, dan fasilitas nuklir Iran. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan dibalas Teheran dengan serangan terhadap Israel serta sejumlah target terkait AS di kawasan.

Konflik juga memicu pembatasan pelayaran di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dan gas dunia.

Pakistan kemudian berupaya menjadi penengah hingga menghasilkan jeda pertempuran selama dua pekan yang diumumkan pada 8 April. Namun, kesepakatan itu tidak menyelesaikan perbedaan mendasar kedua negara.

Upaya lanjutan bersama Qatar juga belum berhasil menghasilkan kesepakatan permanen. Iran menginginkan AS lebih dahulu mencabut blokade dan melonggarkan pembatasan ekspor minyak, sedangkan Washington menuntut persoalan program nuklir Iran dibahas sejak awal.

Dengan perundingan yang masih buntu dan Trump tetap membuka kemungkinan serangan baru, peluang tercapainya perdamaian jangka panjang antara AS dan Iran masih belum pasti.

Sumber: Indiatoday

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.