SIAP Lawan Dengue Serukan Pentingnya Dunia Usaha Lindungi Karyawan dari Wabah

AKURAT.CO Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) bersama PT Takeda Innovative Medicines dan PT Bio Farma, didukung oleh Kementerian Kesehatan, Kementerian Ketenagakerjaan serta Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia menggelar gerakan kolaboratif Sinergi Aksi Perusahaan (SIAP) Lawan Dengue, Kamis (23/4/2026).
SIAP Lawan Dengue sebagai gerakan berkelanjutan untuk memperkuat pencegahan dengue di tingkat tempat kerja.
Inisiatif ini menegaskan bahwa perlindungan terhadap tenaga kerja dari risiko dengue bukan lagi sekadar pilihan tetapi bagian dari kesiapsiagaan perusahaan dalam menjaga keberlangsungan bisnis.
Sejak diluncurkan tahun 2024, SIAP Lawan Dengue hadir sebagai gerakan yang mendorong perubahan cara pandang bahwa dengue bukan hanya isu kesehatan masyarakat tetapi juga memerlukan langkah pencegahan yang komprehensif. Serta merupakan risiko nyata bagi produktivitas, operasional dan ketahanan perusahaan.
Di tengah masih tingginya kasus dengue yang terjadi sepanjang tahun dan banyak menyerang kelompok usia produktif, dunia usaha memiliki peran strategis untuk menjadi bagian dari solusi.
Data Kemenkes mencatat, sampai dengan 14 April 2026, terdapat 30.465 kasus infeksi dengue di Indonesia dengan Incidence Rate (IR) sebesar 10,6 per 100.000 penduduk.
Pada periode yang sama tercatat 79 kematian dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,3 persen. Berdasarkan klasifikasi klinis, kasus dengue terdiri dari 10.138 kasus Demam Dengue (DD), 19.877 Demam Berdarah Dengue (DBD) dan 450 kasus Dengue Shock Syndrome (DSS). Kasus tersebar di 401 kabupaten/kota pada 29 provinsi, sementara kematian dilaporkan di 58 kabupaten/kota pada 20 provinsi.
Baca Juga: Takeda Beserta IFRC dan PMI Luncurkan Aliansi United Against Dengue di Indonesia
Di sisi lain, sebuah studi pada pekerja kantoran di Indonesia menunjukkan bahwa masih terdapat keraguan dalam penerimaan upaya perlindungan melalui vaksinasi dengue. Dengan faktor biaya menjadi salah satu pertimbangan utama.
Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih tepat sasaran untuk meningkatkan pemahaman, kepercayaan serta akses terhadap berbagai upaya pencegahan. Guna memperkuat perlindungan pekerja dan kesiapsiagaan nasional terhadap dengue.
Melalui SIAP Lawan Dengue, perusahaan didorong untuk mengambil langkah nyata dan terukur, mulai dari membangun kesadaran internal, memperkuat upaya pengendalian lingkungan kerja, hingga mengintegrasikan perlindungan kesehatan karyawan sebagai bagian dari kebijakan perusahaan.
Lebih dari itu, inisiatif ini juga membuka ruang bagi perusahaan untuk menunjukkan kepemimpinan mereka dalam menciptakan tempat kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Dari perspektif ketenagakerjaan, Direktur Bina Pengujian K3 di Kemnaker, M. Yusuf, menyampaikan bahwa dengue tidak lagi dapat dipandang semata sebagai isu kesehatan, melainkan juga merupakan bagian dari keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Ia mengatakan, tempat kerja memiliki potensi menjadi lokasi risiko penularan apabila tidak dikelola secara optimal. Sehingga diperlukan langkah-langkah yang sistematis dan terintegrasi dari pihak perusahaan.
Dorongan tersebut diwujudkan melalui penerapan higiene dan sanitasi lingkungan kerja sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018, pelaksanaan program rutin pemberantasan sarang nyamuk, serta integrasi upaya pencegahan dengue ke dalam kebijakan dan sistem manajemen K3 perusahaan.
Tidak hanya itu, penting pula bagi pelaku dunia usaha untuk memperkuat edukasi pekerja sebagai agen perubahan dalam penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
"Kemnaker mendorong peningkatan perlindungan yang inklusif bagi pekerja informal -seperti buruh bangunan, petani dan pekerja lapangan- melalui perluasan akses informasi, penguatan langkah preventif, serta kolaborasi lintas sektor. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat perlindungan kesehatan tenaga kerja sekaligus menjaga produktivitas secara berkelanjutan," jelas Yusuf.
Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, mengatakan, wabah dengue masih menjadi tantangan kesehatan yang terjadi sepanjang tahun dan dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia, gaya hidup maupun di mana seseorang tinggal.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu tetapi juga keluarga dan lingkungan kerja. Karena itu, kesiapsiagaan perlu diwujudkan melalui langkah nyata yang konsisten, bukan hanya kesadaran.
"Melalui SIAP Lawan Dengue, kami melihat bahwa tempat kerja memiliki peran penting sebagai titik awal perlindungan, di mana perusahaan dapat berkontribusi dalam menjaga kesehatan karyawannya secara lebih terstruktur. Kami percaya, melalui kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan, upaya pencegahan dengue dapat diperkuat dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan dunia kerja," Andreas menerangkan.
Shinta Widjaja Kamdani, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin, menekankan bahwa sektor swasta memiliki peran penting dalam membangun kesehatan tenaga kerja.
Melalui kolaborasi SIAP Lawan Dengue, perusahaan dapat mengambil langkah nyata dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan terlindungi dari bahaya infeksi dengue.
Baca Juga: Musim Hujan Risiko Dengue Meningkat, Saatnya Tingkatkan Perlindungan Jangka Panjang
"Namun, upaya ini tidak dapat dilakukan sendiri. Diperlukan kemitraan yang kuat antara sektor swasta, pemerintah, asosiasi profesi, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya, agar upaya pencegahan dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan. Pada akhirnya, kesejahteraan karyawan merupakan fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan perusahaan," ujar Shinta.
Selain itu, Koalisi Bersama (Kobar) Lawan Dengue sebagai payung kolaborasi lintas sektor terus mendorong penguatan berbagai inisiatif bersama, termasuk SIAP Lawan Dengue.
Ketua Kobar Lawan Dengue, dr. H. Suir Syam, mengapresiasi gerakan SIAP Lawan Dengue untuk dapat melindungi lebih banyak masyarakat Indonesia, khususnya para pekerja dan pelaku dunia usaha, dari ancaman dengue.
"Apalagi kita melihat secara nasional, beban dengue juga tidak kecil. Dengan lebih dari satu juta kasus rawat inap yang tercatat oleh BPJS di tahun 2024 dan pembiayaan yang mencapai hampir Rp3 triliun. Melalui komitmen bersama lintas sektor, kita bisa memperkuat upaya menuju nol kematian akibat dengue pada 2030," ujarnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, SIAP Lawan Dengue juga menghadirkan penguatan baru dalam ekosistem kolaborasi. Tidak hanya memberikan apresiasi kepada perusahaan, SIAPLawan Dengue turut mengakui peran fasilitas layanan kesehatan serta institusi pendukung, termasuk perusahaan asuransi, yang berkontribusi dalam memperkuat edukasi dan pencegahan dengue di Indonesia.
Selain itu, diluncurkan pula platform terpadu SIAP Lawan Dengue sebagai one stop platform yang memudahkan perusahaan untuk terhubung dengan mitra fasilitas layanan kesehatan. Sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T







