Akurat Logo

Serangan Siber Supermarket Eropa: Dari Dugaan Ulah Remaja Iseng, Kini Rusia Dituding jadi Dalangnya

Fitra Iskandar | 4 November 2026, 10:37 WIB
Serangan Siber Supermarket Eropa: Dari Dugaan Ulah Remaja Iseng, Kini Rusia Dituding jadi Dalangnya
Jaringan suparmarket di Eropa diterjang serangan siber - BBC

AKURAT.CO Dua serangan siber besar terhadap jaringan supermarket di Eropa dalam kurun waktu beberapa minggu telah menyingkap kerentanan infrastruktur krusial Uni Eropa. Para pakar siber memperingatkan bahwa serangan-serangan ini mungkin merupakan bagian dari perang hibrida yang terus dilancarkan Rusia terhadap Eropa.

Pada hari Senin, sistem pendingin di supermarket yang tersebar di setidaknya sembilan negara Uni Eropa mengalami gangguan. Peristiwa ini tampak sebagai pengulangan dari serangan siber yang sebelumnya menghantam gerai-gerai di Prancis pada 11–12 Oktober. Berdasarkan laporan berita lokal dan pernyataan dari pihak supermarket terkait, negara-negara yang terdampak meliputi Belgia, Luksemburg, Swedia, Jerman, Irlandia, Belanda, Estonia, Finlandia, dan Rumania.

Menurut laporan POLITICO pada hari Senin, pejabat tinggi keamanan Komisi Eropa akan menyelidiki insiden tersebut. Komisaris Pertanian dan Pangan Uni Eropa, Christophe Hansen, menyebut serangan ini sebagai upaya sengaja untuk mengganggu rantai pasokan pangan kita.

Mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab atas serangan siber merupakan perkara rumit yang penuh ketidakpastian dan hanya bisa dinyatakan dalam tingkat kemungkinan tertentu. Bahkan setelah analisis teknis rampung, pemerintah sering kali menahan diri untuk secara resmi menunjuk pihak tertentu sebagai pelaku—keputusan yang biasanya didasari oleh pertimbangan politik, diplomatik, atau intelijen.

“Belum diketahui siapa dalang di balik serangan ini, dan mungkin saja identitas mereka tidak akan pernah bisa diungkap,” ujar seorang juru bicara badan keamanan siber Belgia.

 Jika perilakunya seperti itu, kemungkinan besar pelakunya adalah pihak tersebut.

Meski demikian, pascaserangan ini, banyak analis yang mengarah pada satu pihak: Moskow.

Bersama dengan Iran, Tiongkok, dan Korea Utara, Rusia dianggap sebagai salah satu dari empat negara yang paling sering melancarkan serangan siber ke Eropa dengan dukungan negara. Namun, para pakar menilai bahwa pola dan target dalam kasus ini tidak mengarah pada ketiga negara lainnya.

“Kami sangat yakin aktivitas ini dapat dikaitkan dengan aktor ancaman yang didukung oleh negara Rusia,” kata Xavier Bellekens, CEO perusahaan keamanan siber Lupovis.

Ia menjelaskan bahwa tim peneliti di perusahaannya telah mengumpulkan data dari serangan terhadap perangkat umpan yang mengarah pada keterlibatan “kelompok yang didukung negara.”

Menurut Bellekens, keahlian yang diperlukan untuk melakukan serangan semacam ini, seperti pemahaman mendalam tentang sistem kendali industri dan teknologi pendingin, “bukanlah kemampuan yang sepele.”

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.