Akurat Logo

Geger Skandal Seks di Cornell University, Polisi Akhirnya Turun Tangan Lakukan Penyelidikan

Fitra Iskandar | 30 Oktober 2026, 11:03 WIB
Geger Skandal Seks di Cornell University, Polisi Akhirnya Turun Tangan Lakukan Penyelidikan
Cornell University - WCIV

AKURAT.CO Gubernur New York, Kathy Hochul, telah mengumumkan bahwa kepolisian negara bagian kini akan menyelidiki semua pengaduan tindak pidana seksual di Cornell University. Keputusan ini diambil menyusul dampak dari tuduhan pemerkosaan berkelompok di institusi tersebut.

Langkah ini diambil setelah penanganan sebuah insiden dugaan pemerkosaan di kampus pada tahun 2024, di mana seorang mahasiswi—yang menggunakan nama samaran Jane Doe—mengajukan gugatan terhadap Cornell. Ia mengaku dibius dan diperkosa secara berkelompok di sebuah rumah persaudaraan mahasiswa.

Pihak universitas, yang awalnya membela langkah-langkah disipliner mereka, akhirnya mengakui adanya kegagalan dalam menangani kasus tersebut.

Dampak dari peristiwa ini terus memicu gejolak di lingkungan universitas. Jajaran pimpinan Cornell—termasuk rektornya—kini menghadapi mosi tidak percaya dari para staf pengajar.

Hochul menyatakan bahwa Kepolisian Negara Bagian New York telah menandatangani kesepakatan dengan Cornell University. Berdasarkan kesepakatan tersebut, semua pengaduan tindak pidana seksual—yang sebelumnya berada di bawah yurisdiksi kepolisian kampus—kini akan langsung diserahkan kepada kepolisian negara bagian.

"Ketika seseorang melaporkan kekerasan seksual mereka berhak mengetahui bahwa tuduhan mereka akan ditanggapi dengan serius dan diselidiki secara menyeluruh oleh penegak hukum yang terlatih untuk mendukung para penyintas," ujar Hochul pada hari Kamis.

"Para penyintas harus bisa memercayai institusi yang bertanggung jawab untuk melindungi mereka," tambah sang gubernur.

Kecaman terhadap universitas anggota Ivy League ini terus menguat sejak Jane Doe mengajukan gugatannya pada pertengahan September lalu.

Pada hari Rabu, Senat Fakultas—badan pengelola yang terdiri dari para profesor dan staf akademik lainnya—mengadakan pertemuan tertutup. Mereka memutuskan untuk melanjutkan pemungutan suara terkait mosi tidak percaya terhadap jajaran administrasi universitas serta Rektor Michael Kotlikoff.

Pemungutan suara bagi staf pengajar akan dibuka mulai hari Jumat hingga 6 November. Meski lebih bersifat simbolis, langkah ini dapat meningkatkan tekanan untuk melakukan perubahan dalam kepemimpinan universitas.

Sebelumnya pada bulan ini, pihak universitas telah mengumumkan serangkaian langkah sebagai respons atas dugaan kekerasan tersebut, termasuk penambahan penyelidik khusus kasus kekerasan seksual ke dalam satuan kepolisian kampus.

Hochul mengaku "sangat terusik" dengan cara penyelidikan tersebut ditangani. Awal bulan ini, ia menunjuk seorang jaksa khusus, yaitu Jaksa Agung New York Letitia James, untuk mengawasi penyelidikan ulang guna menentukan apakah tuntutan pidana perlu diajukan. Perempuan yang menjadi pusat kasus ini mengajukan gugatan perdata dengan tuduhan bahwa ia dibius dan diperkosa oleh tujuh pria di sebuah rumah persaudaraan mahasiswa di universitas tersebut pada tahun 2024.

Ia menyatakan bahwa pihak Cornell gagal melindunginya atau memberikan hukuman yang setimpal kepada para pria tersebut, yang kini dikenal sebagai "Cornell Seven".

Sumber: BBC

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.