Bersaing Ketat di Jejak Pendapat Pemilu Israel, Oposisi Sebut Pukulan Telak bagi Netanyahu
AKURAT.CO Pemilu Israel di tengah perang berakhir dengan kebuntuan politik. Hasil jajak pendapat setelah pemungutan suara (exit poll) pada Selasa menunjukkan blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot bersaing ketat dengan koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Kedua kubu belum memperoleh mayoritas yang cukup untuk membentuk pemerintahan.
Hasil sementara tersebut menjadi pukulan bagi Netanyahu, yang telah mendominasi politik Israel selama bertahun-tahun. Namun, belum adanya pemenang yang jelas membuka peluang bagi Netanyahu untuk tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara selama negosiasi pembentukan koalisi berlangsung.
Eisenkot menyatakan hasil pemilu menunjukkan penolakan masyarakat terhadap kepemimpinan Netanyahu. Di hadapan para pendukungnya di Tel Aviv, mantan kepala militer Israel itu menilai perdana menteri seharusnya menerima hasil tersebut dan mengundurkan diri dari dunia politik.
"Publik Israel telah menyatakan penolakan terhadap Netanyahu untuk terus menjabat sebagai perdana menteri," ujar Eisenkot.
Blok Oposisi dan Netanyahu Bersaing Ketat
Hasil exit poll dari sejumlah stasiun televisi Israel memperlihatkan persaingan ketat antara kedua blok politik. Kan 11 dan Channel 13 memproyeksikan perolehan kursi yang relatif seimbang, sedangkan Channel 12 menempatkan kubu Eisenkot sedikit lebih unggul daripada koalisi Netanyahu yang dipimpin Partai Likud.
Tidak ada blok yang diproyeksikan meraih 61 kursi, jumlah minimum untuk menguasai mayoritas di parlemen Israel atau Knesset yang memiliki 120 kursi.
Komite Pemilihan Umum Pusat Israel mencatat tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,7 persen. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam lebih dari dua dekade dan meningkat sekitar tujuh poin persentase dibandingkan pemilu 2022.
Di kubu Netanyahu, partai-partai keagamaan sayap kanan yang dipimpin Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich diproyeksikan memperoleh total 13 kursi.
Sementara itu, partai-partai Arab yang berada di luar dua blok utama berpotensi menjadi penentu pembentukan pemerintahan. Namun, Eisenkot hampir menutup kemungkinan bekerja sama dengan mereka, sehingga upaya oposisi untuk merebut kekuasaan menjadi lebih rumit.
Pemimpin oposisi Yair Lapid menilai hasil tersebut merupakan kekalahan besar bagi Netanyahu.
"Jangan biarkan siapa pun membingungkan Anda. Blok Netanyahu telah mengalami kekalahan telak. Ini adalah keruntuhan total, dan publik telah meminta mereka untuk pulang," kata Lapid.
Meski demikian, hasil akhir pemilu masih menunggu penghitungan suara. Sistem politik Israel yang terfragmentasi juga memungkinkan partai-partai kecil memainkan peran penting dalam negosiasi koalisi.
Sumber: Internazionale
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 7KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 8Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon








