Kontroversi Bahasa Inggris Tak Lagi Jadi Mata Pelajaran Wajib, Debat Pendidikan Memanas di China

AKURAT.CO Perdebatan mengenai bahasa Inggris di China kembali memanas setelah semakin banyak akademisi, orang tua, dan tokoh publik menyerukan agar bahasa Inggris tidak lagi menjadi mata pelajaran wajib di sekolah. Mereka menilai sistem yang telah berlaku selama hampir 50 tahun itu sudah tidak lagi sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan perkembangan teknologi saat ini.
Isu bahasa Inggris di China menjadi pembahasan luas di media sosial WeChat hingga forum pendidikan nasional. Para pendukung reformasi berargumen bahwa jutaan siswa menghabiskan ribuan jam belajar bahasa Inggris, tetapi sebagian besar tidak pernah menggunakannya dalam kehidupan maupun karier mereka.
Perdebatan ini juga memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan kurikulum pendidikan China: apakah bahasa Inggris masih layak mempertahankan statusnya sebagai salah satu mata pelajaran inti bersama bahasa Mandarin dan matematika dalam sistem ujian nasional.
Peribahasa Kuno Jadi Simbol Kritik Kurikulum
Dalam diskusi publik, para pengkritik kerap mengutip peribahasa Tiongkok "ke zhou qiu jian" yang berarti “mengukir perahu untuk mencari pedang.” Ungkapan dari era Negara-Negara Berperang itu menggambarkan seseorang yang gagal menyesuaikan diri dengan perubahan keadaan.
Kisahnya menceritakan seorang penumpang yang menjatuhkan pedangnya ke sungai. Alih-alih langsung menyelam, ia justru menandai sisi perahu dan berencana mencari pedang setelah perahu merapat. Peribahasa tersebut kini dipakai untuk menyindir kebijakan pendidikan yang dianggap tetap mempertahankan aturan lama meski kondisi China telah berubah drastis.
Akademisi Nilai Alasan 50 Tahun Lalu Sudah Berbeda
Sarjana China, Xiang Ligang, menilai keputusan menjadikan bahasa Inggris sebagai pelajaran wajib pada 1970-an memiliki konteks sejarah yang jelas. Saat itu, China membutuhkan akses cepat terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan modernisasi dari luar negeri.
Namun menurutnya, situasi tersebut kini berbeda. Ia berpendapat bahwa mempertahankan kebijakan lama tanpa mempertimbangkan perubahan posisi China di bidang ekonomi dan teknologi sama seperti kisah perahu yang terus bergerak sementara tanda ukirannya tetap diam.
Xiang juga mengklaim sebagian besar lulusan yang belajar bahasa Inggris selama 12 tahun tidak mampu berkomunikasi secara lancar, bahkan mayoritas tidak pernah menggunakan kemampuan tersebut selain untuk menghadapi ujian.
Biaya Belajar Dinilai Terlalu Besar
Salah satu argumen utama dalam perdebatan adalah besarnya investasi pendidikan yang harus ditanggung keluarga. Di China, seorang siswa diperkirakan menghabiskan 3.000–5.000 jam untuk belajar bahasa Inggris sejak sekolah dasar hingga masuk perguruan tinggi, dengan biaya yang disebut mencapai 100.000 yuan.
Kemunculan teknologi penerjemahan berbasis kecerdasan buatan (AI) semakin memperkuat pandangan bahwa kemampuan bahasa asing kini tidak lagi menjadi satu-satunya pintu untuk mengakses ilmu pengetahuan global.
Profesor Matematika Picu Gelombang Kontroversi
Perdebatan semakin memuncak setelah profesor matematika sekaligus figur populer pendidikan, Tang Jiafeng, menyerukan agar “status inti bahasa Inggris” diakhiri.
Tang mengusulkan pengurangan bobot nilai bahasa Inggris dalam ujian masuk sekolah menengah (zhongkao). Ia menyatakan bahwa sejarah masyarakat China yang terlalu mengagungkan hal-hal asing seharusnya sudah berakhir, sehingga pendidikan perlu lebih menekankan mata pelajaran yang dianggap relevan bagi pembangunan nasional.
Saat ini, bahasa Inggris mulai diajarkan sejak kelas tiga sekolah dasar dan memiliki bobot yang setara dengan bahasa Mandarin serta matematika dalam berbagai ujian penting, termasuk gaokao, ujian masuk universitas paling bergengsi di China. Ketiga mata pelajaran tersebut masing-masing bernilai 150 poin dari total 750 poin.
Pendukung Reformasi: Talenta STEM Terhambat
Kelompok nasionalis dan sejumlah akademisi berhaluan kiri mendukung usulan Tang. Mereka menilai bahasa Inggris justru menjadi hambatan bagi lahirnya talenta di bidang STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Unggah Video Veda Ega Pratama Salip David Munoz, Akun Resmi MotoGP 'Diserbu' Netizen
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Komposisi Pemain Asing Persija Belum Penuh, Manajer Minta Soal Skuad Percayakan ke Shin Tae-yong
- 4Diduga Singgung Status Pendatang Shin Tae-yong, Direktur Teknik Java United Lakukan Rasisme?
- 5Kalender Jawa 21 September 2026: Watak Weton Senin Legi, Sopan dan Mudah Bergaul
- 6Bantah Tuduhan Konspirasi Wasit, Presiden La Liga Sebut Real Madrid Hidup di 'Dunia Lain'
- 7Asian Games: Pebulutangkis Juara Dunia Junior Thailand Dinyatakan Positif Doping
- 8Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Tiga Laga Menanti di Grup A
- 9Prabowo Pantau Penanganan Karhutla, Sebanyak 209,78 Hektare Masih Proses Pemadaman
- 10Komisi III DPR Berkomitmen All Out Jadikan RUU Perampasan Aset Super Prioritas


