Iran Bantah Klaim Trump Soal Kematian Ali Khamenei: Serangan Masih Berlangsung

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel menghantam kompleks kediamannya pada Sabtu (28/2/2026). Pernyataan tersebut langsung memicu ketegangan baru di kawasan.
Dalam pidatonya, Trump menyatakan bahwa Khamenei dan sejumlah pejabat Iran lainnya tidak dapat lolos dari intelijen Amerika Serikat dan sistem pelacakan canggih. Ia juga mengumumkan dimulainya operasi tempur besar di Iran dan secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat menginginkan perubahan rezim.
“Kini saat kebebasan Anda telah tiba,” ujar Trump, ditujukan kepada rakyat Iran, dilansir Al Jazeera, Minggu (1/3/2026).
“Ketika kami selesai, ambillah alih pemerintahan Anda. Pemerintahan itu akan menjadi milik Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda selama beberapa generasi,” tambah Trump.
Ia menambahkan bahwa dirinya bersedia melakukan apa yang belum pernah dilakukan presiden Amerika sebelumnya.
“Jadi mari kita lihat bagaimana Anda merespons," katanya lagi.
Baca Juga: Serangan Israel Hantam Sekolah Dasar Putri di Iran Selatan, 108 Orang Dilaporkan Tewas
Namun, pihak Iran membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa serangan masih terus berlangsung. Hingga kini belum ada verifikasi independen terkait kabar kematian Khamenei.
Ali Khamenei memimpin Republik Islam Iran sejak 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini, tokoh utama Revolusi Iran 1979. Di bawah kepemimpinannya, Iran memperkuat peran militer dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta membangun jaringan sekutu regional yang dikenal sebagai poros perlawanan.
Dalam pernyataan sebelumnya saat mendapat ancaman, Khamenei menegaskan, “Orang-orang cerdas yang mengenal Iran dan sejarahnya tidak akan pernah berbicara kepada bangsa ini dengan bahasa ancaman, karena bangsa Iran tidak akan menyerah, dan Amerika harus mengetahui bahwa setiap intervensi militer Amerika Serikat pasti akan menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.”
Laporan Al Jazeera juga menyebutkan bahwa serangan ini terjadi setelah rangkaian ketegangan panjang, termasuk perang hampir dua pekan pada Juni 2025, ketika Israel menyerang sejumlah fasilitas nuklir Iran dan Teheran membalas dengan rentetan rudal ke Tel Aviv. Konflik tersebut turut melibatkan dukungan militer Amerika Serikat.
Baca Juga: Klaim Israel Ali Khamenei Tewas, Iran Angkat Bicara
Sebelum operasi militer terbaru, perundingan antara Washington dan Teheran mengenai pembatasan program nuklir Iran dilaporkan berlangsung di Uni Emirat Arab dan Jenewa, namun tidak mencapai terobosan.
Amerika Serikat menuntut pembongkaran total infrastruktur nuklir Iran serta penghentian dukungan terhadap sekutu regionalnya, tuntutan yang sebagian besar ditolak Teheran.
Hingga laporan ini diberitakan, situasi di kawasan masih tegang. Sejumlah negara menutup wilayah udara mereka, sementara maskapai internasional menghentikan penerbangan akibat meningkatnya risiko keamanan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 34 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 4Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 5Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 6Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 7Asuransi Astra Serahkan Toyota Veloz Hybrid kepada Dommy Eriko, Pemenang Undian GASPOL 2026
- 8Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai




