Akurat Logo

Indonesia Hadapi Perubahan Peta Ekonomi Global, Investasi dan Diplomasi Jadi Kunci Pertumbuhan

Idham Nur Indrajaya | 31 Oktober 2026, 09:23 WIB
Indonesia Hadapi Perubahan Peta Ekonomi Global, Investasi dan Diplomasi Jadi Kunci Pertumbuhan
Ekonomi Indonesia menghadapi perubahan global. Diplomasi, investasi produktif, dan ASEAN menjadi kunci menjaga pertumbuhan nasional. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Perubahan hubungan antarnegara kini tidak hanya menentukan arah politik dunia, tetapi juga memengaruhi perdagangan, investasi, hingga prospek pertumbuhan ekonomi. Bagi Indonesia, persaingan negara-negara besar, perlambatan ekonomi global, dan pergeseran rantai pasok menghadirkan tantangan yang tidak bisa diabaikan. Kemampuan menjaga hubungan internasional sekaligus memperkuat investasi produktif menjadi modal penting agar ekonomi Indonesia tetap tumbuh di tengah ketidakpastian.

Perubahan peta ekonomi global menuntut Indonesia memperkuat dua fondasi utama, yakni diplomasi yang kredibel dan ketahanan ekonomi domestik. Diplomasi diperlukan untuk menjaga posisi strategis Indonesia dalam kerja sama internasional, sementara investasi produktif berperan mendorong pertumbuhan dan meningkatkan daya saing nasional. Keduanya semakin penting ketika arus perdagangan dan investasi dunia mengalami perubahan.

Perspektif tersebut mengemuka dalam kelas "Navigating Indonesia’s Next Chapter" pada rangkaian Wealth Wisdom 2026 yang diselenggarakan Permata Bank di Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026. Diskusi yang menghadirkan Dino Patti Djalal, Josua Pardede, dan Lai Eu-Roy tersebut membahas bagaimana Indonesia dapat menghadapi perubahan geopolitik sekaligus menangkap peluang ekonomi dan investasi global.

Baca Juga: Tantangan Ekonomi Global 2026, Sosok Ini Dinilai Berpotensi Bawa Terobosan di Kementerian Perdagangan

Baca Juga: Ekonomi Global Melambat, Data Center Berpotensi Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Indonesia

Mengapa Perubahan Peta Ekonomi Global Menjadi Tantangan bagi Indonesia?

Perubahan lanskap ekonomi internasional tidak hanya berkaitan dengan perlambatan pertumbuhan sejumlah negara. Ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan, dan persaingan teknologi juga mengubah cara negara serta perusahaan menentukan mitra dagang, lokasi produksi, dan tujuan investasi.

Salah satu dinamika yang perlu diperhatikan adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Perkembangan di kawasan tersebut dapat memengaruhi stabilitas pasar energi internasional, terutama ketika gangguan terhadap jalur perdagangan atau pasokan energi meningkatkan ketidakpastian harga komoditas.

Bagi Indonesia, perubahan harga energi memiliki implikasi terhadap biaya produksi, kebutuhan impor, dan tekanan terhadap anggaran negara. Ketika harga energi meningkat, pelaku industri juga berpotensi menghadapi kenaikan biaya operasional yang dapat memengaruhi keputusan ekspansi usaha.

Selain itu, perlambatan ekonomi China menjadi faktor penting karena negara tersebut memiliki keterkaitan besar dengan perdagangan dan industri global. Perubahan permintaan dari China dapat memengaruhi prospek ekspor sejumlah komoditas Indonesia maupun aktivitas industri yang terhubung dengan rantai pasok internasional.

Persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China juga memperumit situasi. Kedua negara memiliki pengaruh besar dalam pengembangan teknologi, manufaktur, dan perdagangan internasional. Persaingan tersebut berpotensi mendorong perubahan kebijakan perdagangan serta strategi perusahaan dalam menentukan lokasi produksi.

Fragmentasi perdagangan global membuat hubungan ekonomi antarnegara semakin kompleks. Perusahaan tidak lagi hanya mempertimbangkan biaya produksi ketika menentukan lokasi bisnis, tetapi juga memperhatikan stabilitas hubungan dagang, akses pasar, kepastian regulasi, dan risiko geopolitik.

Kondisi tersebut membuat Indonesia perlu memperkuat daya saingnya. Potensi pasar domestik dan sumber daya alam memang menjadi modal penting, tetapi keduanya perlu didukung oleh kebijakan yang konsisten, infrastruktur memadai, serta hubungan internasional yang mampu membuka peluang kerja sama.

Dengan demikian, perubahan ekonomi global tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman. Pergeseran rantai pasok dan strategi investasi perusahaan internasional juga dapat menciptakan kesempatan bagi negara yang mampu menawarkan lingkungan usaha kompetitif dan stabil.

Mengapa ASEAN Penting bagi Posisi Ekonomi dan Diplomasi Indonesia?

Di tengah perubahan tatanan geopolitik, kemampuan Indonesia menjaga hubungan dengan berbagai negara menjadi salah satu faktor yang menentukan posisi strategisnya. Indonesia perlu mempertahankan fleksibilitas diplomasi agar dapat bekerja sama dengan berbagai mitra internasional tanpa mengabaikan kepentingan nasional.

Dino Patti Djalal, Founder & Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), menilai Indonesia memiliki peluang untuk memperluas hubungan diplomatik dan kerja sama dengan berbagai negara. Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan kredibilitas dan konsistensi dalam menjalankan kebijakan luar negeri.

Menurut Dino, ASEAN memiliki posisi penting sebagai pijakan Indonesia dalam menghadapi perubahan geopolitik. Kerja sama regional dapat memperkuat posisi negara-negara anggotanya ketika menghadapi dinamika internasional yang tidak selalu dapat dikendalikan.

“Bagi Indonesia, ASEAN adalah pijakan yang tidak bisa ditawar. Ketika kita membawa nama Indonesia sekaligus ASEAN, kredibilitas dan relevansi kita menjadi semakin kuat. Di tengah dinamika global yang tidak selalu dapat kita kendalikan, hubungan erat dengan negara-negara ASEAN menjadi kekuatan penting untuk saling mendukung dan menjaga kepentingan bersama,” ujar Dino melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Sabtu, 31 Oktober 2026.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa diplomasi regional bukan sekadar upaya mempertahankan hubungan baik antarnegara. ASEAN juga dapat menjadi wadah untuk memperkuat koordinasi, menjaga kepentingan bersama, dan meningkatkan posisi tawar Indonesia dalam berbagai pembahasan internasional.

Dari sisi ekonomi, hubungan regional yang kuat dapat membantu menciptakan lingkungan kerja sama yang lebih kondusif. Kedekatan hubungan antarnegara berpotensi mendukung kelancaran perdagangan, memperluas kemitraan industri, dan membuka ruang kolaborasi investasi.

Namun, keberadaan ASEAN saja tidak otomatis membuat Indonesia menjadi tujuan utama investasi. Kepercayaan mitra internasional tetap perlu didukung oleh kepastian kebijakan, kualitas infrastruktur, kemudahan berusaha, dan kemampuan industri domestik dalam memenuhi kebutuhan investor.

Karena itu, kredibilitas diplomasi dan daya saing ekonomi perlu berjalan beriringan. Hubungan internasional yang baik akan lebih bernilai ketika dapat diterjemahkan menjadi kerja sama konkret yang memberikan manfaat bagi perekonomian nasional.

Bagaimana Indonesia Menjaga Ketahanan Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global?

Selain memperkuat posisi diplomatik, Indonesia perlu menjaga fondasi ekonomi domestik agar tidak terlalu rentan terhadap perubahan eksternal. Ketahanan ekonomi tidak berarti suatu negara sepenuhnya kebal terhadap krisis global, melainkan memiliki kemampuan mempertahankan aktivitas ekonomi ketika menghadapi tekanan.

Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank, menyoroti sejumlah risiko yang perlu diperhatikan Indonesia, mulai dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, perlambatan ekonomi China, fragmentasi perdagangan, hingga persaingan teknologi Amerika Serikat dan China.

Berbagai perkembangan tersebut dapat memengaruhi perekonomian Indonesia melalui beberapa saluran. Perubahan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi, sedangkan pergerakan suku bunga global berpotensi memengaruhi kondisi pasar keuangan dan biaya pembiayaan.

Tekanan eksternal juga dapat memengaruhi perdagangan internasional. Ketika permintaan dari mitra dagang utama melemah, sektor industri yang bergantung pada pasar ekspor berpotensi menghadapi tantangan dalam mempertahankan penjualan.

Meski demikian, Josua menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Permata Bank memproyeksikan ekonomi nasional tumbuh dalam kisaran 5,2%–5,3% pada 2026–2027.

“Selain memahami tantangan yang ada, kita juga perlu melihat peluang yang dapat dimaksimalkan. Kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026–2027 tetap relatif resilien, di kisaran 5,2%–5,3%. Ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki potensi pertumbuhan yang cukup kuat meskipun kondisi global belum sepenuhnya kondusif,” ujar Josua.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian domestik masih memiliki potensi untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah tekanan internasional. Namun, mempertahankan pertumbuhan bukan hanya persoalan menjaga konsumsi masyarakat atau meningkatkan belanja pemerintah.

Kualitas pertumbuhan juga perlu diperhatikan. Ekonomi yang tumbuh secara berkelanjutan membutuhkan investasi yang mampu meningkatkan kapasitas produksi, memperluas aktivitas industri, dan mendorong produktivitas tenaga kerja.

Dalam konteks tersebut, efektivitas kebijakan fiskal dan moneter menjadi penting. Kebijakan fiskal perlu diarahkan agar belanja pemerintah memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi, sementara kebijakan moneter perlu menjaga stabilitas sekaligus mendukung iklim pembiayaan yang kondusif.

Josua juga menekankan pentingnya peningkatan investasi produktif, efektivitas implementasi kebijakan, dan reformasi struktural sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi.

“Peluang tetap terbuka bagi pelaku usaha dan investor yang memiliki perencanaan matang, menerapkan pengelolaan risiko secara disiplin, dan berorientasi jangka panjang. Penguatan fondasi ekonomi dan kualitas investasi menjadi penting agar Indonesia dapat memanfaatkan peluang pertumbuhan yang tersedia,” tambah Josua.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan ekonomi tidak cukup diukur dari kemampuan mempertahankan angka pertumbuhan. Indonesia juga perlu memastikan bahwa investasi yang masuk dapat memperkuat kapasitas ekonomi dan memberikan manfaat jangka panjang.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.