EyRIS Hadirkan Terobosan Skrining Retina Berbasis AI untuk Deteksi Dini Diabetes, Ginjal, dan Jantung

AKURAT.CO Dalam dunia kedokteran, terdapat sebuah pepatah lama yang kembali menemukan relevansinya: mata adalah jendela jiwa. Namun bagi para klinisi dan peneliti di bidang kesehatan digital, mata kini memiliki makna yang jauh lebih substantif—ia adalah jendela bagi kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Melalui pembuluh darah mikro di retina, para ahli dapat membaca jejak-jejak penyakit yang selama ini bersembunyi diam-diam: diabetes, gangguan ginjal, hingga risiko penyakit jantung.
Adalah Aznaib I Gindo, Direktur PT. Nova Prima Utama, yang melihat peluang besar di balik fenomena fisiologis tersebut. Melalui inovasi terbaru perusahaan—EyRIS, sebuah solusi skrining retina berbasis kecerdasan artifisial—ia membawa visi yang selama ini terdengar seperti fiksi ilmiah ke dalam realitas pelayanan kesehatan Indonesia.
Baca Juga: Ramai Scan Retina Diberi Upah Rp800.000, Komdigi Bekukan Izin Worldcoin dan WorldID
"Retina memberikan gambaran langsung dan non-invasif dari pembuluh darah kecil," ujarnya dalam wawancara eksklusif. "AI EyRIS menganalisis foto retina untuk melihat perubahan seperti pendarahan, penyempitan pembuluh darah, dan pola pembuluh darah abnormal yang dapat mengindikasikan penyakit mata atau risiko kesehatan sistemik."
Pernyataan tersebut bukanlah klaim tanpa dasar. Di baliknya terdapat landasan ilmiah yang kokoh, yang telah melalui proses validasi klinis ketat dan dipublikasikan di jurnal-jurnal bergengsi dunia.
Landasan Ilmiah yang Kokoh: Ketika Data Berbicara
Dalam dunia kedokteran berbasis bukti, klaim tanpa validasi adalah kemewahan yang tak dapat ditoleransi—terutama ketika menyangkut nyawa manusia. Menyadari hal ini, ia menekankan pentingnya transparansi ilmiah di balik teknologi EyRIS.
"Penelitian dasar kami, yang dipublikasikan di JAMA pada tahun 2017, mengevaluasi 71.896 gambar dari 14.880 pasien dalam dataset validasi utama," jelasnya.
Angka-angka tersebut bukanlah statistik biasa. Mereka merepresentasikan ribuan jam kerja klinis, jutaan data titik yang dianalisis, dan—yang terpenting—harapan bagi jutaan pasien yang selama ini terlambat terdiagnosis.
Dibandingkan dengan penilaian dokter spesialis, sistem yang dikembangkan oleh EyRIS—dikenal sebagai SELENA+—mencapai performa yang mengesankan.
Antara lain, Referable DR (retinopati diabetik yang memerlukan rujukan) dengan sensitivitas 90,5% dan spesifisitas 91,6% serta Vision-threatening DR (retinopati diabetik yang mengancam penglihatan) dengan sensitivitas 99% dan spesifisitas 91,1%.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 34 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 4Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 5Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 6Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 7Asuransi Astra Serahkan Toyota Veloz Hybrid kepada Dommy Eriko, Pemenang Undian GASPOL 2026
- 8Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai







