Pembawa Acara Politik bTV Bulgaria Dipecat, Picu Protes dan Tuduhan Pembungkaman

AKURAT.CO Stasiun televisi swasta terkemuka Bulgaria, bTV, pada Senin mengumumkan pemecatan pembawa acara talk show politik ternama, Maria Tsantsarova. Keputusan tersebut memicu gelombang protes dan kecaman dari organisasi jurnalis di dalam dan luar Bulgaria, yang menilai langkah itu sebagai bentuk pembungkaman kebebasan pers.
Federasi Jurnalis Eropa (European Federation of Journalists/EFJ) bersama afiliasinya di Bulgaria, AEJ-Bulgaria, mengecam pemecatan tersebut dan menuntut agar Tsantsarova segera dikembalikan ke layar televisi. Mereka juga mendesak dibukanya penyelidikan atas dugaan tekanan politik terhadap bTV.
Maria Tsantsarova dikenal luas sebagai jurnalis investigasi dengan gaya wawancara yang tajam serta kerap mengungkap kasus-kasus besar. Melalui unggahan di media sosial Facebook, Tsantsarova mengonfirmasi bahwa dirinya telah dikeluarkan dari program tersebut, bertolak belakang dengan pernyataan bTV sebelumnya yang membantah adanya pemecatan.
Pihak bTV, yang berada di bawah grup investasi asal Republik Ceko, PPF, menyatakan tuduhan pemecatan bermotif politik tidak benar. Manajemen mengklaim tengah melakukan pembahasan pengembangan program untuk tahun mendatang dengan melibatkan para jurnalis terkait. Namun, dalam pernyataan terpisah pada Senin, bTV menegaskan bahwa mereka memang memutuskan hubungan kerja dengan Tsantsarova.
BTV menuduh Tsantsarova berulang kali melanggar aturan editorial internal dan menyatakan tidak mentoleransi “aktivisme politik” dalam programnya. Seorang juru bicara bTV mengatakan kepada AFP bahwa manajemen tidak akan tunduk pada tekanan eksternal dan telah memulai proses pemutusan hubungan kerja dengan sang pembawa acara.
Menanggapi pemecatan tersebut, ratusan orang menggelar aksi unjuk rasa di luar kantor bTV pada Jumat lalu sebagai bentuk solidaritas terhadap Tsantsarova. AEJ-Bulgaria menyatakan kekhawatiran atas potensi hilangnya suara-suara kritis dari media nasional Bulgaria. Salah satu jurnalis investigasi senior bTV, Stoyan Georgiev, juga mengumumkan pengunduran dirinya sebagai bentuk dukungan terhadap Tsantsarova.
Dalam beberapa tahun terakhir, Tsantsarova kerap menjadi sasaran serangan dari tokoh-tokoh politik. Pada masa pandemi COVID-19, ia bahkan dilaporkan mendapat tekanan dari aparat penegak hukum untuk membuka sumber berita dalam laporan investigatifnya. Pemecatannya terjadi di tengah situasi politik Bulgaria yang bergejolak, menyusul runtuhnya pemerintahan koalisi konservatif pada 11 Desember dan meningkatnya aksi protes sipil.
Presiden EFJ, Maja Sever, menyatakan bahwa pencopotan jurnalis independen di tengah gejolak sosial menimbulkan kekhawatiran serius akan campur tangan politik terhadap media. Ia menegaskan masyarakat Bulgaria berhak memperoleh informasi yang bebas dan independen tanpa tekanan politik.
Survei kebebasan pers terbaru AEJ-Bulgaria yang dirilis pada 2024 mencatat peningkatan tajam tekanan politik terhadap jurnalis. Sebanyak 77 persen responden menyebut intervensi politik sebagai sumber tekanan terbesar dalam dunia media di Bulgaria.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 4UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 5Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 6Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 7Saran Meningkatkan Kualitas dan Pemanfaatan Buku Teks dalam Pembelajaran
- 8Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon
- 10Hakim Tolak Batalkan Dakwaan Febrie Adriansyah, Perkara Emas 74 Kilogram dan Valas Dilanjutkan ke Pembuktian







