AKURAT.CO Dikenal sebagai negara yang warganya memilih melajang atau tidak mau berkeluarga membuat Jepang menjadi salah satu negara Asia dengan angka kelahiran rendah.
Ada banyak hal yang menyebabkan orang-orang di Jepang tidak mau menikah, seperti mementingkan karier, tidak mau mengurus anak, ingin terus merasa bebas, memiliki kriteria pasangan yang tinggi serta persoalan ekonomi, yang mana biaya hidup terbilang cukup tinggi.
Baca Juga: Doa Bagi Pengantin Baru, Agar Cepat Dikasih Keturunan Yang Menenangkan
Bantuan Finansial Bagi yang Baru Menikah
Dikutip dari Japan Today, Kementerian Kesehatan, Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Jepang mengambil tindakan dengan memberikan tunjangan kepada orangtua yang akan memiliki anak.
Adapun, tunjangannya ialah sebagai berikut:
· Pemerintah Jepang akan memberikan tunjangan sebesar Rp57 juta kepada perempuan yang baru melahirkan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi angka kelahiran akibat dari resesi seks. Yang mana resesi seks adalah kurangnya kepercayaan calon orangtua mendapatkan penghasilan yang cukup untuk membiayai anak dan keluarga.
· Sedangkan untuk orang tua baru di Jepang akan mendapatkan tunjangan kelahiran (childbirth and chilcare lum-sumgrant) sebesar 420.000 Yen atau setara dengan Rp48 juta begitu anak lahir.
· Cuti melahirkan bagi ibu yakni 14-20 minggu, kemudian ditambah dengan cuti mengurus anak hingga usia anaknya satu tahun. Dan juga akan diberikan tunjangan tambahan selain dari tunjangan melahirkan.
· Pemerintah Jepang juga memberikan tujangan bagi pengantin baru uang sebesar 600.000 Yen atau setara Rp84 juta. Tunjangan yang diberikan digunakan untuk membayar sewa dan biaya lain saat pengantin memulai hidup baru setelah menikah.
Baca Juga: 7 Destinasi Honeymoon Terbaik Di Indonesia, Pengantin Baru Wajib Tahu
Walaupun sudah diberikan tunjangan bagi pengantin baru, wanita melahirkan dan pasangan suami istri yang akan memiliki anak tetapi hal ini belum bisa menjadi solusi efektif untuk mengurangi angka kelahiran yang rendah di Jepang.
Kenapa demikian? karena hal ini disebabkan oleh tunjangan melahirkan yang diberikan, hampir setara dengan biaya persalinan, belum lagi biaya hidup setelah anak dewasa serta pertimbangan lain seperti biaya hidup yang tinggi kemudian gaya hidup yang terlalu terburu-buru serta pekerjaan dan karier yang membuat sebagian orang Jepang tetap tidak mau menikah dan berkeluarga. (Raodatuljanah)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 24 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 4Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 5Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 6Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 7Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Biaya Marketplace Makin Tinggi, Brand Lokal Mulai Mengandalkan Website Sendiri
- 9Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Pungli Dokumen Imigrasi
- 10KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah








