Akurat Logo

Panglima Jilah Soroti Karhutla Kalimantan: Peladang Dayak Jangan Jadi Kambing Hitam

Moehamad Dheny Permana | 30 Agustus 2026, 21:37 WIB
Panglima Jilah Soroti Karhutla Kalimantan: Peladang Dayak Jangan Jadi Kambing Hitam
Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.

AKURAT.CO Praktik berladang masyarakat adat Dayak kembali menjadi sorotan di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.

Pemimpin Besar Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR), Panglima Jilah, menyampaikan pandangannya tersebut setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.

Dalam pertemuan tersebut, Panglima Jilah mengaku membahas sejumlah persoalan di Kalimantan, termasuk karhutla yang kembali terjadi di sejumlah wilayah.

Ia menilai aktivitas berladang masyarakat adat tidak semestinya langsung dikaitkan sebagai penyebab kebakaran hutan.

Menurutnya, tradisi berladang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak selama ribuan tahun, jauh sebelum aktivitas perkebunan berkembang di Kalimantan.

"Sebelum adanya perkebunan ya, di Kalimantan itu sudah ada namanya berladang dari zaman dulu, ribuan tahun yang lalu bahkan. Dan tidak pernah kita melihat namanya kejadian-kejadian yang seperti ini," kata Panglima Jilah.

Panglima Jilah menjelaskan, masyarakat Dayak memiliki pola dalam membuka dan mengelola lahan yang menurutnya berbeda dengan pembukaan lahan untuk kepentingan perkebunan.

Salah satu perbedaannya, masyarakat adat disebut cenderung memilih lahan mineral untuk berladang dan menghindari kawasan gambut.

"Orang Dayak tidak berladang di lahan gambut. Gambut itu tebal asapnya, gambutnya tebal, 12 meter," ujarnya.

Ia menilai karakteristik lahan menjadi alasan masyarakat adat tidak memilih gambut sebagai lokasi berladang.

"Orang berladang tidak akan mungkin mau nanam padinya ke tempat yang gambut. Itu saja logikanya," kata Panglima Jilah.

Menurut dia, praktik berladang yang dilakukan secara turun-temurun juga memiliki mekanisme pengawasan.

Masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar disebut bertanggung jawab untuk memastikan api tidak merembet ke wilayah lain.

"Jadi kalau kita membakar di mana lahan ladang kita dibakar, di situlah kita yang akan monitoringnya," tuturnya.

Baca Juga: Hotspot Karhutla Melonjak di Kalimantan, BNPB Kerahkan Puluhan Ribu Personel dan 53 Pesawat

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.