Panglima Jilah Soroti Karhutla Kalimantan: Peladang Dayak Jangan Jadi Kambing Hitam

AKURAT.CO Praktik berladang masyarakat adat Dayak kembali menjadi sorotan di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Pemimpin Besar Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR), Panglima Jilah, menyampaikan pandangannya tersebut setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.
Dalam pertemuan tersebut, Panglima Jilah mengaku membahas sejumlah persoalan di Kalimantan, termasuk karhutla yang kembali terjadi di sejumlah wilayah.
Ia menilai aktivitas berladang masyarakat adat tidak semestinya langsung dikaitkan sebagai penyebab kebakaran hutan.
Menurutnya, tradisi berladang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak selama ribuan tahun, jauh sebelum aktivitas perkebunan berkembang di Kalimantan.
"Sebelum adanya perkebunan ya, di Kalimantan itu sudah ada namanya berladang dari zaman dulu, ribuan tahun yang lalu bahkan. Dan tidak pernah kita melihat namanya kejadian-kejadian yang seperti ini," kata Panglima Jilah.
Panglima Jilah menjelaskan, masyarakat Dayak memiliki pola dalam membuka dan mengelola lahan yang menurutnya berbeda dengan pembukaan lahan untuk kepentingan perkebunan.
Salah satu perbedaannya, masyarakat adat disebut cenderung memilih lahan mineral untuk berladang dan menghindari kawasan gambut.
"Orang Dayak tidak berladang di lahan gambut. Gambut itu tebal asapnya, gambutnya tebal, 12 meter," ujarnya.
Ia menilai karakteristik lahan menjadi alasan masyarakat adat tidak memilih gambut sebagai lokasi berladang.
"Orang berladang tidak akan mungkin mau nanam padinya ke tempat yang gambut. Itu saja logikanya," kata Panglima Jilah.
Menurut dia, praktik berladang yang dilakukan secara turun-temurun juga memiliki mekanisme pengawasan.
Masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar disebut bertanggung jawab untuk memastikan api tidak merembet ke wilayah lain.
"Jadi kalau kita membakar di mana lahan ladang kita dibakar, di situlah kita yang akan monitoringnya," tuturnya.
Baca Juga: Hotspot Karhutla Melonjak di Kalimantan, BNPB Kerahkan Puluhan Ribu Personel dan 53 Pesawat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









