Pemprov Jakarta Diimbau Terapkan Subsidi Lintas Daerah untuk Tarif Transjakarta

AKURAT.CO Rencana kenaikan tarif TransJakarta yang tengah digodok Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta menimbulkan perdebatan di ruang publik. Di balik isu tarif itu, tersimpan dilema klasik antara tanggung jawab fiskal daerah dan kebutuhan mobilitas warga di kawasan metropolitan Jabodetabek.
Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah, menilai wacana kenaikan tarif tersebut bukan sekadar soal ekonomi, melainkan juga berkaitan erat dengan keadilan sosial dan tata kelola subsidi lintas wilayah.
Dia menjelaskan, sebagian besar penumpang TransJakarta bukan hanya warga yang berdomisili dan membayar pajak di Jakarta. Banyak di antara mereka adalah pekerja yang datang dari wilayah penyangga seperti Bogor, Bekasi, dan Tangerang.
Baca Juga: Subsidi Tarif Transjakarta Terlalu Besar, Pengamat: Jangan Sampai Beban APBD Makin Berat
"Mereka bekerja di Jakarta, tapi pajaknya dibayar di daerah asalnya. Artinya, uang subsidi dari APBD DKI juga ikut menanggung warga di luar Jakarta. Itu yang jadi persoalan," kata Trubus saat dihubungi, Rabu (6/11/2025).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat beban subsidi transportasi publik di Jakarta semakin berat. Sementara itu, penerimaan daerah juga tengah menyusut akibat pemangkasan Dana Bagi Hasil (DBH) oleh pemerintah pusat yang disebut mencapai Rp15 triliun.
"Kalau subsidi terus-menerus hanya dari Jakarta, sementara dana Jakarta sendiri berkurang, itu berat. Karena operasional dan infrastruktur TransJakarta ditanggung oleh DKI, padahal yang menikmati juga masyarakat dari luar Jakarta," katanya.
Dia menilai, solusi yang lebih adil adalah dengan membangun mekanisme subsidi lintas daerah antara Pemprov Jakarta dengan pemerintah daerah di sekitar ibukota.
Baca Juga: Cara Daftar Kartu Pekerja Jakarta 2025: Bisa Naik MRT, LRT, dan Transjakarta Gratis!
"Idealnya Pemda lain ikut menanggung subsidi, minimal 30 sampai 40 persen. Bisa juga 50:50 tergantung kesepakatan. Jangan cuma modal omongan saja," tegas Trubus.
Baginya, konsep subsidi bersama ini tak sekadar soal angka, tetapi juga mencerminkan semangat kolaborasi antardaerah yang sudah seharusnya diwujudkan dalam kawasan megapolitan Jabodetabek.
"Jakarta ini bukan pulau sendiri. Warga dari luar ikut bekerja dan berkontribusi pada ekonomi Jakarta. Maka sudah sepantasnya beban transportasi publik ditanggung bersama," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 3Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 4ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 5Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 6Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 7Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 8Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 9Prabowo Pimpin Sidang DEN di Istana, Instruksikan Persiapan E50 untuk Perkuat Kemandirian Energi
- 10Terungkap di Sidang Korupsi Kuota Haji: Anak Buah Bos Maktour Setor USD10 Ribu ke Pejabat Kemenag








