Akurat Logo

Bagaimana Proses Penambangan Emas? Ini Tahapan dan 6 Dampaknya bagi Lingkungan

Putri Chandra | 30 Oktober 2026, 14:25 WIB
Bagaimana Proses Penambangan Emas? Ini Tahapan dan 6 Dampaknya bagi Lingkungan
Ilustrasi, Mengenal proses penambangan emas dan dampaknya - Magnific

AKURAT.CO Mengenal proses penambangan emas dan dampaknya bagi lingkungan yang sedang ramai dibicarakan masyarakat.

Emas merupakan salah satu logam mulia yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak dimanfaatkan sebagai perhiasan hingga instrumen investasi.

Namun, sebelum bisa digunakan, emas harus melalui proses penambangan dan pengolahan yang cukup panjang, mulai dari pencarian lokasi, penggalian batuan, hingga pemurnian.

Di balik proses tersebut, aktivitas penambangan emas juga berpotensi menimbulkan berbagai masalah lingkungan, seperti kerusakan hutan, pencemaran air dan tanah, hingga gangguan kesehatan masyarakat.

Lantas, bagaimana proses penambangan emas dan apa saja dampaknya bagi lingkungan?

Baca Juga: ESDM Pertimbangkan Stok Global dalam Penetapan Kuota Nikel 2027


Proses Penambangan Emas

Secara umum, proses penambangan emas terdiri dari beberapa tahapan berikut.

1. Eksplorasi dan pencarian lokasi

Tahap pertama adalah mencari lokasi yang memiliki kandungan emas. Perusahaan tambang biasanya melakukan survei geologi, pengambilan sampel batuan, pengeboran, dan analisis laboratorium untuk mengetahui jumlah serta kualitas kandungan emas.

2. Pembukaan lahan dan penggalian

Setelah lokasi dinyatakan memiliki potensi ekonomi, kegiatan penambangan dimulai. Ada dua metode yang umum digunakan:

  • Tambang terbuka (open pit mining), yaitu menggali permukaan tanah secara bertahap hingga mencapai lapisan batuan yang mengandung emas.

  • Tambang bawah tanah (underground mining), yaitu membuat terowongan dan lubang tambang untuk mengambil bijih emas dari dalam bumi.

3. Penghancuran dan penggilingan batuan

Batuan yang mengandung emas dibawa ke fasilitas pengolahan. Batuan tersebut dihancurkan dan digiling menjadi ukuran lebih kecil agar mineral emas lebih mudah dipisahkan dari material lainnya.

4. Pemisahan emas dari batuan

Pada tahap ini, emas dipisahkan menggunakan metode tertentu, seperti gravitasi, flotasi, atau pelindian (leaching).

Dalam industri pertambangan, salah satu bahan kimia yang digunakan untuk melarutkan emas dari bijih adalah sianida. Sementara itu, pada sebagian pertambangan emas skala kecil, masih ditemukan penggunaan merkuri atau air raksa.

Baca Juga: Benarkah Pembalut Wanita Kena Pajak 11 Persen? Ini Besaran PPN dan Penjelasannya

5. Pemurnian emas

Setelah berhasil dipisahkan, konsentrat atau material yang mengandung emas diproses lebih lanjut melalui peleburan dan pemurnian untuk menghasilkan emas dengan tingkat kemurnian tertentu.

6. Pengelolaan limbah dan penutupan tambang

Sisa pengolahan batuan disebut tailing. Limbah ini harus dikelola dengan sistem penyimpanan dan pengawasan yang aman. Setelah kegiatan tambang selesai, perusahaan juga perlu melakukan reklamasi dan pemulihan lahan.


Dampak Penambangan Emas bagi Lingkungan

1. Kerusakan Hutan dan Deforestasi

Penambangan emas membutuhkan lahan yang cukup luas untuk kegiatan penggalian, pembangunan jalan tambang, dan tempat pengolahan batuan. Akibatnya, banyak pepohonan dan tumbuhan harus ditebang untuk membuka area pertambangan.

Kondisi ini dapat menyebabkan hutan kehilangan fungsi alaminya sebagai tempat tinggal berbagai jenis satwa. Hewan yang sebelumnya hidup di kawasan tersebut bisa kehilangan habitat dan terpaksa berpindah ke tempat lain.

2. Pencemaran Air akibat Penggunaan Bahan Kimia

Proses pengolahan emas terkadang menggunakan bahan kimia berbahaya, seperti merkuri dan sianida, untuk membantu memisahkan emas dari batuan.

Merkuri atau air raksa biasanya digunakan untuk mengikat partikel emas melalui proses amalgamasi. Jika limbahnya dibuang sembarangan, merkuri dapat mencemari air, tanah, dan udara.

Zat ini juga dapat berubah menjadi metilmerkuri yang berbahaya dan masuk ke dalam rantai makanan melalui ikan atau organisme air lainnya.

Sementara itu, sianida digunakan untuk melarutkan emas dari bijih melalui proses pelindian. Apabila penggunaannya tidak diawasi dan limbahnya tidak diolah dengan benar, zat ini dapat meracuni organisme perairan serta membahayakan manusia.

3. Pencemaran dan Penurunan Kualitas Tanah

Aktivitas penambangan emas juga dapat merusak kondisi tanah. Proses penggalian, pemindahan batuan, dan penumpukan sisa material tambang bisa mengubah struktur tanah yang sebelumnya alami.

Selain itu, limbah pertambangan yang mengandung logam berat berpotensi mencemari tanah dan mengurangi tingkat kesuburannya.

Tanah yang sudah tercemar atau mengalami kerusakan akan menjadi kurang baik untuk pertumbuhan tanaman. Dampaknya, lahan pertanian di sekitar pertambangan bisa kehilangan produktivitas dan sulit dimanfaatkan kembali.

4. Kerusakan Ekosistem Sungai

Penambangan emas yang dilakukan di sekitar sungai atau langsung di aliran sungai dapat menyebabkan peningkatan endapan tanah dan lumpur. Kondisi tersebut membuat air berubah menjadi keruh akibat banyaknya material hasil penggalian yang terbawa arus.

Air yang terlalu keruh dapat menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam sungai. Padahal, cahaya matahari dibutuhkan oleh tumbuhan air untuk melakukan fotosintesis.

Jika kondisi ini terus berlangsung, keseimbangan ekosistem sungai dapat terganggu. Ikan dan organisme air lainnya berisiko kehilangan habitat, mengalami gangguan pertumbuhan, bahkan mengalami kematian akibat menurunnya kualitas air.

5. Meningkatkan Risiko Erosi dan Tanah Longsor

Penggalian tanah dan batuan dalam jumlah besar dapat mengubah bentuk serta kestabilan permukaan tanah. Jika kegiatan tersebut tidak disertai pengelolaan lereng dan sistem saluran air yang baik, kawasan pertambangan lebih rentan mengalami erosi dan tanah longsor.

Risiko ini semakin besar ketika hujan deras mengguyur area pertambangan. Air hujan dapat mengikis tanah yang sudah kehilangan vegetasi sehingga material tanah dan batuan lebih mudah bergerak atau runtuh.

6. Mengganggu Kesehatan Masyarakat

Dampak penambangan emas tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga dapat mengancam kesehatan masyarakat, terutama mereka yang tinggal atau beraktivitas di sekitar lokasi tambang.

Salah satu bahayanya berasal dari paparan merkuri. Zat beracun ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan, air, maupun udara yang tercemar. Paparan merkuri dalam jumlah tertentu dapat merusak sistem saraf, mengganggu perkembangan otak, dan menyebabkan gangguan pada ginjal.

Proses penghancuran dan penggilingan batuan di area tambang juga menghasilkan debu yang mengandung silika. Jika debu tersebut terhirup terus-menerus dalam jangka panjang, seseorang berisiko mengalami penyakit paru-paru, seperti silikosis.


FAQ

1. Bagaimana proses penambangan emas dilakukan?

Proses penambangan emas dimulai dari eksplorasi atau pencarian lokasi yang memiliki kandungan emas. Selanjutnya dilakukan pembukaan lahan, penggalian, penghancuran batuan, pemisahan emas, pemurnian, serta pengelolaan limbah tambang.

2. Apa saja metode penambangan emas?

Secara umum, terdapat dua metode penambangan emas yang banyak digunakan, yaitu tambang terbuka (open pit mining) dan tambang bawah tanah (underground mining).

3. Bahan kimia apa yang digunakan untuk menambang emas?

Beberapa bahan yang digunakan dalam pengolahan emas adalah merkuri dan sianida. Merkuri digunakan dalam proses amalgamasi, sedangkan sianida digunakan untuk melarutkan emas melalui proses pelindian.

4. Apa dampak penambangan emas bagi lingkungan?

Penambangan emas dapat menyebabkan kerusakan hutan, pencemaran air dan tanah, kerusakan ekosistem sungai, erosi, tanah longsor, serta gangguan kesehatan masyarakat.

5. Mengapa penambangan emas dapat mencemari air?

Penggunaan bahan kimia seperti merkuri dan sianida serta pembuangan limbah tambang yang tidak dikelola dengan baik dapat mencemari sumber air dan mengganggu kehidupan organisme perairan.


Kesimpulan

Proses penambangan emas terdiri dari beberapa tahapan, mulai dari eksplorasi lokasi, pembukaan lahan, penggalian, penghancuran batuan, pemisahan emas, hingga pemurnian dan pengelolaan limbah.

Meski memberikan manfaat ekonomi, aktivitas penambangan emas juga memiliki risiko terhadap kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Beberapa dampaknya meliputi deforestasi, pencemaran air dan tanah, kerusakan ekosistem sungai, erosi, tanah longsor, serta gangguan kesehatan akibat paparan bahan kimia berbahaya.

Oleh karena itu, kegiatan pertambangan perlu dilakukan dengan memperhatikan standar keselamatan dan lingkungan, termasuk pengelolaan limbah serta pemulihan lahan setelah kegiatan tambang selesai.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.