Akurat Logo

Harga Minyak Tembus USD100, Mendag Soroti Defisit Migas RI

Esha Tri Wahyuni | 22 September 2026, 18:45 WIB
Harga Minyak Tembus USD100, Mendag Soroti Defisit Migas RI
Menteri Perdagangan, Budi Santoso - AKURAT.CO/Esha Tri Wahyuni

AKURAT.CO Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, menyoroti risiko kenaikan harga minyak dunia terhadap neraca perdagangan Indonesia.

Pemerintah ingin surplus dari sektor nonminyak dan gas (migas) terus diperkuat agar mampu menopang defisit perdagangan dari sektor migas.

Budi mengatakan penguatan ekspor nonmigas menjadi penting di tengah pergerakan harga minyak dunia yang masih tinggi. Pasalnya, Indonesia masih mencatat defisit pada sektor migas, sementara surplus nonmigas menjadi penopang utama neraca perdagangan.

Baca Juga: Tokopedia dan TikTok Shop Jadi Platform Digital Pertama yang Tampilkan Produk Lokal Kurasi Kemendag Lewat #BeliLokal

“Memang kemarin sempat harga minyak naik lagi, seperti pada bulan April dan Mei kalau tidak salah. Ya, harapan kita, yang kita lakukan adalah bagaimana ekspor kita terus meningkat, karena jangan sampai defisit minyak ini nanti mempengaruhi surplus dari (komoditas) nonmigas,” kata Budi di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

“Jadi yang migas jangan terlalu besar defisitnya, sehingga surplus ini bisa kita tingkatkan,” sambungnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai USD167,03 miliar. Angka tersebut tumbuh 4,43% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja ekspor tersebut terutama ditopang sektor nonmigas. Nilai ekspor nonmigas pada periode tersebut mencapai USD160,01 miliar atau tumbuh 5,21% secara tahunan.

Namun, peningkatan ekspor belum sepenuhnya tercermin pada besarnya surplus perdagangan. BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Juli 2026 hanya surplus USD3,70 miliar.

Baca Juga: Kemendag Bidik Investasi Baru Lewat Perluasan Pasar Ekspor

Surplus tersebut berasal dari sektor nonmigas yang mencatat surplus USD22,45 miliar. Pada saat yang sama, sektor migas masih mengalami defisit sebesar USD18,75 miliar.

Dengan demikian, besarnya surplus nonmigas masih harus menutup defisit dari perdagangan migas. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian pemerintah ketika harga minyak dunia kembali bergerak di sekitar USD100 per barel.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.