Koalisi Kepentingan Jadi Ancaman Efektivitas Kebijakan Negara, Kok Bisa?

AKURAT.CO Berbagai program pemerintah yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kerap berakhir jauh dari tujuan awalnya.
Alih-alih memberikan manfaat maksimal kepada publik, sebagian program justru berubah menjadi ladang perburuan rente bagi kelompok tertentu.
Merespon hal tersebut, Ekonom Senior Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, mengatakan fenomena tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga menjadi persoalan klasik di banyak negara berkembang.
Baca Juga: Dasco Minta Kepala Desa dan BPD Perkuat Sinergi Kawal Program Pemerintah
Menurut Didik, hampir seluruh kebijakan publik lahir dengan tujuan yang mulia, mulai dari pengentasan kemiskinan, pembangunan infrastruktur, penguatan ekonomi desa, hingga peningkatan kualitas pendidikan.
"Namun dalam praktiknya, sebagian program justru menjadi sumber korupsi, pemborosan, dan perburuan rente," ujar Didik dalam keterangan yang diterima AKURAT.CO, Selasa (9/6/2026).
Data menunjukkan persoalan tersebut masih menjadi tantangan besar.
Berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi (Corruption Perceptions Index/CPI) 2024 yang diterbitkan oleh Transparency International, Indonesia memperoleh skor 37 dari 100 dan berada di peringkat 99 dunia. Skor tersebut masih berada di bawah rata-rata global yang mencapai 43.
Didik menjelaskan, masalah muncul ketika negara mengendalikan sumber daya ekonomi dalam jumlah besar.
Dalam kondisi tersebut, kebijakan publik menjadi objek perebutan berbagai kelompok kepentingan yang ingin memperoleh keuntungan tanpa harus meningkatkan produktivitas.
Fenomena itu dijelaskan oleh ekonom peraih Nobel, Mancur Olson, melalui teori distributional coalition atau koalisi distribusional.
Dalam teori tersebut, kelompok-kelompok kecil yang terorganisasi memiliki kemampuan lebih besar untuk memengaruhi kebijakan dibanding masyarakat luas yang kepentingannya tersebar.
"Kelompok kepentingan akan berusaha memperoleh keuntungan melalui kedekatan dengan kekuasaan, bukan melalui inovasi, produktivitas, dan kerja keras," kata Didik.
Baca Juga: Puan: DPR Dukung Semua Program Pemerintah Selama untuk Kesejahteraan Rakyat
Menurut dia, ketika kebijakan mulai didominasi kepentingan kelompok tertentu, maka insentif ekonomi yang terbentuk bukan lagi mendorong produksi, melainkan membuka ruang rente.
Akibatnya, efektivitas program menurun, efisiensi ekonomi melemah, dan manfaat yang seharusnya dinikmati masyarakat luas terkonsentrasi hanya pada sebagian kecil pihak yang memiliki akses terhadap pusat kekuasaan.
Didik menilai perbaikan tata kelola menjadi faktor kunci untuk mencegah terulangnya kondisi tersebut.
"Solusi utama bukan hanya mengganti orang atau menghukum pelaku korupsi, tetapi membangun institusi yang membuat korupsi sulit dilakukan dan transparansi menjadi budaya," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Unggah Video Veda Ega Pratama Salip David Munoz, Akun Resmi MotoGP 'Diserbu' Netizen
- 2Kalender Jawa 19 September 2026: Watak Weton Sabtu Wage, Setia dan Berpendirian Kuat
- 3Soal Dualitas Alumni Universitas Trisakti, Menteri Maman: Hanya Ada Satu Ikatan yakni IKA Trisakti
- 4Kalender Jawa 21 September 2026: Watak Weton Senin Legi, Sopan dan Mudah Bergaul
- 5Komposisi Pemain Asing Persija Belum Penuh, Manajer Minta Soal Skuad Percayakan ke Shin Tae-yong
- 6Cuaca Hari Ini 19 September 2026: BMKG Peringatkan Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah
- 7Jose Mourinho Tunjukkan Gambar Pelanggaran, Babak Baru Perang Real Madrid dan Wasit?
- 8Asian Games: Pebulutangkis Juara Dunia Junior Thailand Dinyatakan Positif Doping
- 9OTT Lagi, KPK Amankan Bupati Bolaang Mongondow Utara Bersama 13 Orang Lainnya
- 10Sidang Sudewo Ricuh, KPK Tegaskan Tuntutan Disusun Berdasarkan Fakta







