Adopsi Kompor Listrik dan Kendaraan Listrik di Tengah Perang AS-Iran Perkuat Ketahanan Energi RI

AKURAT.CO Anggota Dewan Energi Nasional (DEN,) Kholid Syeirazi menilai percepatan penggunaan kompor listrik dan kendaraan listrik menjadi bagian penting dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Selama ini RI masih banyak mengimpor BBM dan LPG. Dalam situasi pasar normal mungkin tak akan terlalu terasa, tetapi ketika terjadi krisis geopolitik, harga bisa melonjak dan pasokan tersendat.
"Karena itu kita perlu memperkuat alternatif energi yang bersumber dari dalam negeri, salah satunya kompor listrik dan kendaraan listrik," kata Kholid di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Baca Juga: Perang AS-Iran, Wamentan: Cadangan Beras Cukup Untuk 324 Hari
Ia menjelaskan, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) membuat sistem energi nasional rentan terhadap gejolak pasar global, terutama ketika terjadi konflik geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan dan memicu lonjakan harga energi.
Menurut Kholid, salah satu arah kebijakan energi ke depan adalah mendorong elektrifikasi di berbagai sektor, mulai dari rumah tangga hingga transportasi.
“Transisi energi pada akhirnya mengarah pada elektrifikasi. Kendaraan bermotor secara bertahap akan beralih dari BBM ke listrik, sementara kebutuhan energi rumah tangga seperti memasak juga didorong menggunakan listrik melalui kompor listrik,” ujarnya.
Selain mengurangi ketergantungan terhadap impor energi, langkah tersebut juga dinilai sejalan dengan upaya diversifikasi energi sekaligus pemanfaatan potensi energi baru terbarukan yang dimiliki Indonesia.
“Kita punya potensi energi terbarukan yang besar seperti surya, angin, biofuel, dan sumber energi nabati lainnya. Itu yang ke depan menjadi bagian dari bauran energi sehingga target pengurangan emisi dan kemandirian energi bisa berjalan bersamaan,” katanya.
Dari sisi sistem kelistrikan, Kholid menilai kapasitas listrik nasional masih cukup untuk menopang peningkatan kebutuhan listrik dari proses elektrifikasi tersebut. Ia menyebut konsumsi listrik Indonesia saat ini masih relatif rendah dibandingkan negara maju.
“Konsumsi listrik kita rata-rata sekitar 1.400 kWh per kapita per tahun, masih jauh di bawah negara maju yang bisa mencapai lebih dari 10.000 kWh per kapita. Dengan adopsi kompor listrik dan kendaraan listrik, konsumsi listrik akan meningkat, dan dari sisi sistem, ketahanan energi di sektor listrik juga mencukupi,” tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon









