Jusuf Kalla Dorong Hak Angket Segera Digulirkan: Apa yang Dilanggar Harus Diklarifikasi

AKURAT.CO Wakil Presiden RI ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (JK), menilai Pemilu 2024 berjalan tidak baik, karena pemilu saat ini diatur oleh orang-orang yang berkuasa di pemerintahan.
Untuk itu, dia mendorong agar hak angket segera digulirkan untuk mengungkap kecurangan pemilu dengan cara yang benar dan konstitusional.
Baca Juga: Nasdem dan PPP Bungkam Soal Hak Angket di Paripurna DPR, Berubah Haluan?
"Karena apabila tidak konstitusional maka akan diselesaikan jalanan, demonstrasi di seluruh Indonesia, itu menyebabkan kita mundur lagi. Dan salah satu konstitusional yaitu di parlemen dan sekarang ini contohnya hak angket, atau apapun pansus," kata JK, di Gedung FISIP UI, Depok, Jawa Barat, Kamis (7/3/2024).
Dengan adanya hak angket, semua dugaan kecurangan bisa diklarifikasi, benar salahnya masalah-masalah yang muncul dalam pemilu. Sehingga, masalah yang ada tidak berlarut dan negara bisa berjalan sesuai konstitusi.
"Apa yang dibicarakan nanti kritikan dari DPR itu kan menguji, atau menyelidiki masalah-masalah kebijakan pemerintah yang melanggar Undang-Undang. Apa yang melanggar itu mari kita klarifikasi," jelasnya.
"Dibutuhkan suatu peranan kita semua untuk masuk kembali ke jalan konstitusi, dan saat ini tadi itu lewat parlemen. Supaya negeri ini tidak kembali ke penyelesaian seperti tahun 98, itu juga penyelesaian tapi terlalu banyak ongkosnya," pungkas JK.
Sebelumnya, Jusuf Kalla (JK), menilai Pemilu 2024 paling buruk sejak tahun 1955. Di mana menurutnya pemilu diatur oleh orang-orang yang berkuasa di pemerintahan.
Baca Juga: Rapat Paripurna DPR Buktikan Kubu 01 dan 03 Belum Solid Soal Hak Angket
"Bagi saya, saya pernah mengatakan ini adalah pemilu yang terburuk dalam sejarah pemilu Indonesia sejak '55. Artinya adalah demokrasi pemilu yang kemudian diatur oleh minoritas, artinya orang yang mampu, orang pemerintahan, orang-orang yang punya uang," kata JK dalam sambutannya, di Gedung FISIP UI, Depok, Jawa Barat, Kamis (7/3/2024).
Dalam diskusi bersama mahasiswa FISIP Universitas Indonesia (UI), JK awalnya bercerita tentang demokrasi yang memiliki banyak jenisnya, seperti demokrasi terpimpin, pancasila, dan lain sebagainya. Saat ini Indonesia menerapkan demokrasi terbuka, dan baru saja melaksanakan pemilu yang dinilai perlu dievaluasi.
"Nah sekarang kita baru saja melewati suatu cara pemerintahan demokratis dengan pemilu ini, yang bagi kita, banyak pihak yang menilai ya ini perlu dikoreksi, perlu dievaluasi," imbuhnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 2Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 3Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 7Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 8Kalender Jawa 23 September 2026: Watak Weton Rabu Pon Dikenal Cerdas dan Mudah Bergaul
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK





