Anies Baswedan Dilaporkan ke Bawaslu, Akronim AMIN Dinilai Bermuatan SARA

AKURAT.CO Sekelompok Mahasiswa yang menamakan diri Liga Demokrasi Mahasiswa atau LIDEMA melaporkan Calon Presiden nomor urut 1 yaitu Anies Baswedan ke Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu.
LIDEMA menilai pemilihan akronim AMIN yang merupakan singkatan dari Anies Muhaimin bermuatan SARA yang dalam perkembangannya membuat polemik di masyarakat sehingga membuat pihaknya melaporkan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.
"Seharusnya kalimat AMIN itu kaliamt suci untuk semua agama apapaun tapi oleh paslon nomor urut 1 digunakan untuk mendapat simpati mendapatkan suara dengan dugaan sementara penistaan agama," ujar Dwi Ramdhani Kooordinator LIDEMA kepada wartawan pada Rabu, (27/12) di Kantor Pusat Bawaslu, Thamrin Jakarta Pusat.
Untuk itu LIDEMA telah menyiapkan sejumlah berkas-berkas terkait pelaporan Anies Baswedan ke Bawaslu.
Baca Juga: Komentari Candaan Soal Kata Amin, Ketum MUI: Jangan Terprovokasi
"Kita sudah membawa satu berkas berupa laporan penghinaan agama oleh Anies Baswedan dan rilis media supaya mahasiswa dan masyarakat berharap agar Pemilu 2024 kali ini berlangsung aman dan damai, namun dengan peristiwa ini kami menilai pemilu digunakan untuk kepentingan pribadi," pungkasnya.
Sebelumnya dalam rilisnya LIDEMA - Indonesia menilai bahwa paslon Anies Baswedan sengaja menjadikan ini sebagai motif dan modus untuk memenangkan pilpres. Ini adalah perbuatan melanggar hukum dimana peserta pemilu membawa-bawa ajaran agama di dalam kontestasi yang ada.
Hal Ini bertentangan dengan ketentuan Pasal 280 ayat (1) UU No. 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, khususnya yang berkenaan dengan SARA.
Berdasarkan hal tersebut, LIDEMA - Indonesia melaporkan hal ini kepada Bawaslu RI. Kami menuntut agar hal ini diproses sesuai dengan aturan yang ada. Jika benar melanggar, maka paslon ini harus didiskualifikasi dari kontestasi pilpres yang berlangsung.
"Gara-gara penggunaan akronim 'AMIN' ini, muncul potensi konflik sosial di masyarakat. Terbukti, ada anggota masyarakat dan para ustad yang saling sindir pakai kata ini. Akibatnya, muncul sikap saling curiga yang berujung pada saling lapor. Ini tidak baik bagi semua," tuturnya.
LIDEMA - Indonesia menginginkan pemilu dilaksanakan secara jurdil, luber, tertib, tentram, dan bermartabat.
Bawaslu sebagai lembaga pengawas harus tegas untuk menindak yang melanggar. Tidak boleh ada satu pelanggaran pun yang ditolerir. Kualitas demokrasi Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas pengawasan yang dilakukan Bawaslu RI.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Trump Akui AS Kembali Serang Iran, Sistem Pertahanan Udara Dihancurkan dalam Hitungan Menit
- 2Moto3 Qatar, Hiroshi Aoyama Terima Penalti Veda Ega Pratama, Tegaskan 'Feeling' Pembalap Bagus
- 3Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 4Kalender Jawa 6 November 2026: Weton Jumat Pahing, Wataknya Dikenal Gigih dan Ambisius
- 5Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 6KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 7Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar








